Penolakan Pembangunan Masjid di Korea, Proyek Dihentikan karena Polusi Suara

Penolakan Pembangunan Masjid di Korea, Proyek Dihentikan karena Polusi Suara
Spanduk penolakan pembangunan masjid di Korea, tepatnya di kota Daegu. (Naver/Kim Sun-Hyung)

Terjadi penolakan pembangunan masjid di Korea. Warga setempat bahkan memasang spanduk penolakan di lokasi pembangunan. Ada apa, ya?

Inibaru.id – Warganet, khususnya fans K-pop Indonesia dikejutkan dengan kabar penolakan pembangunan masjid di Korea, tepatnya di Kota Daegu. Kebanyakan dari mereka terperangah lantaran selama ini mengira Korea termasuk negara yang ramah bagi warga muslim.

Kabar mengejutkan ini diunggah oleh akun Twitter @aliralira yang memang sering mengabarkan berbagai hal terkait Negeri Ginseng tersebut. Dia bahkan sampai mencantumkan tautan berita langsung dari salah satu media terbesar Korea, Naver.

Dalam tautan tersebut, disebutkan bahwa pembangunan masjid berlokasi di dekat dengan gerbang barat Universitas Nasional Kyungpook, tepatnya di permukiman warga di Daehyeon 1-dong, Buk-gu, Daegu. Selain masjid, lokasi itu berdiri aula pertemuan keagamaan serta fasilitas tempat tinggal.

Pemilik dari bangunan ini adalah enam orang dari Pakistan dan Bangladesh. Mereka mengantongi izin pembangunan sejak 11 Januari 2014. Sebelumnya, bangunan ini adalah hanok atau rumah tradisional Korea. Warga mengaku sempat melihat sekitar 80 orang beribadah di rumah tersebut.

Kolom komentar dibanjiri keluhan warga akan pembangunan masjid. (Tangkapan layar Naver)
Kolom komentar dibanjiri keluhan warga akan pembangunan masjid. (Tangkapan layar Naver)

Semula, warga nggak mempermasalahkan aktivitas ibadah di sana. Namun, saat hanok dihancurkan untuk mendirikan bangunan tiga lantai, warga mulai merasa terganggu. Mereka mengaku menolak pembangunan karena terganggu aktivitas konstruksi, lalu memasang spanduk penolakan di lokasi itu.

Kantor lingkungan setempat nggak menemukan pelanggaran apapun dalam UU Bangunan. Kendati begitu, mereka memutuskan untuk menghentikan proyek konstruksi demi menghindari konflik. Pemilik bangunan juga sudah diberitahu terkait hal ini.

Saat ini mereka mengaku tengah berusaha mencari solusi berupa pemasangan fasilitas penghilang bau dan polusi sebagai dampak konstruksi, hal yang jadi biang keladi keluhan warga. Meski demikian, belum jelas apakah solusi ini akan diterima warga atau tidak.

Ah, mirip-mirip di Indonesia ya, Millens. Semoga segera ada solusi dan konflik nggak pernah terjadi lagi. Hidup terlalu singkat untuk mempermasalahkan yang itu-itu saja, bukan? (Nav/IB09/E03)