Paceklik (Lain) di Terminal Agribisnis Jetis dan Orang-Orang Arif

Paceklik (Lain) di Terminal Agribisnis Jetis dan Orang-Orang Arif
Petani hingga pedagang di Terminal Agribisnis Jetis, Kabupaten Semarang sama-sama mengalami kerugian. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Pandemi corona yang memaksa seluruh masyarakat untuk mengurangi kegiatan di luar rumah juga mempengaruhi kegiatan jual beli sayur. Sedikitnya pasokan hingga berkurangnya penghasilan sama-sama terjadi pada petani hingga pedagang atau pengepul. Meski begitu mereka tetap bijak menanggapi situasi sulit ini.

Inibaru.id - Seperti biasanya, Terminal Agribisnis Jetis ramai oleh pengepul, pedagang dan petani. Berbagai sayuran segar memenuhi pasar itu setiap hari. Sebagai pasar agribisnis yang diklaim terbesar se-Jawa Tengah, pasar yang juga disebut dengan Pasar Ngasem tersebut menjadi pusat jual beli sayuran dari berbagai daerah Jawa Tengah. Namun ada yang berbeda, pasar yang selalu ramai dari pagi hingga sore hari itu terlihat lumayan sepi.

Kala itu saya menemui seorang perempuan yang berjaga lapak. Bersama suaminya, Ny Wahyudi tampak menyuwir tali rafia. Dia sempat sambat terkait nilai jual daun bawang yang menjadi dagangan andalannya.

“Musim kayak gini (pandemi corona), harganya turun. Yang mau beli di sana nggak ada,” keluhnya.

Hal ini diamini oleh Zaenal Arifin yang kala itu menjual daun bawang pada istri Wahyudi. Dia menyebut bahwa daya beli dari pedagang dan pengepul cenderung menurun.

“Masalah daya beli ada penurunan, karena minat pembeli kurang. Yang mengecerkan juga kurang,” pungkas lelaki yang setiap harinya menyambangi pasar tersebut.

Pendapatan Menurun

Merugi bukan hal yang baru bagi mereka. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Merugi bukan hal yang baru bagi mereka. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Perputaran yang lesu menyebabkan pendapatan para petani dan pegadang ikut seret. Meski nggak banyak, tetap saja bikin kelabakan. Zaenal mengaku merugi.

“Karena corona harganya jadi turun, daun bawang sekarang harganya Rp 600. Kalau dibilang rugi ya rugi,” tuturnya.

Keluhan senada juga saya dengar dari Ny Wahyudi. Dia mengaku petani yang memasok nggak banyak. Meskipun begitu, kondisi naik turunnya pendapatan ini sudah biasa mereka alami, Millens. Nggak heran mereka bisa menghadapi masa sulit ini secara arif.

"Kalau dibilang pendapatan turun ya turun, tapi masalah rezeki itu nggak usah dibahas. Semoga ndang mari (cepat selesai) coronanya," kata Hartini yang juga saya amini.

Nasib Sayuran yang Tak Laku

Tips sayuran yang nggak laku dijual. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Tips sayuran yang nggak laku dijual. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Selain mengkhawatirkan harga yang menurun, para petani juga mengkhawatirkan barang dagangan yang nggak laku dijual. Namun bukan berarti sayuran yang nggak laku ini bakal dibiarkan begitu saja lo. Para petani dan pengepul yang sering kali nggak bisa menjual seluruh dagangannya ini mengaku melakukan trik khusus.

Hartini, misalnya. Dia setiap harinya mendatangkan sayuran dari Dieng. Perempuan asli Kabupaten Semarang ini mengaku dagangannya nggak selalu habis dalam sehari.

“Kalau nggak habis ya dikupas besoknya dijual lagi, ini berlaku untuk kubis,” tutur perempuan ini.

Berbeda dengan Hartini, Zaenal yang juga merupakan petani mengaku harus memanen sayurannya menjadi beberapa kloter agar dalam sekali angkatan, semua sayurannya bisa habis terjual.

“Kalau barang banyak ya panennya dikurangi saja. Dilansir jadi beberapa kloter, tapi nggak sampai dibuang,” tutur lelaki yang bisa menjual 3-4 kwintal sayuran dalam sehari ini.

Semoga pandemi ini segera berakhir ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)