Rahasia Kota Lama Semarang dan Gedung-Gedung Tua di Dalamnya

Rahasia Kota Lama Semarang dan Gedung-Gedung Tua di Dalamnya
Kota Lama Semarang kini kian tertata. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Di balik gedung-gedung tua bikinan Belanda, ada begitu banyak kisah yang terselip di dalamnya. Seperti apa masa lalu Kota Lama Semarang ini?

Inibaru.id – Kalau kamu menyempatkan diri ke Kota Lama Semarang, barangkali bakalan takjub dengan perubahannya. Yap, kota yang dihiasi gedung-gedung zaman Belanda ini kian menawan. Mau mengambil foto di mana pun tetap estetik.

Ngomong-ngomong soal Kota Lama, kamu sudah tahu belum tentang cerita-cerita seru di dalamnya?

Wilayah Kerajaan Mataram

Dulu, Semarang adalah bagian dari kerajaan yang ada di Yogyakarta, yaitu Kerajaan Mataram. Semarang jatuh ke tangan Belanda sebagai imbalan karena bantuan yang mereka berikan pada Sultan Amangkurat I yang kala itu menghadapi serangan Trunojoyo. Pada 1708, Semarang resmi menjadi milik Belanda yang memang sudah lama mengincarnya.

Belanda sadar betul potensi yang dipunyai Semarang. Setelah Semarang dalam genggaman, Belanda memindahkan ibukota Jawa Tengah dari Jepara ke Semarang.

Permakaman Umum

Sebelum dijadikan taman, Srigunting adalah permakaman umum. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Sebelum dijadikan taman, Srigunting adalah permakaman umum. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Tahu Taman Srigunting? Ternyata dulunya tempat itu merupakan permakaman umum. Setelah makam dipindah, daerah itu menjadi tempat untuk menyiapkan barisan tentara yang disebut Parade Plein. 

Geser sedikit, ada Gereja Blenduk atau GPIB Emanuel. Gereja ini merupakan bangunan tertua di Kota Lama. Dibangun pada 1753, dulu gereja ini berada tepat di tusuk sate jalan tersebut. Jalannya disebut Kerk Straat (Jalan Gereja).

Awalnya, Gereja Blenduk berbentuk joglo. Karena terbakar, bangunan dibangun ulang pada 1800-an dengan menambahkan Blenduk dan dua menara.

Sepelemparan batu dari Gereja Blenduk, ada gedung Oude Trap. Secara fisik, bangunan ini sudah banyak berubah, Millens. Bangunan ini dulu didirikan untuk mengadakan bazar yang menyambung dengan Parade Plein.

Lift Pertama di Indonesia

Menariknya, bangunan pertama yang menggunakan lift ada di Kota Semarang, tepatnya di Gedung Nederlandsch Indische Levensverzekerings en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ) atau perusahaan asuransi jiwa. Lift ini bertenaga listrik. Sayangnya, orang harus menutup pintunya dengan tangan.

Saat ini, lift tersebut sudah nggak berfungsi. Posisinya saja menggantung. Maklum, lift perdana ini sudah “bekerja” dari 1920.

Keunikan bangunan lain bisa kamu temukan di Gedung Jiwa Sraya. Di sana ada tangga memutar yang mirip seperti di mercusuar. Kalau naik sampai atas, kamu bisa sampai di loteng terbuka dan mengarah pada Gereja Blenduk.

Berbentuk letter L, fungsi gedung yang dibangun Thomas Karsten ini untuk mengawasi parade dan gereja. Pintu yang ada di sudut sayap kanan dan kiri berbentuk kupu-kupu sebagai ciri khas bangunan awal abad ke-20.

Berikutnya, Borneo Sumatra Maatschappij (Borsumi). Perusahaan ekspor-impor ini memegang lisensi untuk Frisian Flag. Yang unik, gaya bangunannya art deco.

Selanjutnya di seberang Borsumi adalah gedung yang kini menjadi resto Ikan Bakar Cianjur. Dulu, bangunan ini merupakan rumah singgah para pendeta gereja Blenduk. Kalau pas lagi makan di sana, kamu bisa memperhatikan tebal temboknya yang mencapai 30 sentimeter. Arsitek bangunan ini bukan orang Belanda, melainkan Tiongkok. Kamu bisa melihat atapnya yang sedikit mirip kelenteng.

Van Doof

Di Kota Lama juga ada Van Doof yaitu bangunan percetakan yang cukup terkenal pada masanya. Di sinilah Babad Tanah Jawi pernah dicetak. Menyeberang dari Van Doof, merupakan kantor media cetak bernama De Locomotif.

Kawasan Gudang

Soesmans Kantoor di Kota Lama. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Soesmans Kantoor di Kota Lama. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di Kota Lama terdapat kawasan kantor berikut gudangnya antara lain Soesman Kantoor dan Monod Huiss. Soesman Kantor menyediakan peralatan pertanian dan mengalami kemajuan pada zamannya. Sementara, Monod digunakan untuk perdagangan.

