Santer Isu tentang Dukhan pada 15 Ramadan, Begini Penjelasan MUI

Santer Isu tentang Dukhan pada 15 Ramadan, Begini Penjelasan MUI
Tersiar isu dukhan dan tabrakan asteroid dengan Bumi pada 15 Ramadan. (Pixabay)

Media sosial sedang diramaikan dengan isu dukhan yang dianggap sebagai tanda-tanda kiamat dan diprediksi akan muncul pada 15 Ramadan yang jatuh pada hari ini, Jumat (8/5/2020). Seperti apa ya penjelasan dari MUI terkait dengan isu ini?

Inibaru.id- Akhir-akhir ini santer pembicaraan mengenai dukhan baik di media sosial maupun di aplikasi perpesanan Whatsapp. Dalam narasi yang beredar, disebutkan bahwa pada pertengahan Ramadan kali ini akan muncul dukhan atau kabut.  Isu dukhan juga dikaitkan dengan adanya asteroid yang akan menabrak Bumi pada 15 Ramadan atau yang bertepatan pada Jumat (8/5/2020) ini.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) telah membantah isu akan terjadi tabrakan asteroid dengan Bumi. Namun, tetap saja masyarakat nggak tenang dan masih memperbincangkan isu ini. Belakangan, masyarakat bahkan sampai mengaitkannya dengan tanda-tanda kiamat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya turun tangan demi menjelaskan tentang pengertian dukhan dan tanda kiamat. Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas membenarkan salah satu tanda kiamat adalah munculnya ad-dukhan yang berarti asap atau kabut tebal. Namun, dia menegaskan nggak ada satu pun orang yang tahu kapan terjadinya kiamat. Apalagi memprediksi akan datang dalam waktu dekat.

Narasi isu dukhan pada 15 Ramadan. (Facebook/Rahman Rumatela)
Narasi isu dukhan pada 15 Ramadan. (Facebook/Rahman Rumatela)

“Kabut yang viral di media sosial itu disebut dukhan tanda kiamat? Saya rasa tak ada satu orang pun yang bisa memastikan kapan kiamat tiba,” ujarnya pada Kamis (7/5/2020).

Serujuk dengan Anwar, Ketua MUI Sumatera Barat Gusrizal Gazahar juga mengamini bila dukhan merupakan salah satu tanda kiamat. Namun, nggak ada yang tahu kapan dukhan akan muncul.

Menurut Gusrizal, narasi yang beredar itu merujuk sebuah hadis yang dhoif jiddan atau sangat lemah. Beberapa ulama bahkan menyebut hadis tersebut sebagai hadis maudlu’ (palsu).

“Hadis itu sudah lama dibicarakan para ulama dan sudah dikaji dari sisi ilmu hadis. Imam Ibn Jauzi dan Ibn Hibban juga sudah membahas mengenai hadis tersebut,” terangnya.

Bila para pendakwah memunculkan isu ini untuk mengingatkan jamaah akan hari kiamat, Gusrizal mengingatkan agar nggak berlebihan. Dia mengimbau para pendakwah mengambil riwayat yang sahih dan cukup banyak. Jangan sampai memakai dalil palsu atau dalil yang lemah.

Millens, nggak perlu risaukan isu ini ya! Para ahli dari Lapan dan MUI sudah memberikan penjelasan, lo! (Kom/IB03/E07)