Ratapan Seorang Ayah: Kalau Tahu Dia Akan Mati Karena Menjadi Dokter, Dulu Tak Akan Kuizinkan Kuliah

Ratapan Seorang Ayah: Kalau Tahu Dia Akan Mati Karena Menjadi Dokter, Dulu Tak Akan Kuizinkan Kuliah
Lebih dari 100 orang dokter telah meninggal akibat Covid-19, namun tetap saja mereka dituding mencari untung di masa pandemi. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Telah lebih dari 100 dokter meninggal akibat Covid-19. Hal ini semakin menegaskan tentang lemahnya posisi para tenaga kesehatan di masa pandemi. Mereka seperti berjuang sendiri tengah ancaman maut yang jelas-jelas nyata tanpa dukungan dari pemerintah dan masyarakat.

Inibaru.id – Pada Senin (31/8/2020), Ikatan Dokter Indonesia mengumumkan 100 dokter yang gugur dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Nggak hanya dokter, tenaga medis lainnya seperti perawat atau pegawai rumah sakit juga telah banyak yang meninggal atau dirawat secara intensif karena terinfeksi virus corona. Sayangnya, di balik pengorbanan mereka, masih ada tudingan bahwa tenaga kesehatan mencari untung di tengah masa pandemi.

Seorang ayah yang tak disebutkan namanya menyesali keputusannya membiarkan sang putri menjadi tenaga kesehatan. Kini, dia hanya bisa meratapi kematian sang buah hati semata wayangnya.

“Kalau tahu dia akan mati karena menjadi dokter, lebih baik dulu nggak akan kuizinkan kuliah,” sesalnya.

Di banyak tempat, kini semakin banyak orang tua yang melarang anak-anaknya mengambil jurusan kuliah menjadi tenaga kesehatan. Ancaman nyata virus Covid-19 membuat mereka takut akan kehilangan buah hatinya yang paling berharga. Padahal, hanya beberapa saat lalu, menjadi tenaga medis dianggap memiliki gengsi tersendiri.

Tenaga kesehatan bekerja dengan penuh hambatan dan kesulitan. Mereka juga dihantui maut. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Tenaga kesehatan bekerja dengan penuh hambatan dan kesulitan. Mereka juga dihantui maut. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Menjadi dokter atau tenaga kesehatan lain nyatanya bukan hal yang mudah. Kuliah yang sulit dan lama, ditambah dengan biaya yang mahal sudah menjadi rahasia umum masyarakat. Sebagai contoh, untuk mendapatkan status sebagai perawat vokasi, seseorang harus menempuh pendidikan selama tiga tahun. Biaya yang dihabiskan termasuk kos dan untuk hidup sehari-hari juga bisa mencapai Rp 50 juta!

Saat sudah di fase praktik di fasilitas kesehatan, para tenaga kesehatan ini langsung dihadapkan pada beban kerja yang sangat tinggi dan membuat mereka stres. Kamu pasti tahu kan banyak tenaga medis yang kerja shift atau bertugas jauh lebih lama dari jam kerja karena banyak orang yang membutuhkan? Masalahnya, usai lulus, nggak semua nakes ini langsung bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

Tudingan Miring Semakin Membebani Kinerja Para Tenaga Medis

Di saat pemerintah nggak benar-benar serius mengendalikan virus corona, tenaga medis berjibaku dan dihadapkan pada risiko kematian yang tinggi. Mereka pun bertugas dengan penuh rasa khawatir dan hambatan yang semakin besar. Nggak hanya kesulitan karena terus memakai APD hingga sulit bernapas, makan, minum, atau buang air, mereka juga bekerja dengan banyak sekali keterbatasan.

Nggak semua orang patuh protokol kesehatan demi menekan jumlah kasus Covid-19. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Nggak semua orang patuh protokol kesehatan demi menekan jumlah kasus Covid-19. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Sayangnya, banyak orang yang menuding tenaga medis dan fasilitas kesehatan mencari untung. Ada yang menuduh mereka sebagai antek WHO atau bahkan menargetkan seberapa banyak kematian di Indonesia. Hal ini seperti membuat pengorbanan para tenaga medis ini menjadi sia-sia.

Di tengah masyarakat yang seperti belum semuanya peduli, pemerintah yang tak kunjung mengeluarkan kebijakan yang bisa menyelamatkan warganya, para tenaga medis ini seperti berjuang sendirian melawan virus yang tak kasat mata. Mereka seperti siap menyambut kematian kapan saja, seperti pahlawan yang namanya diratapi di satu hari, namun kemudian dilupakan di hari lainnya. (Det/IB09/E05)