Pengakuan Pedagang Kecil Sulit Penuhi Kebutuhan saat Wabah Corona, Pasrah hingga Banting Setir

Pengakuan Pedagang Kecil Sulit Penuhi Kebutuhan saat Wabah Corona, Pasrah hingga Banting Setir
Eni pasrah pendapatannya menurun. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Wabah corona yang menyebabkan turunnya pendapatan membuat beberapa pedagang kecil mengaku kewalahan untuk memenuhi kebuthan sehari-hari. Beberapa mengaku pasrah, tapi ada juga yang memutar otak membuka usaha lain.

Inibaru.id - Menurunnya pendapatan dari hasil berjualan para pedagang akibat corona berdampak pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Hal ini diungkapkan oleh beberapa pedagang kaki lima di Kota Semarang. Mereka mengaku kewalahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Eni Anggraeni dan suaminya yang mengandalkan pendapatan dari berjualan jus serta pentol telur di kawasan SMP 13 Semarang mengaku pasrah karena pendapatannya menurun drastis. Yang setiap harinya dia bisa mengantongi Rp 400 ribu, sekarang hanya Rp 60-100 ribu. Hal tersebut membuatnya harus menunda pembayaran SPP anaknya.

“SPP anak ditunda dulu,” kata Eni lesu.

Hal senada juga disampaikan oleh Giyanto, penjual rujak yang sehari-hari berjualan di samping lapak Eni. Dia mengaku kesusahan namun nggak bisa berbuat banyak.

“Kewalahan mbak, tapi mau gimana lagi?” kata Gianto yang nggak punya pilihan.

Usaha Tambahan

Abbas kini membuka usaha pesanan makanan ojek daring. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Abbas kini membuka usaha pesanan makanan ojek daring. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Hal yang berbeda diungkapkan oleh Ahmad Basuni, penjual satai yang kini juga mengalami penurunan pendapatan akibat sepinya pembeli. Pada hari normal, dia bisa mengantongi Rp 400 ribu sehari, tapi kini, pendapatannya mentok di angka Rp 200 ribu saja menurutnya sudah maksimal.

Rabu (1/4) pagi, lelaki yang akrab disapa Abbas ini enggan mengeluh. Untuk memenuhi kebutuhan rumah, dia mengaku membuka layanan pemesanan makanan lewat ojek daring.

“Jualan dari pagi hingga jam 11. Sampai rumah saya buka go food,” terang Abbas.

Kondisi nggak kalah memprihatinkan dialami Abdul Karim. Pemilik warung nasi kucing ini terpaksa tutup dan merumahkan 5 pegawainya. Dampak wabah corona membuat dagangannya sepi. Selain itu dia juga mentaati surat edaran Dinas Perdagangan Kota Semarang yang mengimbau agar pedagang nggak membuka warung hingga lebih dari pukul 22:00 WIB.

Tutupnya usaha Abdul jelas membuatnya kelabakan membiayai kebutuhan rumah. Dia menyebut kebijakan pemerintah cukup merugikan masyarakat kecil. Menurutnya, gratis listrik saja nggak cukup.

“Cuma dapat gratis listrik nggak cukup karena air dan kebutuhan lain juga harus bayar,” keluhnya.

Kini di tengah usahanya yang tutup, Abdul banting setir menjadi pengecer cabai merah keriting. Hal tersebut dia lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Semoga wabah ini segera berakhir dan segala aktivitas kembali normal seperti biasa ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)