Perguruan Tinggi Negeri Diwajibkan Putar Indonesia Raya di Kampus, Buat Apa?

Perguruan Tinggi Negeri Diwajibkan Putar Indonesia Raya di Kampus, Buat Apa?
Perguruan Tinggi Negeri nantinya diwajibkan memutar lagu Indonesia Raya di kampus setiap Selasa dan Kamis. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Demi memupuk nasionalisme, kini perguruan tinggi negeri (PTN) diminta untuk memutar Indonesia Raya di kampus setiap Selasa dan Kamis. Tujuannya demi memupuk nasionalisme anak muda. Apakah bakal efektif?

Inibaru.id – Surat Edaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nomor 13 tahun 2021 meminta kampus-kampus perguruan tinggi negeri untuk memutar lagu Indonesia Raya setiap hari Kamis Selasa dan Kamis pukul 10.00 pagi.

Surat edaran ini berjudul Pelaksanaan Apel bagi Pegawai di Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi dan ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek Ainun Na’im pada Rabu (21/7/2021).

Dalam surat edaran ini pula, disebutkan kalau setiap Senin, kampus negeri harus melakukan upacara bendera. Sementara pada Rabu dan Jumat, bakal dibacakan naskah Proklamasi.

Lantas, apa sih alasan mengapa kampus negeri harus memutar lagu Indonesia Raya? Hal ini disebabkan oleh keinginan Kemendikbudristek memelihara sekaligus meningkatkan rasa cinta tanah air kepada generasi muda. Selain itu, anak muda diharapkan bisa meningkatkan rasa kebangsaan dan ketaatan kepada Pancasila serta UUD 1945.

Nah, sebuah pertanyaan muncul. Bukankah sekarang kita berada di masa pandemi sehingga kampus-kampus juga nggak ada kegiatan belajar mengajar tatap muka alias belajar di rumah? Nah, jadi gini, Millens. Soal apel atau upacara ini, bisa kok dilakukan secara daring.

Ada satu catatan lagi, saat pembacaan naskah Pancasila atau lagu Indonesia Raya dilantunkan, seluruh pejabat dan pegawai di kantor yang melakukan tugas kedinasan harus berdiri dengan tegak dan menunjukkan sikap hormat.

Karena masih di masa pandemi, upacara atau apel dilakukan secara daring. (Inibaru.id/Audrian F)
Karena masih di masa pandemi, upacara atau apel dilakukan secara daring. (Inibaru.id/Audrian F)

Sebenarnya, apakah hal ini bakal efektif untuk memupuk rasa nasionalisme? Kalau menurut pengamat kebijakan publik dari UI Agus Pambagio, bagi anak muda, aturan-aturan ini bakal nggak efektif. Sebaliknya, kalau yang disasar adalah generasi tua, mungkin bakal efektif.

“Kalau disebut kemunduran sih tidak, tapi paling hanya menjadi sekadar nostalgia historis saja. Pengaruhnya apa? Bisa dibilang nggak ada,” ujarnya.

Agus dengan tegas menyebut nasionalisme bagi anak muda nggak bisa ditumbuhkan dengan menyanyikan atau menghapalkan lagu kebangsaan. Banyak dari mereka yang menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang formalitas dan nggak memberikan makna apapun.

Beda cerita kalau negara mampu hadir di berbagai sendi kehidupan mereka. Hal ini, tanpa perlu ada embel-embel naskah Pancasila, menyanyikan lagu kebangsaan, atau proklamasi, bisa meningkatkan rasa nasionalisme.

Contohlah, negara memastikan masyarakat mendapatkan fasilitas dan infrastruktur yang baik. Kepastian mendapatkan hidup layak juga diperhatikan. Nah, kalau sekarang, banyak orang yang masih merasa hidupnya susah dan ketidakpastian, tentu saja hal ini membuat mereka nggak bangga dengan negaranya sendiri.

Hm, kalau menurut kamu, kewajiban memutar lagu Indonesia Raya di kampus perguruan tinggi negeri ini bakal efektif meningkatkan rasa nasionalisme anak muda atau malah bakal jadi hal yang percuma saja, nih, Millens? (Asum/IB09/E05)