Punya 700 Penghargaan, Siswa Ini Nggak Lolos Masuk SMA di Jakarta

Punya 700 Penghargaan, Siswa Ini Nggak Lolos Masuk SMA di Jakarta
Aristawidya Maheswari, siswi berprestasi SMP yang nggak diterima di SMA negeri manapun di Jakarta. (Antara/Andi Firdaus)

Dari semua jalur pendaftaran yang diikuti Arista untuk masuk SMA, semuanya gagal. Padahal, dia sudah menyertakan sederet prestasinya. Seperti apa ya penjelasan Dinas Pendidikan DKI Jakarta terkait hal ini?

Inibaru.id - Meski punya 700 penghargaan, nggak menjamin Aristawidya Maheswari diterima di SMA manapun di Jakarta. Realitanya, dia nggak lolos Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2020/2021. Apa penyebabnya?

Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Syaefuloh Hidayat menjelaskan alumnus SMPN 92 Jakarta tersebut memang telah ikut beberapa jalur PPDB tahun ini. Arista mendaftar jalur afirmasi pada tanggal 19 Juni 2020. Dia memilih SMA 12, SMA 6, dan SMA 121, tetapi nggak diterima karena kalah dari segi usia.

"Seleksinya yang pertama adalah memenuhi kriteria afirmasi. Seleksi kedua memang kita menggunakan usia. Memang Arista ini usianya 15 tahun 8 bulan 2 hari pada saat PPDB," ucap Syaefuloh pada Kamis (9/7/2020).

Arista kemudian ikut jalur zonasi pada tanggal 26 Juni dengan menggunakan nilai rapor. Dia mendaftar di SMA 36, 59, dan SMA 53. Sayangnya, usahanya kembali menemui jalan buntu. Nilai rapor Arista sebanyak 7.763 masih dianggak nggak cukup karena nilai minimum yang diterima di SMA 12 8.265 dan SMA 21 8.486.

Punya segudang prestasi nggak cukup juga membantu Arista melenggang ke SMA pilihannya. (WartaKota)<br>
Punya segudang prestasi nggak cukup juga membantu Arista melenggang ke SMA pilihannya. (WartaKota)

Jalur prestasi non-akademis pun telah Arista coba. Hasilnya juga gagal karena prestasi yang diajukan oleh Arista adalah prestasi tingkat kotamadya. Hal ini dianggap nggak cukup karena jika ingin masuk ke jenjang SMA, Disdik DKI baru mau memberikan tambahan nilai kalau prestasinya di tingkatan provinsi, nasional, dan internasional.

Arista mengaku punya trofi kejuaraan tingkat nasional. Namun, Syaefuloh bersikukuh kalau sang siswa nggak menyertakannya saat mendaftar. Sebagai catatan, semua prestasi yang diraih Arista adalah di bidang seni lukis.

"Yang di-upload ke dalam sistem itu adalah sertifikat juara 1 tingkat kota. Kami kan melihat fakta," kata dia.

Disdik sudah menawarkan alternatif sekolah untuk Arista, namun titik temu belum didapatkan. Saat ditawarkan untuk masuk ke PKBM paket kesetaraan, Arista menolak. Dia ingin masuk ke SMA 12 meski nilainya nggak cukup.

Nenek Arista, Siwi Purwanti juga sudah berupaya penuh untuk mendaftarkan sekolah cucunya. (WartaKota)<br>
Nenek Arista, Siwi Purwanti juga sudah berupaya penuh untuk mendaftarkan sekolah cucunya. (WartaKota)

Meski demikian, Syaefuloh mengaku bakal kembali mengutus jajarannya untuk menawarkan Arista masuk ke sekolah swasta.

 "Kami tetap menawarkan ada PKBM paket kesetaraan paket C itu negeri dan menurut kami tidak ada bedanya antara kesetaraan dengan SMA formal. Kemudian kami juga tawarkan kalau mau ke SMA swasta ini akan didampingi, kalau kesulitan kita bantu komunikasi dengan sekolah," tutupnya.

Nenek Arista, Siwi Purwanti (60), juga menceritakan kisahnya yang sudah berusaha sebaik mungkin mendaftarkan cucunya melalui beberapa jalur PPDB, mulai dari jalur prestasi non-akademik, afirmasi untuk pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP), zonasi, hingga prestasi akademik.

Namun, Arista selalu gagal meraih kursi sekolah negeri melalui jalur-jalur PPDB tersebut. Saat mengikuti jalur prestasi non-akademik, Arista pun nggak lolos meski sudah menyertakan semua prestasi yang sudah digenggamnya sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD).

"Saya coba (mendaftarkan Arista di) enam sekolah, pertama di SMAN 12, 61, dan 21, gagal karena usia. Dicoba lagi ke SMAN 36, 59, dan 53, sama tidak keterima, kalah usia," ungkap Siwi.

Semoga bocah berprestasi ini segera diberi jalan untuk melanjutkan jenjang sekolahnya ya, Millens. (Kom/IB28/E07)