Perbedaan Hasil Poling di Medsos, Percaya Nggak Percaya

Perbedaan Hasil Poling di Medsos, Percaya Nggak Percaya
hasil pilkada di medsos(Foto:google)

inibaru.id-Pasca debat pilkada DKI beberapa waktu lalu, tak sedikit media-media kredibel merilis poling calon pasangan kepala daerah lewat akun Twitter mereka. Dari poling yang disajikan, tampak hasil surveinya berbeda satu sama lain. Apa pasal?

Beberapa faktor menjadi alasan mengapa hasil poling yang dirilis berbeda-beda. Pertama, periode pelaksanaan survei. Survei merekam opini publik yang selalu bergerak dan berubah, itu sebabnya waktu survei akan berpengaruh pada hasilnya. Survei yang dilakukan beberapa bulan sebelum pemilu tentu hasilnya akan berbeda dengan survei yang dilakukan pada seminggu sebelum pemilu.

Kedua, perbedaan metodologi. Metodologi survei mencakup berapa responden yang menjadi sampel, bagaimana proses penarikan sampel, bagaimana proses pengacakan sampel serta bagaimana proses quality control dilakukan. Dalam proses penarikan sampel, bisa ditarik ke beberapa hal detail lagi yakni, apakah penarikan sampel tersebut menggunakan metode sampel acak bertingkat (multi-stage random sampling) atau menggunakan cluster sampling.

Jumlah sampel yang diambil juga berpengaruh pada hasil survei dan tingkat margin of error (Rumsey, 2010). Tingkat margin of error ditentukan oleh seberapa banyak sampel yang diambil dari populasi dan berapa tingkat kepercayaan yang diinginkan dari sebuah survei.

Tak berhenti di situ, level validitas dan keakuratan sebuah hasil survei juga ditentukan quality control. Survei yang dilakukan sesuai dengan standar yang baik adalah dengan memverifikasi kembali hasil wawancara tim lapangan dengan mendatangi kembali responden terpilih atau bisa juga melakukan validasi data lewat telepon.

Ketiga, hal yang memengaruhi hasil survei adalah bagaimana desain instrumen yang dibuat dan berapa banyak nama yang dijadikan sampel dalam survei. Survei yang dibuat untuk melihat hasil tingkat keterpilihan 10 nama calon tentu akan berbeda dengan hasil survei yang hanya menguji 5 nama calon. Selain itu, survei yang dilakukan sebelum adanya kandidat yang definitif tentu akan berbeda hasilnya setelah munculnya kandidat yang definitif.

Poling Twitter

Sementara itu, jika dianalisa dari hasil poling Twitter, dalam survei, hal mendasar yang harus didefinisikan terlebih dahulu yakni siapa populasi yang akan diuji dan bagaimana proses pengambilan sampelnya? Lalu apakah sampelnya sudah proporsional dan representatif atau belum? Definisi terhadap populasi ini bisa dibilang cukup penting lantaran untuk membuktikan apakah hasil survei tersebut bisa dijadikan rujukan atau dianggap akurat dan valid untuk menjelaskan persepsi populasi atau tidak.

Seperti dalam kasus pilkada DKI, populasi survei yang harusnya digunakan tentu adalah warga DKI Jakarta hal itu bisa ditandai dengan bukti kepemilikan kartu tanda penduduk (KTP). Sementara itu, dalam proses pengambilan sampel, yang dimaksud sebagai populasi sasaran adalah warga DKI Jakarta yang mempunyai hak pilih dan berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah ketika survei dilakukan. (IP)