Pernikahan Pertama di Tanah Merah, Cinta Bersemi di Pembuangan

Pernikahan Pertama di Tanah Merah, Cinta Bersemi di Pembuangan
Cinta bisa bersemi di mana saja dan dalam keadaan apa saja. Seperti kisah Wiranta dan Nyi Cacih ini. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Kisah Wiranta dan Nyai Cacih yang memadu kasih dalam pembuangan Boven Digul dan menjadi pasangan pertama yang melangsungkan pernikahan di Tanah Merah. Seperti apa kisahnya?

Inibaru.id - Pernahkah kamu mendengar kisah mengenai Wiranta dan Nyi Cacih? Mereka adalah pengantin pertama di kamp Tanah Merah, Boven Digul, yang merupakan tempat pembuangan para pembangkang kolonial. Pengasingan ini ada di Papua sebelah selatan. Meskipun mereka dibuang ke tempat pengasingan bak neraka, namun nggak membuat kisah cinta Wiranta dan Nyi Cacih terhalang.

Desember 1926, menjadi awal kisah cinta mereka, karena pada masa itulah mereka mengikuti rombongan pertama. Wiranta dan Nyi Cacih merupakan penduduk yang berasal dari Bandung. Wiranta yang berprofesi sebagai guru dan wartawan. Sementara itu, Nyi Cacih merupakan seorang gadis berusia 14 tahun yang turut dibuang bersama ayahnya, Sukanta Atmaja. Dia adalah seorang pegawai kereta api di Bandung. 

Mereka berlayar bersama kurang lebih 300 orang dari Tanjung Priuk menuju Surabaya, transit di Makassar dan Ambon, lalu ke muara Sungai Digul di Merauke. Dari muara, mereka pun menyusuri sungai menuju ke Tanah Merah. Meskipun pelayaran yang mereka lakukan tersebut cukup melelahkan, namun hal inilah yang mendekatkan Wiranta dan Nyi Cacih. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Wiranta dan Nyi Cacih saling jatuh cinta.

Dilansir dari Pikiran Rakyat, setelah delapan bulan berada di Digul, Wiranta memberanikan dirinya untuk menghadap Asisten Residen. Hal tersebut dilakukan untuk meminta izin untuk melangsungkan pernikahan dengan Nyi Cacih. Namun karena belum terbentuknya Dinas Agama (Islam), Asisten Residen bingung.

Beruntungnya ada seorang buangan asal Surakarta yang merupakan murid Haji Misbach yakni Harun Al-Rasyid yang kemudian ditunjuk sebagai penghulu. Uton dan Dasri yang merupakan sahabat Wiranta pun menjadi saksi. Tepat pada tanggal 10 Agustus 1927, Wiranta dan Nyi Cacih pun melangsungkan pernikahannya. Mereka pun menjadi pasangan pertama yang menikah di kamp pembuangan Tanah Merah, lo.

Potret Boven Digul. (Arsip Nasional via Indonesia.go.id)
Potret Boven Digul. (Arsip Nasional via Indonesia.go.id)

Di balik itu semua ternyata pernikahan yang telah mereka langsungkan nggak dicatat di kantor pencatat nikah, Millens. Hal ini dianggap sebagai pembangkangan oleh pihak kolonial. Dalam Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan Seri Perjuangan Ex Digul,Sunaryo dkk., mengatakan alasan nggak tercatatnya pernikahan mereka di kantor pencatatan nikah pemerintah kolonial dikarenakan adanya anjuran dari orang-orang Sarekat Islam.

Nggak sampai disitu, pernikahan Wiranta dan Nyi Cacih masih tetap berlanjut dengan mengadakan pesta oleh seluruh penghuni kamp tersebut. Asisten Residen pun turut serta dalam pesta tersebut. Namun setelah pesta berakhir, Asisten Residen Boven Digul dicopot. Hal ini dikarenakan dia terlalu memanjakan tahanan dan dianggap bersekongkol dengan para tahanan yang menyebabkan anggaran pemerintah kolonial untuk Boven Digul juga ikut terkuras.

Sementara itu, nasib pernikahan Wiranta dan Nyi Cacih justru berlangsung hingga mereka bebas dari Boven, Digul. Kabarnya mereka dikaruniai tiga orang anak dan 17 cucu, lo, Millens.

Wah, sungguh menarik ya kisah Wiranta dan Nyi Cacih. Meskipun banyak rintangan yang menghampiri, mereka tetap bisa melewati itu semua.

Betewe, selama diasingkan di Digul, Wiranta sempat menulis beberapa tulisan seperti "Antara Hidup dan Mati" atau "Buron dari Boven Digul" yang diterbitkan dalam Cerita dari Digul yang disusun Pramodya Ananta Toer. (His/MG42/E05)