Beda dari Yang Lain, Karang Taruna Ini Sambut Sumpah Pemuda dengan Menggelar Pentas Budaya

Beda dari Yang Lain, Karang Taruna Ini Sambut Sumpah Pemuda dengan Menggelar Pentas Budaya
Orkes Kerontjong Karimoeni menjadi salah satu pengisi acara di Kadal Menek. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Berbeda dengan perayaan biasa, Karang Taruna Tunas Muda menggelar acara kolaborasi seni untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda. Mengangkat tajuk "Kadal Menek", penyelenggara pengin merefleksi semangat pemuda yang pantang menyerah untuk mendapatkan apa yang dituju.

Inibaru.id – Hari Sumpah Pemuda biasanya diperingati dengan orasi yang mengebu-gebu ataupun refleksi tentang perjuangan anak muda zaman dulu untuk bersatu. Namun, ada yang berbeda dengan Karang Taruna Tunas Muda Krapyak, Semarang. Sebuah pentas budaya hasil kolaborasi pelbagai komunitas mereka gelar pada Sabtu (27/10/2018) malam lalu.

Bertajuk “Kadal Menek”, acara yang digelar di pelataran Omah Kampung, Krapyak, itu memang sengaja dibikin "lain" dari peringatan yang dilakukan di kampung pada umumnya. Pembina Karang Taruna Tunas Muda Tri Subekso mengatakan, pemuda karang taruna itu identik dengan laden (pelayan) yang cuma dibutuhkan saat lomba 17-an. Itu nggak pas!.

“Nggak banyak yang mengadakan kegiatan seperti ini (pentas budaya). Mereka juga masih kurang berkolaborasi dengan komunitas-komunitas yang ada,” terang lelaki yang akrab disapa Bekso itu.

Dia berharap, acara itu bisa menginspirasi karang taruna lain agar mengadakan kegiatan serupa. Jadi, Sumpah Pemuda bisa diperingati dengan cara yang lebih kreatif.

Para peserta yang hadir di acara Kadal Menek. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Selain itu, pada kesempatan itu Bekso juga berharap para pemuda kampung bisa saling berkolaborasi sesuai dengan bidangnya masing-masing, agar bisa saling melengkapi.

Filosofi Kadal Menek

Kadal Menek sengaja dipilih sebagai tema dalam gelaran seni budaya di Krapyak tersebut. Dalam bahasa Jawa, "kadal menek" berarti kadal yang sedang memanjat. Ini terinspirasi dari salah satu model sanggul seorang penari dalam pergelaran itu.

“Pola lengkungan rambut yang bergelombang seperti jalan seekor kadal punya semangat optimistis. Intinya, anak muda itu selalu punya cara untuk optimistis dalam menghadapi setiap rintangan yang menghadang jalannya,” jelas Bekso.

Nggak kurang dari enam komunitas dari disiplin yang berbeda turut tampil pada acara ini.

Ada komunitas Wayang Tenda Nandang Wuyung yang menampilkan pertunjukan wayang dari sebuah tenda. Ada juga petunjukan musik band. Bahkan, komunitas musik keroncong Orkes Kerontjong Karimoeni pun hadir dan menunjukkan kebolehannya di sini. Selain itu, acara tersdebut juga diisi orasi budaya dari Direktur Hysteria Adin.

Orkes Kerontjong Karimoeni salah satu pengisi acara Kadal Menek. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Salah seorang pengunjung Kadal Menek Novi mengatakan senang dengan acara tersebut. Penikmat musik keroncong ini mengaku senang bisa menyaksikan pertunjukan keroncong secara langsung.

“Menurutku acaranya asyik. Senang bisa menyaksikan pertunjukan keroncong secara langsung, kalau selama ini kan cuma dengar dari mp3. Apalagi rata-rata anggota yang tampil keroncong tadi itu masih muda. Wah, rasanya luar biasa sekali, semacam menemukan kawan berselera sama,” kata Novi.

Wah, asyik! Kadal Menek berhasil mengawinkan semangat pemuda dan semangat kolaborasi berkesenian. Salut! (Ida Fitriyah/E03)