Patung-patung Kuno Sering Ditemukan Tanpa Hidung, Kenapa?

Patung-patung Kuno Sering Ditemukan Tanpa Hidung, Kenapa?
Patung-patung kuno sering ditemukan tanpa hidung. (Flickr/ Jordi Sanchez)

Kalau kamu cermati, banyak patung-patung kuno sering ditemukan tanpa hidung. Hal ini terjadi di berbagai belahan dunia. Kira-kira, apa ya penyebab dari hal ini?

Inibaru.id – Salah satu peninggalan dari zaman kuno adalah patung. Patung-patung ini bisa ditemukan di berbagai tempat, termasuk di candi-candi bersejarah. Hanya, terkadang patung-patung kuno sering ditemukan tanpa hidung.

Kondisi ini nggak hanya ditemukan di patung-patung di Indonesia saja, melainkan juga di luar negeri. Hal ini tentu membuat banyak orang bertanya-tanya. Logikanya, patung berukuran sangat besar seperti Sphinx di Mesir saja rusak hidungnya. Apa ya, alasannya?

Para ahli yakin jika kerusakan pada patung-patung ini dilakukan secara sengaja. Salah satunya adalah Edward Bleiberg dari Brooklyn Museum’s Egyptian. Dia mengaku awalnya nggak begitu memperhatikan. Namun, usai benar-benar mengecek fenomena ini di berbagai belahan dunia, Edward pun ikut penasaran dan akhirnya melakukan penelitian.

“Konsistensi pola menunjukkan bahwa itu dilakukan dengan sengaja. Tidak hanya patung, relief 2D juga menunjukkan perusakan yang disengaja,” terang Edward.

Kalau menurutnya, bangsa Mesir Kuno memiliki kepercayaan bahwa patung-patung yang dibuat memiliki kemampuan menyimpan jiwa orang-orang yang sudah mati. Patung, relief, atau lukisan juga dianggap punya roh dewa. Benda-benda ini seperti portal ke kehidupan setelah kematian dan dunia para dewa.

Patung kuno dianggap memiliki roh. (Flickr/Emily Allen)
Patung kuno dianggap memiliki roh. (Flickr/Emily Allen)

Nah, agar portal ini aktif dan orang-orang yang meninggal bisa segera memasuki dunia tersebut, maka patung, relief, atau lukisan disimpan di dalam makam atau tempat pemujaan seperti kuil. Di tempat ini, bisa jadi ada hadiah persembahan atau makanan bagi para dewa atau leluhur.

Nah, apakah mereka yang merusak hidung di patung-patung? Bukan, bukan orang-orang kuno yang melakukannya. Yang melakukannya diduga justru adalah para perampok makam yang ingin merampas harta karun di dalamnya.

Meski para perampok makam ini tahu tindakannya nggak benar, mereka ternyata juga punya kepercayaan bahwa patung-patung atau relief ini punya kekuatan yang bisa mencelakai jika diusik. Nah, agar mereka nggak kena sial, mereka memilih untuk merusak sejumlah bagian tubuh agar kekuatan patung-patung ini hilang.

Sebagai contoh, kalau yang dirusak adalah telinga, diharapkan roh patung ini nggak bisa mendengar aksinya. Kalau yang dirusak adalah hidung, rohnya nggak bisa bernapas atau hidup sehingga nggak mampu mencelakai para perampok ini.

Selain para perampok makam ini, agama yang lebih modern juga turut andil dalam kerusakan patung-patung tersebut. Sebagai contoh, saat masa Kekristenan tiba, banyak patung, relief, atau lukisan dewa-dewa Mesir Kuno yang dirusak demi mencegah kebangkitan kembali para iblis.

Wah, menarik ya Millens. Ternyata alasan dari patung-patung kuno sering ditemukan tanpa hidung terkait dengan rasa takut, juga. (Nat/IB09/E05)