Diduga, Soesman Kantoor dimiliki oleh dua orang. Hal ini mengacu pada dua pintu yang nggak saling berhubungan. Melalui pintu sebelah kanan orang bisa naik ke lantai atas, sedangkan buntu di sebelah kiri. Kamar mandinya juga sendiri-sendiri.

Simbol Obelix

Geser ke sebelah kamu akan menemukan gedung Spaar Bank. Tempat ini didirikan Belanda agar masyarakat mau menabung. Di bangunan atas gedung ini terdapat obelix yang menjadi simbol pengetahuan.

Lanjut ya! Kalau kamu melihat gedung Bank Mandiri Mpu Tantular, dulunya merupakan Nederlandsch Handel Maatschappij (NHM). Dulu gedung ini menjadi tempat pendistribusian barang impor. Gedung ini juga berjasa bagi orang-orang Indonesia yang sedang berhaji untuk mengirimkan wesel.

Bentuk gedung ini hampir sama dengan Lawang Sewu. Sang arsitek adalah Klinkhamer dan lucunya, dia nggak pernah datang ke Indonesia. Keunikan gedung ini yaitu tangga pada bagian kanan dan kirinya. Katanya, di sana ada dua brankas berisi dokumen penting tapi nggak bisa dibuka.

Penjualan Tiket Kapal

Mengalihkan pandangan dari Bank Mandiri Empu Tantular, kamu bakal melihat gedung Pelni. Dari dulu, gedung ini menjadi tempat penjualan tiket kapal. Pada jendela, terdapat gambar jangkar. Tembok gedung juga sangat tebal lo.

Berikutnya ada gedung Liverpool & London Insurance. Gedung asuransi ini menjadi bukti kalau Inggris juga pernah menjajah Tanah Air. Tempat berikutnya adalah Taman Garuda. Di dekatnya berdiri gudang Borsumi (Borneo Sumatra Mascapaj). Hall pertama Borsumi digunakan untuk relokasi pasar Padangrani, hall kedua untuk penjualan batik, sementara hall ketiga untuk lokasi food court. Alat transaksi dengan menggunakan smart card.

Gudang Senjata

Berjalan sedikit ke arah utara, ada Prau Lajar. Hingga kini gedung ini masih digunakan sebagai pabrik rokok. Awalnya, bangunan ini merupakan kantor administrasi perusahaan listrik, sementara pembangkit listriknya ada di Tambak Lorok. Pada masa pendudukan Jepang, gedung itu dijadikan gudang senjata. Barulah selang beberapa tahun setelah Jepang angkat kaki, gedung itu dipakai PT Prau Lajar.

Prau Lajar dulu dijadikan gudang senjata oleh Jepang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Prau Lajar dulu dijadikan gudang senjata oleh Jepang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Gedung lain yang menarik adalah Marabunta. Pada masa Belanda, Marabunta digunakan untuk menampilkan pertunjukan yang cukup berkelas. Mungkin seperti Broadway kali ya?

Di atas bangunan terdapat seperti lambung kapal yang terbalik. Ventilasi pintu gedung itu dibuat tolak bala. Bisa dikatakan gedung ini merupakan gabungan budaya Eropa dan Jawa. Kisah putri salju bisa kamu temukan pada kacanya. Di gedung ini pula, Matahari pernah menari. Dia adalah penari terkenal sekaligus mata-mata.

Gedung berikutnya adalah Filosofi Kopi. Tadinya, tempat itu bernama Zikel yaitu supermarket penyedia kebutuhan sehari-hari. Di seberangnya ada Tecodeko. Tempat ini sempat menjadi rumah kost. Kalau kamu pengin meminjam sepeda, kamu bisa ke Achterhuis yang berada di belakang Tecodeco.

Sebenarnya, ada satu bangunan di Kota Lama yang sudah hancur dan menjadi tempat perdagangan yaitu Hotel Jansen. Hotel ini cukup tua dan terkenal di Kota Lama. Di sini pula, penari Matahari pernah menginap.

Bergeser ke sebelah barat, ada Gedung Herman Spiegel. Di sini, barang-barang import dijual. Dalam bahasa Jerman, Spiegel berarti kaca. Yap, kamu bisa melihat dengan jelas suasana di dalam Spiegel.

Di Kota Lama juga terdapat Tiffin yang dulu merupakan tempat minum teh dan menyediakan sarapan bergaya Inggris. Sekarang, gedung ini ditempati Indomaret. Gedung terakhir adalah Marba. Warnanya yang merah memang tampak mencolok. Banyak pengunjung Kota Lama yang menjadikan gedung ini sebagai latar mengambil foto.

Wah, banyak juga ya kisah tersembunyi di Kota Lama. Mana nih gedung yang paling berkesan buat kamu, Millens? (SM/IB21/E03)