Piala Citra yang Tiada Terduga

FFI tahun ini menyajikan banyak kejutan menarik dari sejumlah kategori. Apa saja ya kira-kira?

Piala Citra yang Tiada Terduga
Kiri ke kanan: aktor Reza Rahadian, Ketua FFI 2017 Leni Lolang, Humas FFI 2017 Cathy Sharon, dan Riri Riza serta dua pembawa acara. (Beritagar/Indra Rosalia)

Inibaru.id – Film Posesif (2017) berhasil menyabet dua gelar prestisius pada gelaran Festival Film Indonesia (FFI) yang berlangsung di Manado pada Sabtu, 11 November 2017 lalu. Film bergenre romantic-suspense membawa Edwin menjadi Sutradara Terbaik dan Putri Marino sebagai Pemain Utama Wanita Terbaik.

Keikutsertaan Posesif dalam FFI sempat disoal lantaran film ini sebenarnya belum tayang di bioskop Tanah Air saat penjurian dilakukan. Film yang dibintangi aktor Adipati Dolken itu bahkan telah dinominasikan dalam 10 kategori FFI sebelum Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) resmi diterbitkan.

Dikutip dari Liputan6 (25/10/2017), Ketua Bidang Penjurian FFI 2017 Riri Riza menjelaskan, tahun ini FFI memang memperbolehkan film masuk dalam nominasi tanpa harus ditayangkan terlebih dahulu di bioskop.

“Jadi sebelum diputar untuk publik, Posesif sudah melakukan beberapa pemutaran sendiri yang dihadiri pihak asosiasi. Sehingga dengan berbagai pertimbangan kami menerima film ini,” jelas sutradara 47 tahun itu.

Terlepas dari pro-kontra yang menyertainya, pencapaian Posesif dalam ajang yang juga dikenal sebagai Piala Citra ini tentu sangatlah istimewa, terlebih bagi Putri Marino. Kita tahu aktris 23 tahun itu adalah pendatang baru. Perannya sebagai Lala dalam Posesif juga merupakan penampilan perdananya.

Baca juga:
Proses Panjang Produksi “Night Bus”
Menuju Format Terbaik Piala Citra

Pencapaian tersebut tak ubahnya aktris legendaris Christine Hakim yang memenangi Piala Citra dalam film pertamanya, Cinta Pertama (1973).

Begitupun dengan Edwin. Bukan, dia bukan sutradara baru. Kiprahnya di dunia perfilman sudah berlangsung lama. Karyanya juga sudah banyak diikutkan dalam berbagai festival film dunia. Namun, untuk film mainstream di Indonesia, Posesif adalah film perdananya.

Kejutan

Tak hanya dua kategori itu, kejutan juga terjadi dalam sejumlah kategori utama FFI. Kejutan pertama peraih muncul untuk kategori Film Terbaik. Dilansir dari Beritagar, Minggu (12/11/2017), peraih film terbaik Piala Citra 2017 diraih Night Bus.

Di antara nomine Film Terbaik lain, film yang diproduseri Darius Sinathrya itu merupakan yang paling tidak familiar di telinga. Seminggu ditayangkan di 105 bioskop seluruh Indonesia, film ini “hanya” membukukan 10 ribu penonton. Namun, semua itu cukup untuk menjadikan film besutan Emil Heradi tersebut sebagai peraih enam Piala Citra, termasuk gelar Film Terbaik.

Proses panjang Night Bus  terbayar lunas. Film yang memulai proses pembuatan sebelum 2014 ini memang istimewa. Diadaptasi dari cerpen “Selamat” (2011) karya Teuku Rifnu Wikana yang juga menjadi pemeran utama dan produser, film ini mengambil latar daerah konflik di Aceh pada 1999.

Peran apik Teuku Rifnu dalam Night Bus juga membawa aktor asal Aceh itu meraih Pemeran Utama Pria Terbaik. Dalam film itu, ia memerankan tokoh Bagudung, seorang kondektur bus.

Baca juga:
Sampul “Luka dalam Bara” Masuk Daftar Anugerah Pembaca Indonesia 2017
Pesona Kevin Lilliana Hingga Dinobatkan Sebagai Miss International 2017

"Peran saya kernet (kondektur) yang diselamatkan lalu dibesarkan sopir. Karakter (kernet) ini lucu, selalu bercanda, tapi tiba-tiba ia harus berada dalam sebuah konflik," ungkap Teuku.

Berikut adalah Daftar Lengkap Peraih Piala Citra dalam FFI 2017

Penghargaan Seumur Hidup: Budiyati Abiyoga (produser)

Penata Busana Terbaik: Gemailla Gea Geriantiana, Night Bus

Penata Rias Terbaik: Cherry Wirawan, Night Bus

Pengarah Artistik Terbaik: Allan Sebastian, Pengabdi Setan

Penata Efek Visual Terbaik: Finalize Studios (Heri Kuntoro, Abby Eldipie), Pengabdi Setan

Penata Musik Terbaik: Aghi Narottama, Tony Merle, Bemby Gusti, Pengabdi Setan

Pencipta Lagu Terbaik: The Spouse, "Kelam Malam" untuk Pengabdi Setan

Penata Suara Terbaik: -

Penyunting Gambar Terbaik: Kelvin Nugroho, Sentot Sahid, Night Bus

Film Animasi Pendek Terbaik: Lukisan Nafas, Fajar Ramayel

Film Pendek Terbaik: Ruah, Mabul Mubarak

Film Dokumenter Pendek Terbaik: The Unseen Words, Wahyu Utami Wati

Film Dokumenter Panjang Terbaik: Bulu Mata, Tony Trimarsanto

Penulis Skenario Asli Terbaik: Ernest Prakasa, Cek Toko Sebelah

Penulis Skenario Adaptasi Terbaik: Rahadi Mandra, Teuku Rifnu Wikana, Night Bus, adaptasi cerita pendek “Selamat” karya Teuku Rifnu Wikana

Pengarah Sinematografi Terbaik: Ical Tanjung, Pengabdi Setan

Pemeran Anak Terbaik: Muhammad Adhiyat, Pengabdi Setan

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik: Christine Hakim, Kartini

Pemeran Pendukung Pria Terbaik: Yayu Unru, Posesif

Pemeran Utama Wanita Terbaik: Putri Marino, Posesif

Pemeran Utama Pria Terbaik: Teuku Rifnu Wikana, Night Bus

Sutradara Film Terbaik: Edwin, Posesif

Film Terbaik: Night Bus

(GIL/SA)