Tangan Dingin Produsen di Balik Tren Batik Kekinian

Tangan Dingin Produsen di Balik Tren Batik Kekinian
Baju batik dengan gaya kekinian. (Inibaru.id/Ayu S Irawati)

Semakin banyak produsen batik, semakin ketat juga persaingan di antara mereka. Apa sih, kiat produsen batik agar produk-produk batik tetap diminati konsumen?

Inibaru.id – Saat ini, permintaan akan batik dan produk batik semakin meningkat. Nggak hanya permintaan dari warga Indonesia, permintaan batik di luar negeri pun sangat banyak. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), hingga Oktober 2017, nilai ekspor batik mencapai 51,15 dolar AS.

Permintaan meningkat, produksi pun tentu menyesuaikan. Nggak jarang, banyak orang yang kemudian terjun dalam bisnis batik. Hal ini membuat persaingan antarpebisnis batik semakin ketat. Belum lagi tuntuta menjadikan batik agar lebih kekinian bagi anak muda, memaksa produsen batik memutar otak.

Hal ini diakui pengelola Batik Pasha yang menjual batiknya di UMKM Center Jawa Tengah, Banyumanik, Semarang. Untuk menggaet pelanggan, produsen yang membuat secara mandiri batik tulis, cap, dan kombinasi (tulis dan cap) ini mengkreasikan motif batik yang dijual. Mereka membuat motif-motif baru pada batik yang dikerjakan para pembatik di Gedung Sobokartti, Semarang.

“Itu lebih ke arah motif batiknya. Jadi nggak melulu ini atau itu terus. Kalau monoton, pelanggan kan bosan. Harus ada gebrakan, motif yang lain dari yang lain,” papar karyawan dan pembuat handicraft di Batik Pasha Wining Dwi.

Beberapa motif Semarang yang menjadi inspirasi batiknya yakni ikon Lawang Sewu, Tugu Muda, Gereja Blenduk, warak, burung kuntul, dan burung blekok.

Batik motif semarangan. (Inibaru.id/Ayu S Irawati)

Selain itu, ada pula motif bernuansa legenda daerah yang berlatar belakang di Johar, Lawang Sewu, Kelenteng Sam Poo Kong, dan lain-lain. Sst, batik legenda ini merupakan batik tulis yang menggunakan pewarna indigo, lo. Indigo merupakan tumbuhan tropis yang menghasilkan zat celup biru. Jadi, batik tulis itu diberi pewarna alami. Nggak heran kalau harganya pun dibanderol lumayan tinggi yakni Rp 600 ribu hingga Rp 900 ribu.

Batik legenda yang punya kisah tersendiri lebih sering dipakai untuk kain bawahan yang nggak membutuhkan proses pemotongan kain. Ini bertujuan untuk tetap mempertahankan “kisah” yang ada dalam motifnya. Yap, semacam rok lilit yang lagi hype banget itu, Millens.

Suguhkan Beragam Model

Batik. (Inibaru.id/Ayu S Irawati)

Kendati batik dalam bentuk kain paling laris, Batik Pasha juga memberikan inovasi berupa model baju atasan maupun bawahan yang kekinian. Mereka menjual rok batik yang dilapisi dengan kain furing satin dan dipadukan dengan renda berukuran besar nan lucu. Cantik dan anak muda banget, deh!

Senada dengan Batik Pasha, Batik De’ Youl yang juga memiliki toko di UMKM Center Jawa Tengah memproduksi pakaian dengan model hit yang keren. Desain batik mereka juga ekslusif karena diproduksi secara mandiri. Satu hal yang unik, toko ini banyak menyajikan batik bernuansa monokrom. Yap, monokron yang banyak digandrungi anak muda itu, lo!

Nggak cuma batiknya yang monokrom, model bajunya pun beragam. Salah satu model yang dipajang adalah hoodie tanpa lengan berwarna monokrom dengan motif batik di sejumlah sisi. Model lain yang dijual yakni cardigan pendek yang bakal oke banget jika dipadukan dengan celana jeans. Nggak ketinggalan, ada juga atasan model kelelawar yang dipadukan dengan rok lilit bermotif batik!

“Tapi kalau pakaian, yang laris beda-beda. Kadang terusan, kadang hem,” jelas karyawan De’ Youl Lusi.

Nah, agar semakin dikenal dan dekat dengan anak muda, Batik De’ Youl pun mengikuti banyak pameran dan fashion week di berbagai daerah seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Palembang.

Duh, keren banget, ya. Batik pun bisa terlihat kekinian dan “anak muda banget” asal kamu bisa memadu padankannya. Jadi, masih ada yang malu pakai batik nih? (Ayu S Irawati/E04)