Sehatno Tetap Berjualan, Begini Caranya Terapkan Social Distancing

Sehatno Tetap Berjualan, Begini Caranya Terapkan Social Distancing
Sehatno sedang melayani pembeli. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Sehatno, seorang pedagang bubur kacang hijau keliling tetap berjualan meski di tengah wabah corona. Lelaki yang mengandalkan pendapatan harian ini punya cara tersendiri dalam menerapkan social distancing ketika berdagang.

Inibaru.id - Meningkatnya jumlah orang yang dinyatakan positif corona membuat pemerintah terus mengimbau masyarakat agar berkegiatan dari rumah. Sayangnya hal ini nggak bisa diterapkan oleh para pekerja sektor nonformal. Sehatno, misalnya, seorang pedagang kacang hijau keliling yang harus tetap turun ke jalan.

Kamis (12/3) pagi, saya menjumpai Sehatno yang tengah mangkal di depan RSUD Ambarawa. Lelaki yang mengandalkan pendapatan harian ini tetap menjajakan bubur kacang hijau ketan hitam yang jadi buruan masyarakat.

Dalam kesibukannya melayani pembeli yang mengantre, saya melihat Sehatno berkali-kali mengganti lap. Saya melihat ada lap warna merah, oranye, dan hijau. Setelah mengibaskannya, lelaki yang akrab disapa Pak No ini membungkusnya ke dalam plastik baru yang terlihat bersih.

Seorang pembeli bermasker menjawab rasa penasaran saya. “Sudah terbiasa kayak gitu dari dulu mbak. Terjaga sekali kebersihannya,” celetuk lelaki tersebut.

Sehatno sangat menjaga kebersihan dagangannya. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Sehatno sangat menjaga kebersihan dagangannya. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Hal tersebut kemudian ditimpali oleh No. Dia mengaku sudah menerapkan kebiasaan bebersih peralatan dagangnya sedari dulu.

“Bukan karena corona, emang dari dulu kayak gini,” terang No.

Menurutnya kebersihan menjadi prioritasnya dalam berdagang. Selain sering mengganti lap, No juga selalu cekatan dalam menyajikan kacang hijau dan sesegera mungkin menutup beberapa dandang yang masing-masing berisi bubur kacang hijau, santan, dan ketan hitam.

“Supaya nggak kena debu mbak. Kan memang di pinggir jalan,” tambahnya.

Meski cuma menjajakan dagangan dengan gerobak, No sangat mempertimbangkan kenyamanan pelanggan. Setelah pesanan siap, No segera menempatkan pesanannya dalam sebuah loyang berisi uang pecahan kecil. Dia mempersilakan pembelinya menaruh uang di loyang dan mengambil kembalian sendiri tanpa harus kontak kulit dengannya langsung.

“Ya supaya pembeli tetap nyaman dalam keadaan seperti ini (wabah corona),” pungkasya.

Meski nggak mengikuti anjuran pemerintah, saya pikir apa yang dilakukan Sehatno adalah satu hal yang patut diapresiasi. Nggak heran dagangannya tetap laris di tengah wabah ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)