Sebar Poster Provokatif, Mahasiswa Undip Terancam Sanksi Tegas

Karena menyebar poster yang provokatif, inilah ancaman sanksi yang diberikan kepada mahasiswa UNDIP

Sebar Poster Provokatif, Mahasiswa Undip Terancam Sanksi Tegas
universitas di jawa tengah (Foto : id.wikipedia.org)

inibaru.id - Hari Kebangkitan yang diperingati 20 Mei lalu, sempat diwarnai desas-desus kecurigaan oknum yang ingin merongrong Pancasila. Hal tersebut mencuat pasca ditemukannya sebuah poster dan spanduk bermuatan kalimat provokatif yang anti Pancasila di salah satu kampus terkemuka di Semarang, Universitas Diponegoro (Undip).

Nama Aji Mahar disebut-sebut sebagai provokator yang telah menyebarkan poster berbau provokatif tersebut. Ketika dimintai keterangan pegiat organisasi HMI itu mengaku bahwa penempelan poster tersebut tidak ada hubungannya dengan NKRI dan kebhinekaan.

Lebih lanjut ia memaparkan kronologi pemasangan poster tersebut bermula dari sesi rapat kecil yang kemudian mencetuskan ide untuk membuat acara saat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2017.

“Saat itu, saya dan empat teman saya mencetuskan ide untuk membuat diskusi kebangsaan,” ujar Aji saat berbicara pada Muhammad Zaenuri, Wakil Pembantu Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Undip seperti yang dilansir media daring Rappler.

Akan tetapi dalam prosesnya ia mengaku mengambil inisiatif sendiri untuk membuat poster dengan frasa “Garuda Ku Kafir” yang akan diselenggarakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Sabtu, (20/5).

Aji pun bersedia menglarifikasi bahwa tidak ada keterlibatan organisasi manapun dalam melakukan propaganda termasuk BEM sekalipun. Dengan kejadian itu akhirnya menyeret lima mahasiswa anggota senat berurusan dengan lembaga hukum kampus setempat.

Langgar Kode Etik

Muhammad Zaenuri membenarkan kelima mahasiswa yang dimaksud merupakan anggota senat dan BEM FISIP.

Ia pun menyayangkan ulah mereka lantaran selain memprovokasi masyarakat, pemasangan posternya juga tersebut tanpa seijin dengan pihak kampus.

“Tidak ada izinnya, tapi setelah kami konfrontir mereka menyesali perbuatannya dan sudah meminta maaf. Namun pihak rektorat akan tetap memproses mahasiswa tersebut karena telah melanggar aturan akademik,” jelasnya.

Zaenuri kembali menyebutkan bahwa pemasangan poster tanpa ijin ini memuat unsur ketidakpatuhan dan melanggar kode etik. Sehingga kelima mahasiswa tersebut terpaksa harus menjalani sidang etik di lembaga hokum Undip. Jika terbukti melanggar peraturan akademis, maka mereka akan dikenakan dua ancaman sanksi tegas.

Dalam akhir pemaparannya Zaenuri mengaku memohon maaf kepada masyarakat luas yang telah terganggu dengan pemberitaan tersebut, selain itu ia juga mengimbau pada mahasiswa agar tak lagi menggelar kegiatan yang menimbulkan interpretasi tidak baik. (NA)