Sejarah Sarung, Asli Indonesia atau Dibawa dari Negara Lain?

Sejarah Sarung, Asli Indonesia atau Dibawa dari Negara Lain?
Benarkah sarung asli Indonesia? atau pakaian ini justru berasal dari negara lain? (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Banyak orang yang mengira sarung asli Indonesia, apalagi sarung sering dipakai layaknya pakaian tradisional dan bisa dipakai di acara resmi. Nah, biar tahu, yuk simak sejarah sarung berikut ini.

Inibaru.id – Kalau ngomong soal sarung, yang terpikir tentu adalah kain yang mirip dengan rok panjang dipakai laki-laki muslim Indonesia. Selain untuk beribadah, nggak sedikit pula orang yang menjadikan sarung laiknya daster untuk perempuan, yakni sebagai kostum harian ternyaman yang dipakai saat santai.

Di Indonesia, sarung terbagi menjadi dua, yakni yang dijual per kodi dan versi premium yang harganya selangit. Sarung kodian biasanya dipakai sehari-hari dengan harga murah. Sementara, sarung premium, karena ditenun tangan atau berhias batik tulis, dipakai untuk acara resmi.

Saking melekatnya sarung pada kehidupan masyarakat Indonesia, kain yang dipakai untuk menutupi bagian bawah tubuh laki-laki itu bahkan dianggap menjadi buah tangan untuk orang dari mancanegara. Namun, apakah benar kain yang juga dikenal luas di Malaysia tersebut berasal dari negeri ini?

Memang, sarung diyakini punya sejarah panjang di Indonesia. Namun, bukan berarti kain berbentuk tabung ini berasal dari Tanah Air. Menurut sejarah, negara yang kali pertama memperkenalkan sarung adalah Yaman. Hingga kini, salah satu negara Jazirah Arab ini bahkan masih menganggapnya sebagai pakaian tradisional dan suvenir khas mereka.

Sarung yang disebut futah di Yaman kemudian menyebar ke Timur Tengah, lalu berkembang sesuai dengan budaya masing-masing negara di sana, tentu saja dengan nama yang berbeda. Sarung dikenal sebagai wizaar di Oman. Sementara, orang Arab Saudi menyebutnya izaar.

Menjadi pakaian "resmi" untuk beribadah di Indonesia, sarung justru dianggap sebagai pakaian supersantai oleh sebagian masyarakat di Jazirah Arab. Bahkan, orang Mesir bersarung untuk tidur. Ini tentu sangat berbeda dengan kita yang mengenakan sarung sebagai pakaian resmi yang sopan.

Kapan Sarung Masuk ke Indonesia?

Sarung jadi pakaian tradisional yang dipakai masyarakat. (Flickr/

Rokok Indonesia)
Sarung jadi pakaian tradisional yang dipakai masyarakat. (Flickr/ Rokok Indonesia)

Konon, sarung mulai dipakai masyarakat Nusantara sejak abad ke-14. Banyak pedagang dari Arab dan Gujarat yang membawanya di kawasan pesisir utara Pulau Jawa dan Madura. Sejak saat itulah masyarakat Nusantara tertarik untuk memakainya.

Seiring dengan berjalannya waktu, sarung semakin menyebar ke berbagai penjuru Nusantara beriringan dengan menyebarnya agama Islam. Sarung biasanya menjadi bagian dari budaya masyarakat pesisir di berbagai wilayah.

Berbeda dengan wilayah pesisir, sebuah penelitian menyebutkan bahwa sarung baru dikenal oleh masyarakat pedalaman pada abad ke-19. Mirip dengan persebaran sarung Timur Tengah, sarung di Nusantara juga mengalami akulturasi budaya, menyesuaikan dengan masing-masing daerah.

Bentuk sarung nggak banyak berubah di Indonesia, berupa sepotong kain lebar yang pemakaiannya dibebatkan menutupi bagian bawah tubuh hingga sebatas pinggang. Namun, motif dan bahan kainlah yang berbeda.

Masyarakat Jawa umumnya masih mempertahankan sarung bermotif kotak-kotak sebagaimana awal didatangkan ke Indonesia. Ini membedakan sarung dengan kain jarik yang bermotif batik. Namun, dalam perkembangannya, sarung pun kini banyak yang bermotif batik, bahkan berbahan sama dengan jarik.

Oya, Pada masa kolonialisme di Indonesia, sarung sempat menjadi simbol perjuangan para santri terhadap penjajah Belanda. Konon, sarunglah yang menyatukan para santri dari pelbagai wilayah di Nusantara untuk melawan penjajahan. Hm, keren ya!

Hingga kini, sarung masih merupakan identitas di pesantren, menjadi semacam "baju takwa" yang biasanya dikenakan bersanding dengan baju koko (baju muslim) dan peci.  

Namun, kendati menjadi identitas lelaki muslim di Indonesia, bukan berarti sarung hanya dipakai orang Islam. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu juga mengenakan sarung dalam berbagai ritual adat dan keseharian mereka.

Sarung Bali bahkan kini menjadi salah satu suvenir paling menarik bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke sana. Selain menggambarkan budaya di Pulau Dewata, sarung dengan motif kotak-kotak berwarna hitam-putih seperti papan catur ini juga memiliki nilai filosofi yang cukup tinggi. 

Nah, sudah tahu kebenarannya, kan? Kalau mau pakai sarung, tinggal pakai saja; tapi nggak perlu sok-sokan bilang sarung adalah pakaian asli Indonesia lagi ya, Millens! Malu sama orang Yaman! Ha-ha. (Aku/IB09/E05)