Perjuangan Mindat: Perlawanan Kota Kecil Melawan Rezim Militer Myanmar

Perjuangan Mindat: Perlawanan Kota Kecil Melawan Rezim Militer Myanmar
Ilustrasi militer menyerang Mindat, Myanmar, Sabtu (15/5). (REUTERS/Athit Perawongmetha via CNN)

Hampir di setiap sudut Myanmar diliputi ketakutan. Nggak terkecuali Kota Mindat. Kota yang berpenduduk kurang dari 50.000 jiwa itu diserbu militer. Di sana merupakan tempat kelompok milisi lokal yang gigih melawan kesewenangan angkatan bersenjata Myanmar. 

Inibaru.id – Mindat berada di punggung bukit di Negara Bagian Chin, Myanmar Barat. Populasinya kurang dari 50.000 jiwa. Meski begitu, kota kecil ini menginspirasi seluruh Myanmar melakukan unjuk rasa menentang militer. Setiap hari, di jalan-jalan slogan “Perjuangan Mindat” bisa ditemukan.

Yap, dari kota inilah protes kudeta militer pada 1 Februari 2021 bermula. Dari informasi yang beredar, adanya unjuk rasa dengan mengatasnamakan Mindat berawal dari penangkapan tujuh aktivis yang memasang poster anti-kudeta di kota tersebut.

Aksi kudeta di Mynmar dilatarbelakangi militer yang menuduh Partai Liga Nasional untuk Demokrasi telah curang dalam pemilu. Terpilihnya partai ini membuat pihak militer yang telah lama menguasai Myanmar nggak terima. Mereka pun menangkap beberapa pentolan partai dan membungkam siapa saja yang berani menentang militer.

Konfrontasi antara militer dan warga telah berlangsung tiga bulan. Sudah ratusan warga sipil yang meregang nyawa.

Riwayat Perjuangan Warga Mindat

Penduduk di Mindat menuturkan perjuangan mereka. Pada bulan pertama, mereka bisa mengadakan aksi unjuk rasa dengan sepeda motor di sepanjang jalan yang berbatasan dengan India. Tapi, mulai Maret, mereka juga kena “jatah” kekejaman militer Myanmar seperti wilayah lainnya.

Ratusan nyawa gugur di seluruh Myanmar. Belum lagi penangkapan beberapa orang yang dianggap bersalah. Hal ini membuat para aktivis memikirkan cara untuk bisa melawan.

Sayangnya, di beberapa tempat, mereka nggak punya banyak pilihan. Beda dengan mereka yang berada di Myanmar Barat, ada tradisi di antara orang-orang etnis Chin yang membuat senjata berburu panjang, yang disebut tumi. Senjata ini diizinkan penggunaannya oleh pemerintah.

Penduduk Mindat gigih melawan militer. (BBC via Viva)
Penduduk Mindat gigih melawan militer. (BBC via Viva)

Dengan kekuatan yang ada, mereka mulai membentuk "kekuatan pertahanan rakyat", untuk melakukan perlawanan bersenjata terhadap rezim militer. Akhir Maret, bentrokan bersenjata pertama terjadi di sejumlah daerah dengan populasi Chin.

Sebenarnya, Negara Bagian Chin sudah lama mengalami pelanggaran sistematis di tangan junta. Bahkan sejak Myanmar merdeka pada 1948, orang-orang Chin lantas membentuk Front Nasional Chin (CNF) dan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Sayangnya, usaha mereka nggak selalu berhasil.

Pemberontakan bersenjata sporadis yang mereka lakukan pada 1990-an gagal. Ribuan sipil Chin menyelamatkan diri dengan menyeberang ke India untuk menghindari pembalasan militer. Kini hanya tersisa sedikit pejuang CNF dan akhirnya mereka setuju untuk melakukan gencatan senjata dengan pemerintah pada 2012 silam.

Gencatan bersenjata ini membuat mereka nggak bisa melindungi atau membantu kelompok yang menentang kudeta. Para aktivis yang nggak bisa lagi berharap pada CNF akhirnya membentuk Chinland Defense Force (CDF). Kelompok ini merupakan milisi di seluruh negara bagian sebagai koordinator perlawanan.

Nah, salah satu cabang CDF berada di Mindat. Februari lalu para pejabat lokal yang setia kepada pemerintah yang digulingkan sudah mendeklarasikan "Tim Administrasi Rakyat" untuk menjalankan Mindat dengan menentang militer.

Pada 24 April lalu, mereka menuntut pembebasan lima orang yang ditahan sebelumnya. Menurut saksi, begitu terdengar suara tembakan, kedua kelompok saling menembak. Menurut catatan, 3 orang polisi tewas.

Aung San Suu Kyi ditangkap oleh militer dengan tuduhan kecurangan dalam pemilu yang dimenangkan partainya. (REUTERS/Athit Perawongmetha via Tempo)
Aung San Suu Kyi ditangkap oleh militer dengan tuduhan kecurangan dalam pemilu yang dimenangkan partainya. (REUTERS/Athit Perawongmetha via Tempo)

Selama tiga hari, militer mencoba memperkuat diri. Tapi, masih kalah dengan milisi Mindat yang menggunakan pengetahuan lokal. Jadi, mereka menyergap dua konvoi militer, menghancurkan beberapa truk, dan mengklaim menghabisi 15 tentara.

Tahu pihaknya akan kesulitan, pihak militer menawarkan gencatan senjata pada 27 April. Mereka bersedia membebaskan 7 orang aktivis yang ditahan dan sebagai gantinya, CDF membebaskan 20 tentara yang terperangkap.

Setelah itu, polisi dan tentara mundur dari Mindat. Sebagian besar pertempuran berhenti selama dua minggu berikutnya. Tapi ini belum selesai, Millens. Tentara masih berusaha masuk Mindat dan CDF masih berupaya membebaskan 5 orang aktivis yang masih ditahan. Hal itu kemudian memicu bentrokan baru pada 12 Mei.

Hari berikutnya, junta mengumumkan darurat militer di Mindat dan mulai menghujani kota itu dengan lebih banyak peluru, mortir, dan granat berpeluncur roket. Sebagai balasannya, CDF menyergap konvoi militer, membakar truk dan merampas senjatanya. Sebagian tentara yang selamat akhirnya melarikan diri. Menanggapi hal itu, kini tentara juga menggunakan helikopter untuk memperkuat pasukan.

Tentara dan Tameng Manusia

Pada 15 Mei, tentara kembali memasuki Mindat dan menggunakan warga sebagai tameng. Pejuang CDF akhirnya terpaksa mundur ke hutan bersama ribuan penduduk.

"Kami berlari untuk hidup kami," kata seorang aktivis kepada BBC. "Ribuan orang berada di hutan. Hanya bayi dan orang tua yang tersisa di kota. Hampir semua anak muda telah mengangkat senjata dan bergabung dengan CDF."

Sekitar 2.000 pengungsi kini tinggal di empat kamp, di samping desa-desa kecil yang bisa ditempuh beberapa jam berjalan kaki dari Mindat. Tentu saja keadaan mereka begitu memprihatinkan karena kekurangan pangan, tinggal di tempat nggak layak, dan minim pengobatan.

Nggak pengin keadaan terus berlarut-larut, CDF sedang merencanakan langkah selanjutnya. Kemungkinan, mereka bakal menggunakan tumi dengan senjata yang lebih modern. Duh, semoga keadaan di Myanmar segera membaik ya, Millens. (BBC/IB21E07)