Sepak Terjang Dan Alasan Sudirman Said Layak Maju Jateng Satu

Ketelitian, kedisiplinan dan sikap anti terhadap korupsi yang dimanifestasikan dalam sepak terjangnya selama jadi Menteri ESDM, jadi alasan Sudirman layak menuju Jateng Satu.

Sepak Terjang Dan Alasan Sudirman Said Layak Maju Jateng Satu
Infografik sepak terjang Sudirman Said. (Foto: inibaru.id)
639
View
Komentar

Inibaru.id - Siapa tak kenal Sudirman Said? Ya, salah seorang tokoh inspiratif masa kini Indonesia yang memiliki jiwa berani dan disiplin yang tinggi. Selain itu, ia juga sekaligus seorang sosok yang aktif dalam upaya pemberantasan korupsi. Sehingga banyak orang menyebut sosok satu ini sebagai tokoh anti korupsi.

Keberanian dan kedisiplinan yang dimiliki, mengantarkan pria kelahiran Brebes, 16 April 1963 ini menemani Joko Widodo dalam kabinet kerja periode 2014-2016 lalu. Tak main-main, posisi yang di tempati oleh pria berkaca mata ini adalah sebagai Menteri Energi dan Sumber Data Alam (ESDM). Membanggakan bukan?

Pencapaian Sudirman hingga saat ini tentu saja bukan tanpa perjuangan. Lahir dari keluarga yang kurang mampu, mengajarkan Sudirman tentang arti kerja keras.  Ayahnya, Said Suwito Harsono memang merupakan seorang kepala sekolah yang sebenarnya memiliki kedudukan sosial terhormat. Namun karena kebiasaan hidup ayahnya yang kurang baik, ekonomi keluarga Sudirman jadi morat-marit.

Diusianya yang masih 10 tahun ia harus menerima kenyataan, bahwa ayahnya telah meninggal. Melihat ekonomi keluarganya yang kian tak menentu, pria enam bersaudara ini akhirnya terpaksa keluar dari rumah dan tinggal menumpang di tempat saudaranya. 

Baca juga: Sudirman Said: Pilkada Bukan Ajang Para Kandidat tapi Hajat Rakyat

Untungnya, Sudirman merupakan anak yang berprestasi di kelas. Sehingga, dari SD hingga SMA ia selalu mendapatkan beasiswa pendidikan. Setelah merampungkan pendidikannya di SMA, Sudirman berharap bisa melanjutkan studinya di pendidikan tinggi. Namun, lagi-lagi karena alasan keuangan, sementara Sudirman harus mengubur niatnya tersebut.

Berbekal keuletan dan dukungan keluarganya, akhirnya mimpi Sudirman untuk masuk di perguruan tinggi terwujud. Ia melanjutkan studinya di STAN. Usai lulus STAN dia bekerja sebentar kemudian melanjutkan studinya di Master Bidang Administrasi Bisnis dari George Washington University, Washington, DC, Amerika Serikat.

Dari pendidikannya inilah Sudirman Said dipercaya kerja di PT Pertamina, lalu pada 2013 di PT Petrosea salah satu perusahaan pertambangan di bawah kelompok Indika Energy Group, hingga kemudian dipercaya Menteri BUMN saat itu Dahlan Iskan untuk pegang kendali di PT Pindad (Persero).

Nah, yang paling membanggakan, ia dilirik presiden Joko Widodo untuk bergabung dikabinetnya dengan posisi sebagai Menteri ESDM pada periode 2014-2016. Berdasarkan pengalaman hidup dan segudang prestasi yang ia raih, menjadi alasan mengapa Sudirman Said layak untuk maju di Jateng 1 pada 2018 mendatang.

Sepak terjang

Selain torehan prestasi di atas, sepak terjang Sudirman Said kala menjabat sebagai Menteri EDSM juga patut diacungi jempol. Pasalnya, selama menjabat, Sudirman berhasil mengungkap berbagai persoalan terkait sektor energi dan pertambangan.

Misalnya pada 2015 lalu, Sudirman berhasil menghentikan investor gas bumi yang nakal. Kemudian, membuka peluang bagi pelaku usaha lain yang serius di sektor tersebut. Hal tersebut ia lakukan melihat berbagai proyek yang mangkir karena pemodal nakal hanya berbekal lembaran kertas tebal dan tidak pernah merealisasikan proyeknya tersebut. Langkah yang diambil Sudirman selanjutnya yakni membentuk badan penyangga gas bumi atau agregator gas untuk memangkas rantai distribusi.

Baca juga: Ini Dia “Uneg-uneg” Warga Jateng pada Sudirman Said Demi Kemajuan Jateng

Masih di tahun 2015, Sudirman juga berhasil membongkar skandal mafia Pertamina Energy Trading (Petral), anak usaha PT Pertamina dibidang minyak di Singapura. Adanya ikut campur dari pihak ketiga dalam mengatur tender, memunculkan harga hasil perhitungan sendiri, menggunakan instrumen karyawan dan lain sebagainya, membuat Sudirman geram dan mengambil sikap melikuidasi Petral. Langkah pertama yang dilakukan yakni dengan tidak memberi harga optimal saat Petral melakukan pengadaan minyal dan jual beli produk BBM.

Selain dua di atas, terkait dengan kasus Freeport, Sudirman juga melakukan langkah yang mengundang decak kagum. Sudirman yang masih menjabat sebagai Menteri ESDM kala itu, melaporkan adanya kejanggalan yang melibatkan Ketua DPR, Setya Novanto. Praktik pencaloan perpanjangan PT. Freeport Indonesia ini juga mencatut nama presiden RI, Joko Widowo dan wakil presiden Yusuf Kalla.

Terakhir, Sudirman Said juga berhasil menertibkan tambang timah ilegal yang dikelola di Provinsi Bangka Belitung. Banyaknya tambang timah rakyat yang tidak memiliki syarat legal, lingkungan maupun teknis menjadikan pertambangan di Babel semrawut. 

Dua tahun merupakan waktu singkat untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah seperti di atas. Namun, sosok tegas, berani, disiplin dan berprinsip bersih dari korupsi meringankan Sudirman Said mengerjakan perkerjaan berat semacam itu. Sehingga, dari beberapa hal ini menguatkan alasan tokoh anti korupsi, Sudirman Said layak untuk bertarung di Jateng Satu nanti. (NA/IP)