Presiden Prancis Tutup Masjid Pantin Usai Insiden Pemenggalan Guru

Presiden Prancis Tutup Masjid Pantin Usai Insiden Pemenggalan Guru
Grande Mosquee de Pantin, masjid yang ditutup pemerintah pasca-insiden pemenggalan guru sejarah di Prancis. (Liberation/Stéphane Lagoutte)

Pasca-insiden guru sejarah di Prancis yang dipenggal karena menunjukkan karikatur Nabi Muhammad, Presiden Emmanuel Macron menutup masjid yang menjadi tempat berkumpul kelompok Islam militan, yang diyakini terlibat dalam peristiwa berdarah tersebut.

Inibaru.id – Jumat (16/10) lalu publik dikejutkan dengan berita seorang guru sejarah di Prancis, Samuel Paty, yang dipenggal usai menggelar diskusi dan menunjukkan karikatur Nabi Muhammad. Dalam pernyataannya, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut kelompok Islam militan terlibat.

Dilansir dari Associated Press, Macron mengatakan bahwa kelompok tersebut sudah diperintahkan untuk dibubarkan, bahkan masjid yang menjadi tempat mereka berkumpul juga akan ditutup.

Masjid yang berada di pinggiran timur laut Paris, Pantin, itu ditutup selama enam bulan mulai Rabu (21/10) malam waktu setempat. Otoritas setempat juga telah memasang tanda pada pintu masjid yang menyatakan masjid ditutup selama enam bulan.

Meski polisi telah menembak mati pembunuh Samuel Paty, investigasi masih berlanjut. Fakta yang telah diungkap adalah tersangka merupakan pengungsi asal Chechnya bernama Abdoullakh Anzorov. Dia lahir di Moskwa, Rusia, dan masih berusia 18 tahun.

Ribuan orang turun ke jalanan Prancis untuk mendukung Samuel Paty. (Abcmundial)
Ribuan orang turun ke jalanan Prancis untuk mendukung Samuel Paty. (Abcmundial)

Pada Rabu pagi (21/10) waktu setempat, pejabat pengadilan mengatakan bahwa ada tujuh orang yang ditahan dalam penyelidikan kasus mengerikan itu. Dua orang di antaranya masih di bawah umur.

Meski begitu, mereka tetap harus menghadap hakim investigasi untuk dakwaan awal. Saat ini, penyelidik tengah mempelajari bagaimana pembunuh, yang tinggal di kota Evreux, Normandia, mengatur pertemuannya dengan Paty.

Usai pertemuan dengan pejabat regional yang bekerja untuk melawan kelompok Islam radikal, Macron mengatakan asosiasi dan individu lain yang diketahui terlibat atas peristiwa ini akan ikut ditutup.

Sebagai informasi, peristiwa menggegerkan tersebut memicu kecaman masyarakat Prancis. Mereka berkumpul di bawah hujan gerimis untuk menghormati Samuel Paty, guru sejarah dan geografi yang dipenggal dalam perjalanan pulang dari sekolah di Conflans-Sainte-Honorine, Paris.

Mengheningkan cipta mengenang Samuel Paty. (Indianexpress/AP/Lewis Joly)
Mengheningkan cipta mengenang Samuel Paty. (Indianexpress/AP/Lewis Joly)

Pada pertemuan kabinet yang berlangsung Rabu, Macron mengatakan, satu kelompok yang disebut Kolektif Cheikh Yassine bakal diperintahkan untuk dibubarkan. Macron meminta tindakan cepat dan konkret untuk menyelesaikan kasus ini.

Sang Presiden juga nggak ragu untuk membunyikan genderang perang terhadap apa yang dia sebut separatisme.

Hm, semoga kasus ini menjadi yang terakhir ya, Millens! (Cnn/IB21/E03)