Sembuh dari Covid-19 Jadi Pikun dan Lemot, Ini Penyebabnya

Sembuh dari Covid-19 Jadi Pikun dan Lemot, Ini Penyebabnya
Pasien sembuh dari Covid-19 jadi pikun dan lemot. Banyak yang mengalaminya. (Flickr/ Jose Navarro)

Banyak pasien sembuh dari Covid-19 jadi pikun dan lemot. Mereka sulit bekerja dengan normal seperti biasa. Ternyata, ada penyebab dari hal ini, lo.

Inibaru.id – Ada banyak pasien yang sembuh dari Covid-19 yang jadi pikun dan lemot. Mereka susah mengingat dan susah berpikir hingga kesulitan beraktivitas dan bekerja seperti sebelumnya. Sebenarnya, apa sih penyebab dari hal ini?

Dr Pukovisa Prawirohardjo, Sp.S (K), dokter spesialis saraf dari RSUI punya jawabannya. Dia menyebut banyak pasien yang sembuh dari Covid-19 yang mengalami penurunan fungsi kognitif otak, baik itu mudah lupa hingga pikiran yang lebih lemot dari biasanya. Kalau dalam dunia medis, bisa disebut dengan gejala “LALILULELO”.

Istilah ini sama sekali nggak lucu-lucuan, Millens karena bisa dijabarkan sebagai Labil dari sisi emosi, Linglung, Lupa, Lemot, dan penurunan Logika berpikir. Nah, kalau menurut dr Pukovisa, pasien yang sudah sembuh dari Covid-19 bisa memeriksakan diri ke dokter kalau sudah merasa terganggu dengan gejala-gejala ini.

Di sisi lain, sebuah penelitian yang diungkap hasilnya dalam Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer pada 29 Juli 2021 di Denver, Colorado, Amerika Serikat, juga mengungkap fakta bahwa cukup banyak penyintas Covid-19 yang mengalami kabut otak atau gejala gangguan kognitif lainnya selama beberapa bulan usai mereka dinyatakan sembuh. Gejala lain adalah bingung dan mudah lupa.

Penelitian ini mengungkap bahwa virus Covid-19 memang menyerang banyak organ selain saluran pernapasan, termasuk di antaranya adalah saraf dan otak.

Covid-19 juga menyerang otak dan saraf. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Covid-19 juga menyerang otak dan saraf. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Penelitian lain yang dilakukan di Meksiko membuktikan bahwa 20 persen dari total 370 pasien Covid-19 mengalami gangguan kesehatan seperti sakit kepala, anosmia, ageusia, dan lain-lain. Sementara itu, penelitian di Oxford, Inggris, membuktikan bahwa 33,62 persen dari 236.379 pasien Covid-19 mengalami gangguan neurologis serta psikiatris dalam tempo 6 bulan usai dinyatakan sembuh.

“Virus secara langsung menyerang ujung saraf di hidung, lidah, paru-paru, usus, dan bahkan otak. Respons tubuh yang melawan virus juga bisa memberikan efek ke fungsi saraf,” jelas Kepala Instalasi Gawat Darurat RSUI dr Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.S terkait dengan gejala-gejala jangka panjang yang dialami pasien yang sembuh dari Covid-19.

Kalau menurut Scott Gottlieb dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), Covid-19 memang bisa mempengaruhi bagian area abu-abu otak. Dampaknya, fungsi otak pun mengalami penurunan.

“Ini sangat mengkhawatirkan karena menunjukkan bahwa virus dapat memiliki efek langsung pada bagian otak tertentu,” terang Gottlieb, Minggu (20/6/2021).

Mengingat Covid-19 termasuk dalam pathogen jenis baru yang menyerang manusia, para peneliti pun masih melakukan studi lebih mendalam terkait dengan dampak ini.

Satu hal yang pasti, kalau kamu adalah pasien Covid-19 yang sudah sembuh namun mengalami lemot atau mudah lupa, kamu nggak sendirian kok, Millens. Semoga saja kondisi otakmu segera membaik seperti semula, ya? (Kum/IB09/E05)