Seni Mural Sebagai Bentuk Perlawanan, Benarkah?

Seni Mural Sebagai Bentuk Perlawanan, Benarkah?
Mural sebagai bentuk perlawanan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Mural dan grafiti sering disebut sebagai jenis seni jalanan yang muncul sebagai bentuk perlawanan. Benarkah demikian?

Inibaru.id - Mural dan grafiti adalah seni jalanan yang hampir serupa. Karena bentuk yang hampir sama tersebut membuat beberapa orang masih bingung mengenai perbedaannya. Rudy Murdock, perupa asal Semarang mendefinisikan kedua seni tembok tersebut.

Menurut Rudy, mural jelas berbeda dengan grafiti. Secara teknis, baik itu bentuk, cara menggambar serta tujuannya. Mural lebih bermuatan pesan.

“Harus ada pesan yang disampaikan kalau mural,” beber Rudy saat menjadi salah seorang juri lomba mural yang diadakan Bank Indonesia.

Salah satu penggambar mural pada lomba mural yang diselengarakan oleh Bank Indonesia Jawa Tengah, Sabtu (14/3). (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Salah satu penggambar mural pada lomba mural yang diselengarakan oleh Bank Indonesia Jawa Tengah, Sabtu (14/3). (Inibaru.id/ Audrian F)

Soal mana yang lebih nyeni, Rudy menganggap keduanya nggak berbeda.

“Ah, sebetulnya sama saja. Kedua gambar itu seni. Kalau dari segi mengotori ya mengotori. Kalau seni, ya kedua-duanya seni. Cuma pengungkapannya saja yang berbeda. Teman-teman saya juga kalau dalam menggambar mural masih mencari adrenalin yang sama dengan anak grafiti,” ujarnya.

Mural dan grafiti memiliki medium yang sama, namun teknis dan tujunannya berbeda. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Mural dan grafiti memiliki medium yang sama, namun teknis dan tujunannya berbeda. (Inibaru.id/ Audrian F)

Lebih jauh dari itu, menurut Rudy Murdock, mural adalah simbol perlawanan. Puluhan tahun yang lalu sebelum kemunculan mural. Orang-orang masih menggambar dengan kanvas atau linen. Akhirnya untuk mendobrak beberapa seniman menggambar di tembok.

“Mural melawan tatanan melukis konvensional pada waktu itu. Gambar di kanvas dan linen, ah sudah biasa. Coba menggambar di tembok,” kata Rudy.

Setelah itu sekitar tahun 1800-an, mural menjadi sebuah cabang seni yang estetis. Para seniman mural mulai digambar di dinding-dinding gedung yang bersejarah seperti gereja. Lukisan di kubahnya merupakan bukti mural.

“Sejalan dengan itu, mural sudah digunakan oleh artis dunia, seperti Leonardo Da Vinci salah satunya,” pungkas Rudy.

Pengetahuan akan melukis di tembok lambat laun menjadi bernilai tinggi setara dengan seni gambar yang lain. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Pengetahuan akan melukis di tembok lambat laun menjadi bernilai tinggi setara dengan seni gambar yang lain. (Inibaru.id/ Audrian F)

Artis lain yang moncer sebagai seniman mural adalah Michelangelo. Pelukis dari Italia tersebut jejak karyanya masih ada hingga bertahun-tahun lamanya. Kamu bisa melihat lukisannya di kubah Kapel Sistina. Machealangelo melukis setelah mendapat restu dari Paus Yulius II.

“Pengetahuan akan medium lukis di tembok ternyata menjadi seni yang bernilai tinggi. Hal itu sekaligus menaikkan level Michelangelo sebagai seniman. Kalau sebelumnya dia jadi pematung, pujangga, dan arsitek, kali ini dia juga ditambah bisa melukis di tembok,” jelas Rudy.

Hm jadi begitu ya, Millens. Kamu tertarik ke dunia seni mural seperti Michaelangelo juga nggak? (Audrian F/E05)