Penelitian-Penelitian Ini Ungkap Tontonan Kekerasan Jadi Faktor Kepekaan Berkurang

Penelitian-Penelitian Ini Ungkap Tontonan Kekerasan Jadi Faktor Kepekaan Berkurang
Melihat kekerasan secara langsung secara terus menerus bisa menyebabkan hilangnya kepekaan seseorang. (bpHope)

Beberapa penelitian mengungkap korelasi antara desensitisasi pada seseorang dengan paparan konten berbau kekerasan. Semakin sering terpapar, semakin tinggi pula efek desensitisasi akan dirasakan.

Inibaru.id - Sebuah penelitian menyebutkan ada faktor yang mempengaruhi seseorang nggak peka terhadap kejadian di sekelilingnya. Dia seolah membiarkan orang lain tertimpa bahaya. Kondisi ini disebut sebagai desensitisasi.

Desensitisasi ini diyakini muncul akibat paparan konten-konten berbau kekerasan yang disaksikan secara kontinyu. Konten tersebut bisa dari televisi, gim, atau kehidupan nyata. Semakin tinggi paparan yang diperoleh, semakin besar pula efek yang dialami.

Simpulan tersebut berasal dari penelitian Barbara Krahé, dkk dengan judul "Desensitization to Media Violence: Links With Habitual Media Violence Exposure, Aggressive Cognitions, and Aggressive Behavior" (2011). Para relawan penelitian ini adalah 625 mahasiswa Universitas Potsdam, Jerman yang berusia 23 tahun. Jumlah itu dikerucutkan jadi 303 pada akhir penelitian. Mereka diminta menyaksikan video-video dengan muatan kekerasan, kesedihan, dan humor selama dua minggu. 

Hasil kuesioner para relawan cukup mengejutkan, lo. Pasalnya, mereka yang terpapar video kekerasan menunjukkan gejala desensitisasi. Bukannya risih dan simpati terhadap korban, mereka justru senang jika video tersebut terus diputar. Hasil penelitian ini dikuatkan dengan hasil penelitian lain.

Penelitian Sylvie Mrug dkk (2015) yang berjudul "Emotional and Physiological Desensitization to Real-Life and Movie Violence" menunjukkan, memainkan video game yang penuh kekerasan selama satu minggu akan menurunkan aktivasi bagian prefrontal dan aktivasi amigdala yang lebih besar. Korteks preforontal inilah yang berkaitan dengan konsentrasi, pengambil keputusan, dan pengendalian diri. Sedangkan aktivasi amigdala akan memicu kemarahan, depresi, agresi, dan perilaku impulsif.

Mrug juga menyatakan bahwa paparan kekerasan pada kehidupan nyata membawa dampak besar terhadap gejala post-traumatic stress disorder (PTSD).  Secara fisiologis, menyaksikan kekerasan secara langsung juga akan membuat tekanan darah meningkat secara cepat dan juga menurun. Gejala desensitisasi juga ditemukan pada penikmat film berbau kekerasan, tapi hanya mereka yang terpapar film dengan intensitas tinggi saja yang bisa terkena dampak.

Jadi jelas ya kalau tontonan berbau kekerasan dari media apa pun bisa saja membuat seseorang cuek terhadap kekerasan yang mereka temui di dunia nyata. Terbukti dengan banyaknya orang yang suka merekam kecelakaan, bunuh diri, atau penjambretan daripada menolongnya. Yuk kurangi melihat konten-konten nggak pantas dan memperbanyak melakukan hal yang lebih berfaedah. (IB26/E05)