Pengidap HIV AIDS di Jepara Membludak, Kenapa?
Jepara menduduki peringkat satu kabupaten dengan angka pengidap HIV/AIDS tertinggi di Jawa Tengah. (Inibaru.id/ Pranoto)

Pengidap HIV AIDS di Jepara Membludak, Kenapa?

Salah satu faktor yang membuat Kabupaten Jepara menempati posisi teratas daerah dengan kasus HIV/AIDS terbanyak di Jawa Tengah adalah meningkatnya perilaku LSL (lelaki suka lelaki).

Inibaru.id - Kabupaten Jepara menempati rangking pertama jumlah kasus pengidap HIV AIDS di Provinsi Jawa Tengah. Lalu, mengapa bisa demikian? Benarkah pola pergaulan begitu bebas hingga berdampak pada penyebaran virus itu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, inibaru.id menemui M. Fakhrudin, sekretaris Komisi Penanggulangan HIV AIDS Jepara, Kamis (28/11). Dia membeberkan beberapa fakta mencengangkan terkait penularan Human Immunodeficiency Virus - Acquired Immunodeficiency Sindrome.

"Jumlah kumulatif dari tahun 1997 sampai 2019 adalah 1.135 temuan. Itu ada yang baru tahap HIV dan sudah dalam tahap AIDS. Nah kalau dilihat dari angka itu, Jepara rangking satu se-Jawa Tengah," kata dia.

M. Fakhrudin, sekretaris Komisi Penanggulangan HIV AIDS Jepara. (Inibaru.id/ Pranoto)

Menurutnya, setiap tahun, selalu terjadi peningkatan temuan kasus baru. Pada 2016 ditemukan 116 kasus, 2017 ada 149 kasus, dan tahun 2018 sebanyak 169 kasus baru. Tahun ini, sampai bulan Agustus sudah ada 96 pengidap HIV AIDS baru ditemukan.

"Ada banyak faktor. Fenomena LSL atau lelaki suka lelaki, penjaja seks online, ibu rumah tangga yang nyambi, adapula faktor orang kerja di luar kota, kemudian LDR (Long Distance Relationship)," kata Fakhrudin.

Menurutnya, mereka yang sedang LDR berpotensi melakukan hubungan seks nggak aman. Nah setelah pulang, karena nggak tahu sudah terinfeksi, dia berhubungan dengan pasangannya. Fakhrudin memperkirakan jumlah temuan baru akan lebih di atas 100 kasus tahun ini.

Terkait fenomena LSL, Fakhrudin memberikan perhatian khusus. Lantaran, penularan dari kaum ini boleh dibilang meningkat.

Perilaku homoseksual antarpria turut menjadi penyebab tingginya angka AIDS di Jepara. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

Pada Agustus 2019, tercatat ada 27 orang LSL yang terjangkit HIV AIDS. Jumlah ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2018 yang hanya 23 kasus pengidap HIV dari kalangan homoseksual. Jumlah tersebut hanya terpaut dua angka, pada tahun 2017 yakni 29 kasus.

Fakhrudin menyebut penyimpangan orientasi seksual LSL dikelompokan menjadi tiga katagori. Pertama, orang yang secara genetik mengalami kelainan, faktor ekonomi, dan histori kekerasan seksual. Di Jepara, dia menyatakan jumlah LSL lebih dari puluhan orang.

Menurutnya, LSL nggak bisa didefinisikan secara fisik. Lantaran, mereka mempunyai kehidupan normal. Mereka bekerja, bersekolah bahkan berkeluarga. Namun yang membedakannya hanya orientasi seksualnya.

"Fenomena itu ada di Jepara, nyata adanya. Banyak. Dari jumlah temuan sudah tergambar," kata dia tanpa menyebutkan jumlah pasti LSL di Jepara.

Selain faktor di atas, banyak pula kasus HIV/AIDS yang menjangkiti remaja usia sekolah dan usia produktif. Data dari KPA Jepara, hingga Agustus 2019 sudah ada 10 orang di rentang usia 16-25 tahun terjangkit virus itu. Sementara, pada rentang usia 26-40 tahun ada 77 pengidap. Banyak ya, Millens.

"Faktornya (penularan HIV AIDS pada remaja) bisa bermacam-macam. Pertama, remaja itu tertular sejak bayi. Namun, karena gizi dan perawatan kesehatannya bagus tanda penularannya baru terdeteksi pada saat dia remaja," papar Fakhrudin.

Namun, bisa juga karena melakukan seks yang nggak sehat. Selain itu kelompok umur yang sudah bekerja, juga rentan. Mereka sudah punya penghasilan lalu mereka "jajan" sembarangan. Lebih jauh, Fakhrudin menyebut Ibu Rumah Tangga (IRT) juga rentan terpapar virus tersebut. Kebanyakan, mereka terkena dari suami yang "jajan" di luar.

"Mereka (IRT) tidak tahu apa-apa, tapi karena suami sudah terkena dari luar, tapi tak tahu sudah terinfeksi, mereka berhubungan tanpa pengaman. Dari situlah, kemudian, ibu rumah tangga tertular," pungkasnya.

Duh, miris ya kalau kasus ini nggak ditangani serius. (Pranoto/E05)