Jadi Penyiar Radio, Masih Prestisius Nggak sih?

Jadi Penyiar Radio, Masih Prestisius Nggak sih?
Profesi penyiar radio. (Inibaru.id/Clara Ariski)

Pada zaman 90-an, profesi penyiar radio dipandang sebagai salah satu profesi yang prestisius. Bagaimana dengan sekarang?

Inibaru.id – Profesi-profesi seperti penyiar radio adalah profesi yang dinilai prestisius pada era 1990-an. Penyiar dipandang sebagai profesi yang keren. Bahkan, nggak jarang para penyiar punya penggemar layaknya artis. Lantas, apa kabar penyiar sekarang?

Sebagai gambaran, gaji sebagai penyiar radio nggak begitu besar. Ardra Arlizar yang sempat menjadi penyiar di sebuah radio bergengsi di Semarang membeberkan penyiar hanya digaji belasan ribu per jam. Jadi, perhitungan honor itu bergantung berapa jam seorang penyiar mengudara.

Namun, para penyiar biasanya mendapat honor tambahan bila diminta menjadi pewara (Master of Ceremony). Dari situlah mereka bisa agak bernapas lega.

“Bonusnya kalau jadi MC, gantiin siaran orang, dan ngisi iklan,” ujar Ardra.

Kendati gajinya nggak seberapa, Ardra mengaku dapat banyak keuntungan saat menjadi penyiar radio. Dia mengungkapkan ada perasaan bangga menjadi penyiar, apalagi bila radionya cukup terkenal. Ardra juga bisa menjalin banyak relasi dari situ.

"Prestisenya ada, karena aku pernah kerja di salah satu radio hits di Semarang. Aku juga jadi banyak networking setelah kerja jadi penyiar,” sambung Ardra kepada Inibaru.id.

Eits, selain punya banyak relasi, para penyiar juga nggak jarang punya penggemar, lo. Ardra mengiyakan hal ini.

“Awal 2000an masih ada yang kaya gini dari cerita senior, tapi sekarang sudah jarang,” ungkap Ardra.

Selain Ardra, penyiar lain Agnes Davina juga pernah merasakannya.

“Pernah ada fans dulu waktu awal siaran, tapi aku sempat vakum, jadi kayaknya sudah nggak ada. Sekarang kalau komunikasi sama pendengar ya lewat Facebook,” jelasnya.

Nah, kalau ditanya tentang prestise, Agnes mengatakan hal itu bergantung pada pribadi penyiar masing-masing.

“Balik ke personalnya menganggap itu bagian dari hidupnya apa nggak. Dia harus totalitas dan gimana lingkungannya melihat. Harus memotivasi diri sendiri. Gimana seseorang memandang diri sendiri. Gimana kita bikin orang memandang (prestise profesi) kita kalo kita nggak memandang diri kita seperti apa yang kita inginkan,” jelas penyiar radio Pro Alma Semarang yang sudah aktif sejak tahun 2011 itu.

Yap, semua bergantung pandanganmu ya, Millens. Kalau menurutmu, profesi sebagai penyiar radio masih prestise nggak sih? (Clara Ariski/E04)