Pandemi, Kue Lebaran, dan Momen yang Hilang saat Idulfitri

Pandemi, Kue Lebaran, dan Momen yang Hilang saat Idulfitri
Suguhkan kue terbaikmu di momen lebaran. (Ulfatul Fikriyah)

Mungkin, kue lebaran di ruang tamu yang sedianya kamu suguhkan untuk momen Idulfitri masih banyak tersisa kini. Tenang, kamu nggak sendirian. Pandemi ini dialami semua orang.

Inibaru.id – Belum lama ini, seorang koki asal Jerman, Torsten Roth, menciptakan kue berbentuk virus corona bernama Corona Antibody Pralines. Sementara, pemilik toko kue di Palestina, Eyad Abu Rezqa, membuat kue serupa bergambar perempuan mengenakan masker wajah biru.

Hal sama juga dilakukan Retno Handayani. Menjelang lebaran, dia sengaja membuat nastar berbentuk mirip virus corona lantaran kesal terus ditanyai tetangganya, kenapa suaminya yang tinggal di Jakarta memilih nggak pulang pada Hari Raya Idulfitri kemarin.

Retno bukan pembuat kue komersil. Nastar tersebut hanya dibikinnya untuk lucu-lucuan, sekaligus memberi tahu kedua anaknya tentang Covid-19, virus yang membuat sang ayah gagal berkumpul dan berlebaran bersama keluarga besarnya di Sleman, DI Yogyakarta.

Hari Raya Idulfitri dan kue lebaran adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Di tengah momen menjalin kedekatan antaranggota keluarga, ada kue manis yang menyertainya. Sebagian orang membeli kue jadi. Namun, jika punya cukup waktu, nggak sedikit yang membuat sendiri.

Ajeng Cahyanti, misalnya. Hampir tiap tahun perempuan asal Bekasi ini membuat kue kering, termasuk tahun ini. Bersama sang ibu, dia bisa berlama-lama di dapur membuat kue biji ketapang dan tape uli.  Dia juga membuat kue semprit chocochips yang disukai si kecil Khailila, anak perempuannya.

"Ya, karena seluruh keluarga suka," terang Ajeng, menjawab alasan kenapa kue-kue tersebut yang dipilih.

Kue lebaran bisa dibungkus parsel cantik juga lo. (Dok. Lailis Sa'dah)
Kue lebaran bisa dibungkus parsel cantik juga lo. (Dok. Lailis Sa'dah)

Lebaran yang Beda

Ajeng menuturkan, pandemi corona yang dirasakannya membuat lebaran sedikit berbeda. Namun, dia juga mengamati, WFH dan physical distancing yang diterapkan di Indonesia justru membuat orang-orang lebih produktif, salah satunya bikin kue sendiri.

"Ibu-ibu yang biasanya beli kue jadi di luar, sekarang lebih excited bikin sendiri," kata perempuan ramah  tersebut ngadem-ademi diri. Sebelumnya, dia sempat mengaku lebaran tahun ini memang kurang greget.

Ajeng memang merasa betul adanya perbedaan antara lebaran tahun ini dengan tahun sebelumnya. Setali tiga uang, ini juga dirasakan dirasakan Lailis Sa’adah, seorang pengajar yang kini tinggal di Kulonprogo, DI Yogyakarta.

Lisa, demikian Lailis Sa’adah biasa disapa, sebelumnya terbiasa menjadikan momen Idulfitri sebagai ajang menyugukan kue lebaran. Dia juga sering memberi bingkisan kue untuk oleh-oleh teman atau saudara pada momen tersebut. Namun, nggak demikian dengan tahun ini.

“Selain silaturahim, biasanya kan bagi kue atau parcel, kan?” katanya.

Resep kue lebaran juga bisa kamu kreasikan sendiri. (Dok. Ulfatul Fikriyah)<br>
Resep kue lebaran juga bisa kamu kreasikan sendiri. (Dok. Ulfatul Fikriyah)

Saat lebaran, Lisa mengaku paling menantikan kastengel, sejenis kue kering yang dibuat dari adonan tepung, margarin, telur, hingga keju parut. Bentuknya persegi panjang dengan ukuran sekitar 3x1 sentimeter.

Kue yang namanya berasal dari bahasa Belanda kaas yang bearti keju dan stengel yang berarti batang itu begitu diminati Lisa lantaran dia memang penggemar keju. Alih-alih menggunakan keju cheddar atau gouda, dia memilih keju edam jika membuatnya sendiri.

Hm, lebaran tahun ini memang berbeda ya, Millens? Gimana dengan kue lebaranmu? Sudah nggak bersisa atau malah belum tersentuh sama sekali karena nggak ada yang berkunjung? (Isma Swastiningrum/E03)