Menjadi Anak Muda Pelestari Mangrove, Kenapa Tidak?

Aksi yang dilakukan sekumpulan pemuda ini perlu kita teladani. Dengan semangat yang membara, mereka mampu menangani abrasi yang selama ini menghantui warga pesisir Kota Semarang. Yuk intip kegiatan mereka!

Menjadi Anak Muda Pelestari Mangrove, Kenapa Tidak?
Kawasan hutan mangrove di Tapak, (Inibaru.id/Faidah Umu)

Inibaru.id – Tinggal di pesisir pantai yang bertahun-tahun terkena abrasi membuat para pemuda ini menggagas komunitas peduli lingkungan. Tekad mereka pun bertambah bulat saat lingkungan yang mereka tinggali tercemar limbah pabrik. Sekelompok pemuda itu akhirnya membuat kumpulan pemuda cinta lingkungan yang diberi nama Prenjak Tapak.

Kisah pilu dua puluh tahun lalu masih membekas di pikiran warga. Waktu itu, rob besar melanda Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Puluhan hektare tambak milik warga luluh lantak akibat kejadian itu. Tentu saja hal ini berdampak pada perekonomian warga yang anjlok karena mata pencahariannya terenggut.

Hal itulah yang menginspirasi sekelompok pemuda ini melakukan upaya preventif agar kejadian itu nggak terulang lagi. Mereka kemudian menanam mangrove di sekitar pantai dan membuat Alat Pemecah Ombak (APO). Dari pembibitan hingga pemantauan mangrove, merekalah yang bertanggung jawab.

Baca juga:
Kue dan Batik, Hasil Olahan Mangrove yang Ciamik
Membuka Mata Masyarakat Tentang Mangrove Ala Laili

“Kali pertama kami melakukan pemibibitan. Itu (bibit) diambil dari biji mangrove, kemudian ditanam di polybag dan diletakkan di tempat pembibitan. Setelah bibit lumayan besar, mungkin sekitar satu sampai dua bulan, baru ditanam di pantai. Habis itu, mangrove yang sudah ditanam terus kami pantau dan kembangkan lagi,” jelas Mufid, ketua RW 4 Dusun Tapak.

Saat ini, sekitar 200 hektare lahan di kawasan pesisir Pantai Tapak telah disulap menjadi hutan mangrove. Usaha yang mereka lakukan itu membuahkan hasil. Sungai yang tercemar kembali normal. Pantai yang terkena abrasi pun perlahan mulai pulih.

Kendati demikian, aksi tersebut masih menemui berbagai kendala. Salah satu kendala yang dihadapi komunitas yang berdiri sejak 2000 ini adalah masalah internal yang sempat membuat kegiatannya terhenti.

Selain Prenjak Tapak, komunitas lain yang bergerak pada bidang konservasi mangrove juga bisa kamu temukan di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Komunitas yang diberi nama Go Action ini juga hadir dari keresahan para pemuda atas masalah lingkungan pesisir yang dihadapinya.

Baca juga:
Ini Dia Tiga Objek Wisata Mangrove di Semarang
Menilik Manfaat Mangrove bagi Masyarakat

Komunitas ini mulai melancarkan aksinya sejak 2010 silam. Namun, nama Go Action baru digunakan sejak 2017. Komunitas yang bergerak pada bidang pendidikan dan konservasi mangrove ini digawangi Laili Fitriyanti, Ryan Aditya P, Aqilatul Muadibah, dan Kholisotul Ainiyah. Keempatnya merupakan anak dari tokoh pelestari mangrove di Mangunharjo, Sururi.

Salah satu pendiri Go Action Laili Fitriyanti mengungkapkan, upaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan pesisir itu sangat sulit. Butuh waktu sekitar dua puluh tahun untuk menyadarkan dan mengajak masyarakat dalam melestarikan mangrove.

Semangat Prenjak Tapak dan Go Action dalam menjaga wilayah pesisir patut diapresiasi nih, Millens. Berkat mereka, sebagian wilayah pesisir Semarang dapat terlindung dari abrasi. Salut deh buat Prenjak Tapak dan Go Action! (Faidah Umu/E04)