Beginilah Cara Anak Muda Semarang Mengenal Teknik Ikat Celup dalam Pewarnaan Batik

Beginilah Cara Anak Muda Semarang Mengenal Teknik Ikat Celup dalam Pewarnaan Batik
Pendiri Keikat, Rosita sedang menjelaskan teknik pewarnaan batik ikat celup kepada para peserta workshop tie dye, Sabtu (23/02/2019) di Impala Space. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Puluhan anak muda di Semarang pada Sabtu (23/02/2018) membatik bersama-sama. Mereka membatik dengan teknik ikat celup.

Inibaru.id – Tampil urakan dan kerap dianggap semaunya sendiri, kaum hippies kini justru menjadi rujukan fesyen anak muda. Pakaian bercorak tie dye yang penuh warna adalah ciri utamanya. Teknik pembuatan corak itu bahkan banyak diadopsi untuk fesyen kontemporer, tak terkecuali dalam pewarnaan batik.

Mencoba menelisik lebih jauh teknik tie dye, platform kolektif kreatif Bejana Karya pada Sabtu (23/2/2019) menginisiasi workshop teknik tie dye “Semarang Kabeh Iso Nyelup”. Workshop digelar untuk memperkenalkan teknik yang juga kerap disebut ikat celup tersebut.

Bertempat di Disenja Rooftop Impala Space, Spiegel Bar & Bistro, Kota Lama Semarang, Bejana Karya bekerja sama dengan salah satu brand batik di Semarang, Keikat. Tak sekadar memperkenalkan, workshop sehari itu juga dibuat untuk memberi keterampilan generasi muda tentang teknik ini.

Pemilik Keikat, Rosita menjelaskan cara membuat pola. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Acara ini pun disambut baik kaum millenials Semarang. Tak kurang dari 60 orang memadati acara itu. Mereka mendengarkan secara seksama penjelasan demi penjelasan yang disampaikan Nur Rosita Tri Kusumawati, pemilik Keikat.

Mulai dari pembuatan pola, mengikat, hingga mewarnai kain dipraktikkan para peserta secara berkelompok. Hasil pewarnaan itu kemudian dikeringkan di tempat yang sama dan rencana ke depan bakal dipamerkan dalam Pesta Warna yang diselenggarakan Bejana Karya 6 Maret mendatang.

Kendati teknik ini baru booming di kalangan anak muda, ikat celup sejatinya sudah ada di Indonesia sejak puluhan tahun lalu, lo. Orang-orang dulu sudah menggunakan teknik ikat celup, dengan penyebutan yang berbeda.

“Di Indonesia itu sudah ada lama. Misal, di Kalimantan itu ada Batik Sesirangan, Palembang ada Kain Pelangi, dan di Jawa ada Kain Jumputan, seperti ini,” kata Rosita, sembari menunjukkan koleksi Jumputan miliknya.

Disambut Antusiasme

Salah seorang peserta Kristania Nainggolan mengatakan, dirinya sangat antusias mengikuti acara ini. dia juga merasa senang bisa mengetahui cara pembuatan batik ikat celup ini.

“Iya emang udah suka, soalnya dulu sempet pernah mau buat usaha kaya gini. Terus pas lihat ada workshop ya langsung ikut aja,” kata gadis asal Lampung itu.

Perempuan yang kerap disapa Tania itu bahkan berencana mau mempraktikkan lagi di rumah. Wah, bisa jadi usaha nih!

Hasil kain yang sudah dicelup di pewarna. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Teknik pewarnaan ikat celup ini memang lumayan mudah. Bahan kainnya juga gampang didapatkan, misal menggunakan kain kaos atau kain katun. Tas totebag dari belacu pun bisa diwarnai pakai teknik ini. Hm, coba, kuy! (Ida Fitriyah/E03)