Penjual Bendera dari Sunda yang 'Meriahkan' Agustusan di Kota Lunpia

Penjual Bendera dari Sunda yang 'Meriahkan' Agustusan di Kota Lunpia
Deden, lelaki asli Tasikmalaya yang sejak 2008 menjual bendera setiap mendekati 17 Agustus. (Inibaru.id/ Bayu N)

HUT ke-76 Indonesia baru saja berlalu. Para penjual bendera musiman juga sudah mulai sepi di sejumlah titik di Kota Semarang. Gimana peruntungan mereka selama Agustusan tahun ini?

Inibaru.id - Perayaan kemerdekaan di Indonesia yang biasa dikenal sebagai "Agustusan" tak lengkap rasanya tanpa ritual pengibaran bendera. Sejak awal Agustus, Merah-Putih biasanya telah berkibar di mana-mana. Hal tersebut tentu menjadi berkah bagi para penjual bendera.

Di Kota Semarang, nggak sulit menemukan para pelapak bendera ini. Beberapa di antaranya berjualan sepanjang tahun, tapi ada juga pedagang musiman yang hanya berjualan menjelang perayaan ulang tahun Indonesia yang tahun ini menginjak usia ke-76.

Willy adalah salah seorang pedagang dadakan yang selama tiga tahun terakhir mengadu nasib dengan berjualan bendera menjelang Agustusan di sekitar Jalan Setiabudi, Kota Semarang. Sebagai perantau dari Tasikmalaya, usaha musiman ini dilakoninya demi menopang biaya hidup di Kota Lunpia.

“Dari dulu mangkal di sini. Nggak mau pindah, takut langganan pada nyariin,” ungkap lelaki yang sudah membuka lapaknya sejak awal Agustus ini.

Terdapat berbagai jenis bendera yang dijual Willy, dari yang pendek hingga yang panjang; murah hingga yang mahal. (Inibaru.id/ Bayu N)
Terdapat berbagai jenis bendera yang dijual Willy, dari yang pendek hingga yang panjang; murah hingga yang mahal. (Inibaru.id/ Bayu N)

Seperti penjual bendera lainnya, terdapat berbagai macam bendera yang dia jual. Harganya pun beragam, dari yang puluhan hingga ratusan ribu. Namun, di antara para penjual di pinggir jalan itu, bentuk, jenis, bahan, dan harga dagangan mereka biasanya nggak jauh berbeda.

Usut punya usut, sebagian orang-orang ini rupanya mengambil barang dari tempat yang sama, yang kerap disebut sebagai "bos". Nah, Willy yang sebetulnya tinggal di Bandung memilih mengambil stok dari bos yang dia kenal di Cimahi, Jawa Barat.

“Di sini mah ngontrak. Rumah di Bandung, saya ambil barang di Cimahi," aku Willy, sesaat sebelum Hari Kemerdekaan RI. "Teman-teman yang lain juga banyak yang nyetok dari situ.”

Dia bukanlah satu-satunya perantau dari Jawa Barat yang jualan bendera di Semarang. Menurut pengakuannya, banyak orang Sunda yang mengadu nasib di ibukota Jawa Tengah ini. Mereka tersebar di berbagai lokasi, berjualan bendera menjelang Agustusan.

Penjual bendera dadakan lain yang berasal dari Tanah Sunda adalah Deden. Dibanding Willy, lelaki asal Tasikmalaya sudah berjualan jauh lebih lama di Semarang. Dia biasa mangkal di bawah jembatan tol Tembalang.

Bendera berbentuk kipas lipat. (Inibaru.id/ Bayu N)
Bendera berbentuk kipas lipat. (Inibaru.id/ Bayu N)

Laiknya Willy, Deden juga mengambil barang dari Cimahi. Dulu, awal berjualan, dia menggelar lapak di Jalan Sriwijaya, Semarang Selatan. Namun, lelaki yang memulai usaha berjualan bendera sejak 2008 silam itu kemudian memilih pindah ke Tembalang. 

“Pindah ke sini karena lebih adem dan dekat sama kontrakan!” seru Deden, mengisap rokok di tangannya, lalu tertawa.

Konsisten berjualan selama lebih dari 12 tahun membuat Deden memiliki cukup banyak pelanggan. Dia bahkan bekerja sama dengan warga sekitar untuk urusan penyediaan bambu-bambu penyangga bendera.

Oya, menurut pengakuan Deden, menjelang Agustusan, orang-orang dari Jabar memang banyak yang datang ke Semarang untuk berjualan bendera. Seperti dirinya, mereka juga menggelar barang dagangan tersebut di pinggir jalan.

“Kalau yang dari Garut biasanya sudah ngelapak sebulan sebelum 17 Agustus. Kalau dari Tasikmalaya atau Cianjur, biasanya seminggu atau dua minggu (menjelang Agustusan),” pungkasnya.

Wah, ternyata selain bikin warung makan burjo yang enak buat nongkrong, akang-akang Sunda rupanya banyak juga yang ke Semarang untuk "memeriahkan" kemerdekan Indonesia ya, Millens! (Bayu N/E03)