Ini Penyebab Suhu Udara di Semarang Belakangan Ini Terasa Panas

Belakangan ini, di sekitar wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta suhu udara di siang hari bisa mencapai lebih dari 30 derajat celsius. Hal ini membuat banyak orang kegerahan atau sumuk.

Ini Penyebab Suhu Udara di Semarang Belakangan Ini Terasa Panas
Suhu udara terasa panas. (Blogunik)

Inibaru.id – Sobat Millens yang berada di Semarang merasa suhu udara belakangan ini cukup panas nggak sih? Hal ini rupanya dikarenakan suhu udara di Semarang yang lebih dari 30 derajat celsius. Pantas saja kalau kamu merasa panas dan gerah atau sumuk.

Berdasarkan unggahan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Jawa Tengah di media sosial Instagram, suhu udara di Semarang dan sekitarnya pada Kamis (25/4/2019) mencapai 33,8 derajat celsius. Saat ini, Jawa Tengah memang sedang mengalami awal musim kemarau. Beberapa wilayah yang sudah mengalaminya adalah Pantai Utara (Pantura) bagian barat, sebagian wilayah Solo Raya, dan di seluruh wilayah eks Karesidenan Banyumas.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Semarang Iis Widya Harmoko menyebut penurunan curah hujan telah terjadi di wilayah-wilayah tersebut.

“Hasil monitoring probabilistik curah hujan dasarian 3 April 2019 dan prakiraan curah hujan dasarian 3 April hingga 3 Mei 2019 Provinsi Jateng menemukan bahwa beberapa wilayah di Jawa Tengah telah mengalami penurunan curah hujan dengan signifikan,” terang Iis seperti ditulis laman Solopos, Senin (22/4).

Kondisi Ini juga Terjadi di Yogyakarta

Nggak hanya di area Jawa Tengah, wilayah Yogyakarta juga mengalami peningkatan suhu udara dengan signifikan.  Bahkan, suhu udara di Yogyakarta kini disebut sebagai yang paling panas dalam empat tahun terakhir.

Berdasarkan pemantauan BMKG DIY Stasiun Klimatologi Mlati, Sleman, suhu maksimum pada 21-24 April 2019 mencapai 32-33 derajat celsius. Padahal, suhu udara rata-rata di bulan April pada 2015 hingga 2018 hanya 31,3 derajat celsius.

"Kondisi ini terkait dengan masa pancaroba dan kondisi matahari yang masih berada di wilayah ekuator. Selain itu, belakangan ini tidak ada awan yang cukup untuk menghalangi pancaran sinar matahari sehingga panas yang dirasakan pun maksimal,” ungkap Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Mlati Sigit Hadi Prakosa dilansir laman Detik, Kamis (25/4).

Nah, supaya nggak kepanasan, bawalah payung atau pelindung tubuh lainnya saat ke luar rumah, ya, Millens. (IB09/E04)