Pemanasan Global, Suhu di Pulau Indonesia Bisa Naik 3 Derajat Celcius!

Pemanasan Global, Suhu di Pulau Indonesia Bisa Naik 3 Derajat Celcius!
Suhu udara di pulau-pulau Indonesia diprediksi naik 3 derajat Celcius karena pemanasan global. (Flickr/Marufish)

Pemanasan global kian nyata. BMKG bahkan menyebut suhu di pulau-pulau besar di Indonesia bisa saja naik sampai 3 derajat Celcius. Dampaknya, bencana bakal lebih sering datang, lo!

Inibaru.id – Pemanasan global memang sudah sangat parah di berbagai penjuru dunia. Dampaknya bahkan sudah mulai dirasakan di Indonesia. Kalau menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG) suhu udara rata-rata di pulau-pulau di Indonesia bisa naik sampai 3 derajat Celcius di masa depan.

“Jadi, 1850-2100 diprediksi kalau nggak ada mitigasi yang tepat, maka kenaikan suhu udara di Indonesia mencapai 3 derajat Celcius di pulau-pulau besar di Indonesia,” terang Kepala BMKG Dwikorita pada Kamis (26/8/2021).

Bagaimana dengan sekarang? Ternyata, suhu udara di pulau-pulau Indonesia sudah mengalami kenaikan rata-rata 1 derajat Celcius. Kesannya cuma segitu ya, padahal, dampaknya sudah sangat besar, lo. Cuaca dan iklim di Indonesia sudah nggak karuan, susah diprediksi, dan cukup sering terjadi bencana.

Bisa dibayangkan kalau nantinya suhu udara rata-rata naik jadi 3 derajat Celcius, bisa dipastikan kekacauan yang terjadi bakal lebih parah dengan frekuensi yang lebih sering, Millens.

Dwikorita juga menjelaskan tentang kondisi suhu muka air laut di Indonesia yang sudah semakin meningkat. Kini, suhunya sudah mencapai 29 derajat celcius. Padahal, suhu yang ideal adalah 26 derajat Celcius. Peningkatan suhu ini sangat mempengaruhi kehidupan karang, ikan, dan mahluk laut lainnya.

Dengan kenaikan suhu udara yang signifikan, bencana bisa lebih sering terjadi di Indonesia. (Flickr/oliverdodd)
Dengan kenaikan suhu udara yang signifikan, bencana bisa lebih sering terjadi di Indonesia. (Flickr/oliverdodd)

Balik lagi ke kenaikan suhu udara di pulau-pulau besar di Tanah Air. Dwikorita pun memperingatkan kemungkinan seringnya terjadi cuaca ekstrem layaknya siklon atau badai tropis. Yang terbaru terjadi adalah badai Seroja.

Masalahnya, intensitas cuaca ekstrem ini bisa semakin meningkat dengan durasi semakin panjang. Selain itu, frekuensinya bakal semakin sering.

Gas Rumah Kaca di Indonesia Juga Semakin Meningkat

Catatan lain yang dikeluarkan BMKG adalah kenaikan gas rumah kaca alias konsentrasi karbondioksida (CO2) di Indonesia sejak 2004. Pada akhir 2020 lalu saja, konsentrasi gas rumah kaca di sini sudah mencapai 410 fpm (kaki per menit). Padahal, pada 2004 lalu, hanya 373 fpm.

Angka ini sangat mengkhawatirkan karena Indonesia ikut dalam penandatanganan Perjanjian Paris untuk mencegah kenaikan suhu udara di bawah 1,5 derajat Celcius saja. Seharusnya, pada 2030 nanti, konsentrasi gas rumah kaca harus dibatasi di angka 450 fpm saja.

Intinya, kita harus lebih cermat dalam mengendalikan polusi di Indonesia agar konsentrasi gas rumah kaca nggak sampai naik lagi dengan signifikan.

Duh, kira-kira apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga alam sekaligus mencegah pemanasan global semakin parah, ya Millens? (Med/IB09/E05)