Perlukah Memandang Dangdut dengan Sebelah Mata?

Perpaduan musik Arab, Melayu, dan India menghasilkan musik dangdut yang diakui asli Indonesia. Namun, sebagian masyarakat masih belum bisa menikmati musik ini dengan menganggapnya norak atau "kampungan". Benarkah seburuk itu?

Perlukah Memandang Dangdut dengan Sebelah Mata?
Inul Daratista sedang bernyanyi sambil berinteraksi dengan penonton. (Militan.co.id)

Inibaru.id – Dangdut is a music of my country, my country oh my country kata Project Pop dalam lagunya yang berjudul sama. Kalimat itu seolah diamini masyarakat dengan maraknya dangdut saat ini. Berbagai jenis dangdut hadir dan memanjakan penikmatnya dengan irama, ketukan gendang, bahkan goyangan penyanyinya.

Saat ini dangdut berkembang menjadi beragam jenis. Dangdut koplo merupakan salah satu yang sekarang sedang digandrungi masyarakat. Sejumlah orang menyukai dangdut koplo ini karena iramanya lebih cepat dari dangdut klasik.

“Aku lebih suka musik dangdut sekarang karena musiknya sih. Lebih cepat gitu jadi bisa memberikan semangat,” ujar Tugianto, mahasiswa asal Purbalingga.

Hal senada juga diungkapkan Renita Widiastuti. Gadis yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Negeri Semarang itu mengaku menyukai dangdut jenis koplo yang sekarang sedang marak.

“Wah, kalau dangdut ya aku suka tapi lebih suka dangdut yang sekarang daripada dulu soalnya liriknya kayak pas gitu sama aku,” tutur Renita, kemudian tersenyum.

Kendati sejumlah orang menyukai dangdut bahkan menganggap dangdut adalah musik asli Indonesia, nggak sedikit orang yang memandang sebelah mata musik yang mulai masyhur pada era 1970-an ini. Sebagian orang menganggap dangdut sebagai musik “rakyat” yang hanya dinikmati masyarakat kalangan bawah.

Baca juga:
Menakar Posisi Dangdut di Indonesia
Geliat Dangdut Koplo di Tangan Via Vallen dan Nella Kharisma

“Iya, dulu orang-orang menganggap dangdut itu norak, jadi banyak yang nggak suka,” kata Tsalisa, warga Purbalingga membenarkan anggapan itu.

Pandangan miring tentang dangdut ini sudah ada sejak dangdut diciptakan Rhoma Irama. Bahkan sebutan “dangdut” merupakan sebuah ejekan.

Pengamat musik dangdut, Mohammad Muttaqin mengatakan, istilah dangdut diciptakan Billy Chung, wartawan majalah Aktuil untuk menyebutkan perpaduan musik Melayu, India, dan Arab yang diringi dengan tabla. Sebutan itu merupakan onomathopea dari suara kendang yang berbunyi “dang” dan “dut”.

“Dangdut itu dulunya ejekan Billy Chung terhadap musik baru yang dibawakan Rhoma Irama saat itu,” kata Muttaqin.

Namun, justru istilah inilah yang kemudian berkembang dan umum dipakai masyarakat. Anggapan dangdut sebagai musik rakyat, menurut Muttaqin, hanyalah persepsi masyarakat belaka.

“Selama ini masyarakat saja yang mengklasifikasikan dangdut sebagai musik rakyat. Dangdut diciptakan untuk semua kalangan, nggak hanya untuk masyarakat kelas bawah,” tegas lelaki yang berprofesi sebagai dosen Jurusan Musik Universitas Negeri Semarang ini.

Dangdut yang dahulu dinyanyikan dari kampung ke kampung disinyalir menjadi alasan masyarakat menyebut dangdut sebagai musik rakyat. Kemasan dangdut juga dinilai berbeda dengan musik lain seperti Koes Plus yang juga tenar waktu itu.

Baca juga:
Tren Joget Koplo Ala Temon Holic
Ketika Penggemar Dua K-Pop Bersaing di iHeartRadio Music Awards

Persepsi dangdut yang dinilai "kampungan" itu kini mulai memudar. Seiring berjalannya waktu, musik dangdut beranjak merasuk ke semua kalangan. Pandangan tentang dangdut pun berubah. Ini terbukti dari menjamurnya ajang-ajang pencarian bakat penyanyi dangdut, yang membuat industri dangdut kembali bergelora di tengah persaingan dengan genre musik lainnya.

Kepopuleran industri dangdut saat ini membuktikan bahwa dangdut nggak hanya merupakan musik pinggiran. Musik dangdut pun mendapat tempat setara dengan genre lain seperti pop dan jazz.

Jadi, nggak usah takut dibilang norak karena menyukai dangdut ya, Millens. (IF/GIL)