Seminar Nasional MPR-RI: Jangan Kalah Karena Pandemi, Saatnya Bikin Bisnis Sendiri!

Seminar Nasional MPR-RI: Jangan Kalah Karena Pandemi, Saatnya Bikin Bisnis Sendiri!
Seminar Nasional MPR-RI "Santri Go Preneur". (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Pandemi memang menumbangkan ekonomi semua orang. Namun, menjadi anak muda harus bisa membaca peluang. Inilah yang diulas dalam Seminar Nasional (Semnas) MPR-RI bekerja sama dengan Yayasan Santrendelik yang berlangsung di Semarang, 19 November 2020.

Inibaru.id - Pandemi Covid-19 begitu berdampak pada perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Namun, bencana ini seharusnya nggak membuat anak muda menyerah. Ini justru menjadi momentum untuk bangkit dan memanfaatkan semua peluang.

Inilah yang disampaikan Wakil Ketua MPR-RI Lestari Moerdijat dalam Seminar Nasional MPR-RI "Santri-Go-Preneur". Bekerja sama dengan Yayasan Santrendelik Semarang, acara yang sangat menerapkan protokol kesehatan itu digelar di UTC Convention Hotel Semarang, Kamis (19/11/2020). 

Sebagai bagian dari pemerintahan, Rerie, sapaan akrabnya, mengaku tahu betul kondisi masyarakat Indonesia, khususnya di sektor perekonomian. Menurutnya, kondisi global sudah berubah total. Bahkan, kondisi ini nggak akan bisa langsung kembali seperti semula.

Para pembicara dalam Seminar Nasional MPR-RI. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Para pembicara dalam Seminar Nasional MPR-RI. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Karena itulah, dia berharap, generasi muda mampu bangkit mencari permasalahan di masyarakat, menciptakan solusi, lalu membuat rencana bisnis.

“Yang akan dilihat setelah ini adalah integritas, bukan lagi portofolio bisnis,” tegasnya via telekonferensi di hadapan 200-an peserta, yang terdiri atas para pelaku usaha, mahasiswa, dan anggota dari sejumlah komunitas di Kota Semarang, yang sebagian di antaranya adalah para "santri" di Santrendelik.

Oh ya, Santrendelik adalah semacam komunitas "pesantren" di Kota Semarang yang sebagian besar diikuti anak muda. Sebelum pandemi, Santrendelik menggelar kajian rutin  bertajuk Nongkrong Tobat saban Kamis. Namun, belakangan kajian tersebut dipindah daring via Zoom dan Youtube.

Saatnya Menciptakan Peluang

Ikhwan Syaefulloh memberikan materi soal branding. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)<br>
Ikhwan Syaefulloh memberikan materi soal branding. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Dalam diskusi yang berlangsung mulai pukul 13.30 WIB tersebut, pemaparan Rerie menjadi pemantik dari diskusi yang juga menghadirkan tiga narasumber lain, yakni pendiri Santrendelik Ikhwan Syaefulloh, Ketua Yayasan Santrendelik Hendi Wijanarko, dan pengisi tetap Nongkrong Tobat cum Dosen UIN Walisongo Semarang Prof Fakhrudin Aziz.

Ikhwan, yang juga dikenal sebagai pemilik sejumlah usaha di Jawa Tengah, dalam diskusi lebih banyak mengulas tentang branding bisnis yang memang menjadi keahliannya. Dia mencoba mendorong para peserta agar menolak kalah dari pandemi dengan menciptakan peluang usaha sendiri.

Melalui materi "Rukun Branding", dia pun kemudian menuturkan sejumlah kiat dan cara mengatur strategi untuk mendirikan suatu usaha.

“Membeli secara rasional, menjual secara emosional!” tutur Ikhwan, yang mengandung pengertian, sebuah usaha harus dibuat secara rasional, tapi dijual dengan melibatkan unsur emosional pembelinya. “Setiap produk pasti ada jodohnya. Nggak perlu khawatir!”

Hendi Wijanarko menuturkan pengalamannya tentang dunia ekspor. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)<br>
Hendi Wijanarko menuturkan pengalamannya tentang dunia ekspor. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Nggak kalah seru, Hendi Wijanarko juga turut memaparkan cukup gamblang terkait pasar internasional. Pengusaha yang bergerak di bidang agrobisnis itu mengaku, dalam beberapa tahun terakhir, bisnisnya memang mulai menyasar pasar ekspor.

Mengekspor barang, ungkapnya, sebetulnya nggak sepelik mindset yang beredar di masyarakat. Dari pengalaman pribadinya, Hendi mati-matian menepis anggapan bahwa mengekspor barang itu rumit, harus punya modal besar, atau berasal dari perusahaan raksasa.

"Itu sama sekali keliru! Bahkan, barang kecil seperti sapu lidi bisa diekspor. Ada yang mencari!" ungkap lelaki berkacamata tersebut. “Maka, perluaslah market place. Pakai jaringan internet. Zaman sudah maju, bisa bikin website atau media sosial."

Para peserta seminar Santrendelik. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)<br>
Para peserta seminar Santrendelik. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Kemudian, tampil sebagai penutup sesi, Prof Fakhrudin Aziz pun mengungkapkan bahwa dalam memulai sebuah usaha, termasuk yang berbasis teknologi, nilai-nilai Islam juga seharusnya bisa tetap diterapkan. 

“Intinya: Asas, A’mal, dan Amal,” ucapnya.

Asas yang berarti “Prinsip” mengandung pengertian, dalam berbisnis, seseorang harus dibarengi dengan niat dan motivasi. Tanpa hal tersebut, apa yang diusahakan kemungkinan besar nggak bisa benar-benar berjalan baik.

Sementara, A’mal atau strategi juga mutlak diperlukan dalam berbisnis, karena hal itu merupakan cara untuk mewujudkan prinsip. Kemudian, yang terakhir adalah Amal, yang bermakna bahwa dalam berbisnis, seseorang nggak boleh melupakan zakat dan infak, agar usahanya berkah.

Acara yang berakhir sekitar pukul 16.30 WIB itu pun kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ustaz Aziz. Wah, semoga Seminar Nasional MPR-RI ini betul-betul membuka mata seluruh peserta ya, Millens! (Audrian F/E03)