Ratna Sari Dewi, Perempuan Jepang Kesayangan Soekarno yang Diultimatum Soeharto

Ratna Sari Dewi, Perempuan Jepang Kesayangan Soekarno yang Diultimatum Soeharto
Dewi Soekarno saat bersama Presiden Soekarno. Dia mendapatkan ultimatum dari Soeharto di akhir masa Orde Lama. (Twitter/tukangpulas)

Dewi Soekarno atau Ratna Sari Dewi adalah salah seorang dari sekian banyak istri presiden pertama RI, Soekarno. Dia adalah perempuan Jepang dengan nama asli Naoko Nemoto. Menariknya, di akhir masa Orde Lama, manuver-manuver Dewi turut menyelamatkan Soekarno dari kondisi yang mencekam. Dia bahkan sampai diultimatum oleh Soeharto. Seperti apa ceritanya?

Inibaru.id – Baru-baru ini akun Twitter @potretlawas mengunggah foto Dewi Soekarno, istri presiden pertama RI Soekarno di masa-masa pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Banyak warganet yang memuji kecantikan dan modisnya penampilan Dewi di masa itu. Banyak pula yang penasaran seperti apa rumah tangganya dengan Soekarno di masa yang cukup mencekam di Indonesia itu.

Dewi Soekarno bernama asli Naoko Nemoto. Dia diperistri Soekarno pada 1962, tepatnya saat usianya 22 tahun. Saat itu, kekuasaan Soekarno sudah nggak lagi kuat. Apalagi setelahnya terjadi kasus G30S pada 1965 dan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Di Supersemar yang hingga sekarang masih kontroversial itu, ada yang menyebut Soekarno memberikan mandat kepada Soeharto untuk memulihkan stabilitas nasional. Sebagian menyebut Supersemar nggak pernah ada karena naskah aslinya nggak berbekas hingga sekarang.

Sebagai seorang istri kepala negara, Naoko yang diberi nama Indonesia Ratna Sari Dewi oleh Soekarno ini pun nggak tinggal diam saat melihat kekuasaan suaminya goyah. Di buku Peristiwa 1965: Persepsi dan Sikap Jepang, disebutkan bahwa Dewi ternyata berusaha membuat Soekarno dan Angkatan Darat melakukan rekonsiliasi.

Bahkan, pada Januari 1966, disebutkan Dewi pergi ke Jepang dan menemui Perdana Menteri Sato. Tujuannya agar Jepang mendukung Soekarno. Sayangnya, saat itu Jepang justru sudah memberikan dukungan terhadap Soeharto. Usahanya pun jadi sia-sia.

Dewi Soekarno dan putrinya, Kartika. (Twitter/Potretlawas)
Dewi Soekarno dan putrinya, Kartika. (Twitter/Potretlawas)

Dia melakukan hal ini usai didatangi tangan kanan Soeharto, Jenderal M Jusuf. Jusuf menyebut Soekarno dikelilingi orang-orang pro-PKI seperti Hartini dan Soebandrio sehingga membuat kekuasaannya semakin melemah.

Jusuf pun menyarankan Dewi untuk membujuk suaminya menyerahkan kekuasan ke Soeharto secara damai meski statusnya tetap presiden.

Alasan mengapa Dewi didatangi Jusuf? Karena pada saat itu, hanya suara Dewi-lah yang didengar Sang Putra Fajar.

Sejumlah ahli sejarah menyebut manuver-manuver Dewi ikut menyelamatkan Soekarno. Apalagi saat itu, banyak orang yang hilang atau ditangkap. Salah satu manuver tesebut adalah bermain golf dengan Soeharto pada 23 Maret 1966. Menariknya, Ibu Tien, istri Soeharto, kabarnya sampai cemburu dengan Dewi.

Pada saat itulah, Dewi diultimatum oleh Soeharto dan diberikan tiga opsi bagi suaminya. Pilihan pertama, Soekarno diminta pergi ke luar negeri untuk beristirahat. Pilihannya di Mekkah atau Jepang, negara asal Dewi. Pilihan kedua adalah tetap menjadi presiden namun hanya satu bulan, dan yang terakhir mengundurkan diri dari jabatannya secara total.

Dewi Soekarno sekarang, terkenal dan menjadi sosialita di Jepang. (Twitter/louieCuteJJ)
Dewi Soekarno sekarang, terkenal dan menjadi sosialita di Jepang. (Twitter/louieCuteJJ)

Dewi yang menyadari kondisi Soekarno yang semakin menua dan sakit-sakitan akhirnya merawatnya hingga akhir hayat. Kabarnya, menjelang ajal, Soekarno sampai menyebut nama Dewi. Hal ini diketahui istri Soekarno lainnya, Hartini, dan anak Soekarno dari Fatmawati, Rachmawati.

Soekarno dan Dewi dianugerahi satu orang anak bernama Kartika. Sebelum meninggal, Bung Karno masih sempat menimang Kartika yang saat itu masih bayi.

Usai Bung Karno meninggal, Dewi hidup berpindah-pindah di luar negeri, dari Prancis, Swiss, hingga Amerika serikat, hingga kemudian pada 2008 lalu kembali ke Jepang, tepatnya di Shibuya, Tokyo.

Di sana, dia menjadi figur yang cukup populer dan sering masuk acara televisi. Uniknya, meski masa-masanya di Indonesia nggak lama, dia masih memakai nama ‘Dewi’ alih-alih nama Jepangnya. Dia juga lebih suka dipanggil dengan sebutan Dewi Fujin yang bisa diartikan sebagai Mrs. Dewi.

Saat Soeharto meninggal pada Januari 2008, Dewi menyalahkan presiden kedua RI itu sebagai penyebab kematian Soekarno. Dewi bahkan menyebut rezim Soeharto nggak kalah kejam dari rezim diktator Kamboja, Pol Pot. (Kom,Oke,Wik/IB09/E05)