Sampaikan Pendidikan Karakter lewat Pentas Wayang Golek

Kesenian Jawa memang nggak cuma bisa dinikmati sebagai hiburan. Sebab, seperti wayang golek santri ala Ki Enthus Susmono ini, meski penuh candaan dan nyinyir, pentasnya mengemban misi penting untuk pendalaman karakter siswa. Seperti apa ya?

Sampaikan Pendidikan Karakter lewat Pentas Wayang Golek
Pentas wayang golek santri Ki Enthus Susmono di SMA Negeri 2 Brebes. (Panturapost.id/Fajar Eko Nugroho)

Inibaru.id – Pendidikan karakter bisa disampaikan dengan cara apapun, termasuk menggunakan media wayang golek. Nah, memperingati Dies Natalis yang ke-44, ratusan siswa SMA Negeri 2 Brebes “menanggap” wayang golek dengan Ki Enthus Susmono pada Senin (5/2/2018) lalu. Kenapa wayang?

Nah, inilah yang unik, Millens. Menyuguhkan lakon "Lupit Slentheng Pitulung", Lupit, tokoh utama dalam cerita tersebut, digambarkan Ki Enthus sebagai sosok yang gemar menolong sesama. Tingkahnya yang menggelikan membuat tema pendidikan karakter yang biasanya tampak serius jadi telihat lebih santai.

Selain pendidikan karakter, pergelaran wayang golek dipilih pihak sekolah sebagai misi pelestarian budaya Jawa. Wayang sat ini menjadi salah satu mata pelajaran di SMA Negeri 2 Brebes. Nah, pementasan wayang golek ini diharapkan bakal memantik kecintaan mereka terhadap budaya lokal.

"Pergelaran wayang ini memiliki tujuan agar kesenian Jawa makin dicintai siswa. Juga untuk nguri-uri budaya,” tutur Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Brebes, Sadimin, seperti ditulis Detikcom, Senin (5/2).

Sadimin menambahkan, wayang itu juga diharapkan mampu jadi media yang menguatkan karakter kebangsaan dalam diri siswa. Tanpa karakter kebangsaan yang kuat, lajutnya, nggak mustahil peristiwa radikalisme bisa terjadi.

“Siswa masih butuh pengarahan. Dalam dunia pewayangan, seluruh nilai moral dan sosial yang dibutuhkan dalam bermasyarakat itu ada," ungkap Sadimin.

Ki Enthus Susmono juga menyanjung cara SMA Negeri 2 Brebes memberikan pendidikan karakter terhadap para siswanya. Menurutnya, dengan penyampaian yang lebih santai dan diselingi lelucon, bahasan seserius apapun bakal terus diingat mereka.

“Jika pesan itu tersampaikan, setelah lulus pun mereka akan terus mengingatnya," jelasnya, seperti ditulis Kumparan.com, Senin (5/2). (YFH/GIL)