Poling di Media Sosial, Akurat kah?

Poling di Media Sosial, Akurat kah?
media sosial yang akurat(foto:http://www.cosmonoticias.org)

inibaru.id - Dewasa ini, tak dimungkiri jika perkembangan teknologi yang ada membuat arus persebaran informasi semakin cepat. Media sosial menjadi suatu hal yang banyak digandrungi masyarakat sebagai sarana untuk menyalurkan ide, gagasan, maupun unek-unek.

Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Universitas Indonesia pada 2014, selain tak berbiaya, media sosial kini banyak digandrungi anak muda dan kelas menengah. Hingga September 2016, penetrasi pengguna media sosial sudah mencapai 34% dari populasi masyarakat Indonesia. Seperti diungkapkan We Are Social, agensi marketing sosial, angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 6% dari sebelumnya 28% pada Januari 2016.

Dan seperti biasa, menjelang pelaksanaan Pilkada 2017, tren pembuatan poling melalui media sosial, seperti di Twitter biasanya cenderung meningkat. Hal tersebut bisa dilihat, salah satunya dari pelaksanaan Pilkada di DKI Jakarta. Sehari pasca pendaftaran pasangan calon, poling via Twitter terhadap pasangan calon sudah mulai bermunculan, baik yang dilakukan media daring, partai, maupun organisasi kemasyarakatan. Poling tersebut terus bermunculan bahkan hingga pada pilkada putaran kedua.

Memang tak membutuhkan waktu lama untuk merilis hasil poling semacam itu. Banyak media biasanya merilis tema poling serupa namun dengan hasil poling yang berbeda-beda. Fenomena semacam itu bukan kali pertama. Sejak 2009, hal seperti itu hampir selalu muncul pada tiap putaran pemilu. Nah, yang kerap menjadi pertanyaan adalah, apakah poling via Twitter semacam itu akurat dan bisa dijadikan penentu akhir proses pilkada?

Beberapa hal penting yang perlu dicermati oleh para pemilih, kandidat, maupun partai politik, dari publikasi hasil survei ialah siapa yang menyelenggarakan survei tersebut? Bagaimana kredibilitas, integritas, dan profesionalitas mereka? Bila survei dilakukan oleh lembaga yang tidak memenuhi kaidah keilmuan, hasilnya tentu saja diragukan.

Namun bila survei dilakukan secara benar dan menggunakan metodologi yang ketat, biasanya hasil survei mampu memprediksi pemenang pemilu, jauh sebelum pemilu dilaksanakan. Kalau pun terjadi perbedaan hasil poling antar lembaga, hasilnya biasanya tidak terlalu signifikan. Terlebih jika tidak ada peristiwa politik besar yang terjadi. (IP)