Rayakan Bulan Film Nasional dengan Kritik Film

Rayakan Bulan Film Nasional dengan Kritik Film
Diskusi soal kritikus film sebagai pembuka Bulan Film Nasional di Semarang. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Agar ekosistem perfilman berjalan imbang, kritik film dibutuhkan. Inilah yang coba disampaikan Sineroom Semarang dalam memeringati Bulan Film Nasional 2020

Inibaru.id – Setiap tahunnya, bulan Maret dirayakan sebagai Bulan Film Nasional. Banyak kelompok penggiat film yang merayakan ini dengan berbagai cara: mengadakan pemutaran film, mengadakan diskusi, bahkan merilis buku tentang film. Tahun ini, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) merilis buku Tilas Kritik: Kumpulan Tulisan Rumah Film 2007-2012 yang berisikan tulisan-tulisan kritik film yang pernah dimuat di situs Rumah Film dari awal terbit hingga situs tersebut tutup pada 2012.

Sineroom, kelompok penggiat film asal Semarang, mengadakan bedah buku ini dan pemutaran empat film pendek di Tekodeko, Kota Lama, Semarang, Sabtu (7/3).

Acara yang berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Jakarta, Kineforum dan Kolektif Film ini mengambil momentum diterbitkannya buku Tilas Kritik tersebut. Dari buku itulah tema kritik film diambil sebagai tema diskusi Rasan-Rasan Sinema Sineroom kali ini.

“Kami menganggap bahwa kritik film itu penting sebagai pembuka Bulan Film Nasional ini. Kritik film itu juga bagian dari ekosistem perfilman dan itu penting untuk menyeimbangkan ekosistem film seharusnya,” ucap Erma Yuliati, pengelola Sineroom, Sabtu (7/3).

Acara ini dibuka dengan pemutaran film pendek Klayaban (2005) karya Farishad Latjuba lalu dilanjutkan diskusi dengan pembicara Hikmat Darmawan, kritikus film dan pendiri Rumah Film, yang berbicara soal kerja-kerja kritikus film dan Rumah Film sebagai salah satu situs yang berfokus pada kritik film di Indonesia.

Setelah berdiskusi dan menapak tilas kerja-kerja kritik Rumah Film, acara dilanjut pada menonton tiga film pendek lain: Ani dan Waktu yang Mundur (2019), Rumah Bitha (2020), dan Suburbia (2019).

Peserta dengan kritik terbaik bakal menerima buku Tilas Kritik setebal 1600-an halaman, lo! (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Peserta dengan kritik terbaik bakal menerima buku Tilas Kritik setebal 1600-an halaman, lo! (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Nggak hanya menonton dan berdiskusi, setelah menonton keempat film, para peserta diskusi ditantang untuk memberi komentar atau review pada salah satu film yang diputar dan komentar terbaik akan dihadiahi buku Tilas Kritik yang tebalnya mencapai 1.606 halaman. Sederhananya, mereka diajak mengaplikasikan kritik film setelah mendapat materi soal kritik film dari diskusi sebelumnya.

Dari 10-an komentar, dua komentar dipilih menjadi pemenang. Salah satunya adalah komentar Rizqy Lutfiano, mahasiswa Sastra Indonesia Undip, yang mengomentari film Klayaban (2005).

“Menurutku film ini soal kesepian masing-masing tokohnya. Aku juga jadi inget Ingmar Bergman karena ada scene main catur dan tone warna di film Klayaban yang terkesan muram,” ucapnya.

Kalau kamu pernah mengkritiki film yang mana nih, Millens? (Gregorius Manurung/E05)