Penumpang KRL Diimbau Tidak Pakai Masker Scuba dan Buff, Kenapa?

Penumpang KRL Diimbau Tidak Pakai Masker Scuba dan Buff, Kenapa?
Ilustrasi: penumpang KRL. (Bisnis.com)

Penggunaan masker scuba dan buff tidak dianjurkan bagi penumpang KRL. Keduanya disebut tidak efektif untik menahan droplets. Apa alasannya?

Inibaru.id – Masker jenis scuba dan buff kini lazim digunakan oleh masyarakat. Selain bahannya yang nyaman, keduanya juga tampak trendi saat digunakan. Namun  PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengimbau pada para penumpang KRL untuk menghindari penggunaan keduanya. Kenapa?

Keduanya disebut-sebut tidak efektif menahan droplets dan cairan yang berpotensi menyebabkan penyebaran virus corona.  Hal ini diungkapkan oleh VP Corporate Communications PT KCI Anne Purba.

“Hindari penggunaan jenis scuba maupun hanya menggunakan buff atau kain untuk menutupi mulut dan hidung,” ungkap Anne.

Masker scuba bisa melentur sehingga nggak efektif menahan droplet. (antaranewspapua)
Masker scuba bisa melentur sehingga nggak efektif menahan droplet. (antaranewspapua)

Selain Anne, informasi tentang imbauan ini juga disampaikan dalam akun twitter @CommuterLine. Berdasarkan unggahan tersebut, masker scuba atau buff hanya mampu menahan risiko paparan debu, virus dan bakteri sebanyak 5 persen.

Sebelumnya, Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir menjelaskan dasar pengujian kinerja utama masker. Menurutnya, masker kain dengan bahan lentur seperti scuba akan melentur atau terjadi stretching pada bahan.

Streching pada bahan akan menyebabkan kerapatan dan pori kain membesar dan membuka. Akibat hal ini, peluang partikel virus untuk menembus masker akan semakin besar.

Buff juga disebut tidak efektif untuk memblokir virus Corona. (pixabay.com)
Buff juga disebut tidak efektif untuk memblokir virus Corona. (pixabay.com)

Sementara pada buff, Peleliti dari Duke University AS menyimpulkan bahwa masker jenis ini terbuat dari campuran polyester dan spandex yang nggak efektif untuk memblokir droplet virus corona. Namun, karena penelitian nggak dilakukan pada buff dengan bahan lain, temuan tersebut belum bisa dilihat secara spesifik.

"Masalahnya adalah bahan apa yang digunakan," kata Mitchell H Grayson, Direktur Divisi Alergi dan Imunologi di Rumah Sakit Anak Nationwide di Ohio. Sementara itu, ahli penyakit menular,Ravina Kalar mengaku menggunakan buff, tapi yang bukan berbahan polyester.

Lalu masker apa yang bisa digunakan sehari-hari? Menurut Grayson, masker kain dengan beberapa lapisan sama baiknya kok dengan masker bedah.

Jadi, janga salah lagi dalam memilih masker ya, Millens! (Kom/IB27/E03)