Sebagai Pewangi, Dupa dan Kemenyan Sunah Nabi

Sebagai Pewangi, Dupa dan Kemenyan Sunah Nabi
Hio Swa nggak hanya digunakan oleh umat Tionghoa saja. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Sebagian orang menganggap dupa atau kemenyan adalah sesuatu yang syirik. Padahal belum terbukti benar. Sebagian ulama bahkan menyebut bahwa dupa atau hio swa dan kemenyan adalah sunah nabi.

Inibaru.id - Ketika berkunjung ke pabrik hio swa di Demak, Kamis (4/2), saya kira mereka membuat untuk orang Tionghoa saja. Namun ternyata nggak demikian. Muhammad Khundhori, pemilik pabrik hio swa di Demak memberi saya pemahaman baru.

Khundhori mengungkapkan siapa saja yang jadi pelanggan hio swanya. Bukan cuma orang Tionghoa, orang Islam termasuk anggota ormas juga membeli hio swa darinya. 

“Ini buktinya, Habib Luthfi juga pakai,” kata Khundori sambil menunjukkan video pengajian yang diisi Habib asal Pekalongan itu. Di video tersebut tampak seseorang sedang menyalakan dupa.

Muhammad Khundhori juga menjual hio swa ke umat islam dan ormas. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Muhammad Khundhori juga menjual hio swa ke umat islam dan ormas. (Inibaru.id/ Audrian F)

Menurut Khundhori, penggunaan hio swa ini belakangan juga mulai banyak digunakan oleh umat Islam. Para kiai dan ulama mulai menyerukan kalau menggunakan dupa atau hio swa ini nggak ada sifat syiriknya.

“Ini kan juga untuk pewangi ruangan. Nggak ada hubungannya sama kemungkaran agama,” tambahnya.

Sunah Nabi

Habib Novel Alaydrus dalam sebuah ceramah yang ditayangkan oleh akun Youtube Putra Indonesia menampik jika membakar kemenyan dikaitkan dengan hal musyrik. Menurutnya jika mendengar kemenyan pasti orang Indonesia akan menghubungkan ke hal-hal mistis atau perdukunan.

“Hanya di Indonesia, membakar dupa dikaitkan dengan hal mistis,” ujarnya.

Habib Novel menjelaskan jika membakar kemenyan atau dupa itu sunnah nabi. Nabi Muhammad senang dengan wewangian. Kalau di Arab sana, sebutannya adalah “Istijmar”.

Lafadz istijmar itu di ambil dari kalimat Al Majmar yang bermakna al bukhur "dupa" adapun Uluwah itu menurut Al Ashmu'i dan Abu Ubaid dan seluruh pakar bahasa Arab bermakna kayu dupa yang dibuat dupa.

Habib Novel Alaydrus berpendapat jika membakar dupa bukan syirik sama sekali. (Istimewa)<br>
Habib Novel Alaydrus berpendapat jika membakar dupa bukan syirik sama sekali. (Istimewa)

Masih berkaitan dengan anggapan syirik, Habib Novel prihatin jika warga Indonesia ini mudah sekali mensyirik-syirikan sesuatu. Dia mencontohkan jika membakar kemenyan itu syriik, maka petugas di Masjidil Haram adalah ahli syirik.

“Setiap bulan Ramadhan, sebelum masuk masjid itu petugas membakar dupa untuk wangi-wangian. Dan kita para jamaah diminta untuk menghirupnya,” ucapnya.

Bahkan di sekitar Masjid Nabawi banyak yang menjual dupa. Dupa di sana pun dihargai dengan nominal yang nggak murah.

Nah, jadi sekarang paham kan, dupa atau kemenyan nggak mengandung syirik? Jangan asal ikutan bilang itu nggak boleh ya. Kan cuma pewangi ruangan. (Audrian F/E05)