Pertikaian di Demak yang Melibatkan Dua Wali

Pertikaian di Demak yang Melibatkan Dua Wali
Masjid Agung Demak, menjadi bangunan peninggalan Kesultanan Demak. (Commons Wikimedia)

Perebutan kekuasaan Kesultanan Demak setelah meninggalnya Pati Unus telah memakan begitu banyak korban. Perang saudara yang panjang ini bahkan menyeret Sunan Kudus dan Kalijaga. Masing-masing memiliki jagoan untuk menduduki kursi Kesultanan Demak. 

Inibaru.id – Runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur, membuat daerah-daerah lain ikut melepaskan diri dan membangun kerajaan mereka masing-masing. Salah satu pecahan kerajaan bercorak Hindu-Buddha itu adalah Kesultanan Demak. Memilih landasan yang berbeda dengan leluhur, Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa.

Kesultanan Demak didirikan pada awal abad ke-15 oleh Raden Patah. Dia merupakan putra Brawijaya V, raja Majapahit dengan istri selir bernama Siu Ban Ci. Dirinya memimpin Demak Bintoro pada 1500 hingga 1518.

Setelahnya, tampuk kepemimpinan dilanjutkan Pati Unus. Joko Darmawan dan Rita Wigira Astuti dalam Sandyakala: Kejayaan & Kemashyuran Kerajaan Nusantara (2018) menuliskan, ada dua versi terkait Pati Unus. Ada yang menyebut Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor ini adalah putra Raden Patah, namun sebagian menduga Pati Unus merupakan menantu Raden Patah. Meski begitu, kedua versi ini menyebut dia berkuasa pada 1518 hingga 1521.

Selanjutnya, tahta Kerajaan Demak dipegang adiknya, Sultan Trenggono dari 1521 hingga 1546. Di sini, Demak menjadi kerajaan yang meraih masa jaya cukup gemilang. Sultan Trenggono juga dikenal sebagai pemimpin bijaksana dan bernyali besar dalam urusan ekspansi wilayah.

Awal Konflik Memanas

Sepeninggal Sultan Trenggono, muncullah masalah baru terkait siapa pewaris selanjutnya. Tak lama usai pemakaman Raja ketiga Demak ini, Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir mengumumkan dirinya sebagai penguasa Demak di wilayah Pajang. Dia adalah menantu Sultan Trenggono.

Self proclaim yang dilakukan Jaka Tingkir ini rupanya nggak bisa ditolak. Pasalnya, semua orang takut akan kesaktian Jaka Tingkir. Lagi pula, Jaka Tingkir juga masih mewarisi darah Majapahit sebagaimana pendiri Demak, Raden Patah. 

Walaupun secara trah Jaka Tingkir cukup berhak, tapi bukan berarti nggak ada saingan. Ada Pangeran Arya Panangsang atau Adipati Jipang yang juga menginginkan tahta. Dia adalah cucu Raden Patah dari putranya, Surowiyoto atau Pangeran Sekar Seda Lepen. Sebelum meninggal, ayahnya merupakan kandidat kedua pengganti Raden Patah. Namun, Sultan Trenggono sudah lebih cepat melangkah dan berhasil menjadi raja.

Sebenarnya, dibanding Jaka Tingkir atau Arya Jipang, Sunan Prawata dinilai lebih tepat menggantikan Sultan Trenggana, ayahnya. Awalnya, laki-laki yang bernama lahir Raden Mukmin ini lebih senang menjadi seorang ulama di wilayah Prawata. Oleh Sunan Kalijaga, dia dibujuk untuk naik tahta.

Ilustrasi peperangan pasukan Jipang melawan pasukan Pajang. (Sindo News)
Ilustrasi peperangan pasukan Jipang melawan pasukan Pajang. (Sindo News)

Terseretnya Dua Wali Dalam Kisruh Internal

Konflik antara Jipang dan Pajang yang kian memanas, meresahkan rakyat. Demi meredam semua itu, Sunan Kudus didapuk menjadi penengah kedua raja yang berselisih. Dia lantas mengangkat Jaka Tingkir, Arya Panangsang, dan Sunan Prawata menjadi muridnya.

Namun kemudian muncul masalah baru ketika Jaka Tingkir dan Sunan Prawata justru membelot dan berguru juga kepada Sunan Kalijaga. Berdasarkan buku Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senopati ciptaan De Graaf, situasi ini membuat Sunan Kudus merasa wibawanya tercoreng.

Hanya Arya Panangsang yang masih setia menjadi murid Sunan Kudus. Kondisi ini membuat hubungan Sunan Kudus dan Kalijaga menjadi tegang. Sebenarnya, sebelum terseret dalam konflik politik Demak, kedua wali sanga ini kerap berseberangan sudut pandang termasuk ketika penentuan bulan Ramadan.

Konon, perbedaan pandangan ini membuat Sunan Kudus mundur sebagai Imam Masjid Demak dan digantikan Sunan Kalijaga.

Meski sempat "tersingkir" dari Demak, Sunan Kudus tetap memberikan dukungan untuk Arya Panangsang. Saking getolnya dukungan sang Sunan kepada muridnya ini, banyak yang menganggap pembunuhan Sunan Prawata setelah menjadi raja oleh Arya Panangsang merupakan "bisikan" darinya.

Meski tuduhan ini masih diragukan, namun lain halnya dengan Ratu Kalinyamat. Janda Sultan Hadlirin yang juga adik Sunan Prawata ini percaya ada peran Sunan Kudus di balik pembunuhan suami dan kakaknya. Dia lantas meminta keadilan pada Sunan Kudus. Sayangnya, jawaban yang diterima Ratu Kalinyamat nggak disangka.

Sunan Kudus berkata bahwa sudah menjadi hal wajar jika nyawa dibalas nyawa. Perkataan ini seolah mengingatkan ratu pada pembunuhan yang juga pernah dilakukan Sunan Prawoto kepada ayah Arya Panangsang. Juga, diduga ada keterlibatan suaminya, Pangeran Kalinyamat atau Sultan Hadlirin. Pembunuhan ini dilakukan untuk memuluskan jalan Trenggono menjadi raja.  

Hm, bisa saja sih perkataan Sunan Kudus itu sengaja dilontarkan agar perseteruan internal Demak usai sampai di situ, mengingat tangan-tangan berdarah telah menerima hukumannya. Tapi memang mengenai keterlibatan Sunan Kudus dalam pembunuhan Sunan Prawoto masih belum menemui titik terang. 

Sepenginggal Sunan Prawoto beserta permaisurinya, otomatis Jaka Tingkir yang menjadi raja dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Dia lantas memindahkan ibu kota ke Pajang dan menjadi raja pertama di sana. Dengan berdirinya Kerajaan Pajang pada 1568, berakhirlah Kesultanan Demak. Lalu, bagaimana dengan Arya Panangsang? Dia tewas usai adu kesaktian dengan putra Ki Ageng Pemanahan. 

Duh, perang saudara memang memiliki efek yang sangat mengerikan ya, Millens? Sungguh disayangkan ada begitu banyak darah yang harus tumpah demi sebuah tahta. Gimana menurutmu? (Tir,Kom,His,Voi,Gem/IB31/E05)