Olimpiade Tokyo 2020, Kala Atlet Transgender Jadi Sorotan

Olimpiade Tokyo 2020, Kala Atlet Transgender Jadi Sorotan
Laurel Hubbard, atlet transgender dari Selandia Baru yang bertanding melawan Nurul Akmal. (Reuters/Mirror.co.uk)

Nggak hanya atlet putra dan putri, ada juga atlet transgender yang berlaga di Olimpiade Tokyo 2020. Kehadiran mereka jadi sorotan banyak orang. Ada juga yang meraih medali emas, lo!

Inibaru.id – Kisah-kisah tentang para atlet di Olimpiade Tokyo 2020 memang asyik untuk dikulik. Nah, kali ini, kita membahas soal atlet-atlet transgender yang berlaga di sini. Salah satu yang ramai dibicarakan adalah Quinn, atlet sepak bola wanita Kanada yang baru-baru ini memenangkan medali emas.

Menariknya, Selain Quinn, ada tiga atlet yang mengungkap dirinya sebagai transgender. Kalau yang sering dibicarakan di Indonesia sih Laurel Hubbard yang berasal dari Selandia Baru. Maklum, Hubbard tampil di ajang angkat berat yang sama dengan lifter putri andalan Indonesia, Nurul Akmal. Selain itu, ada dua atlet dari Amerika Serikat, yakni Alana Smith di cabor skateboard dan Chelsea Wolfe di cabor balap sepeda BMX.

Quinn jadi satu-satunya dari para atlet transgender ini yang membawa pulang medali. Dia pula yang jadi satu-satunya yang meraih medali emas di Olimpiade Tokyo 2020. Dia tampil selama 45 menit di babak final melawan Swedia.

“Saya sangat bangga dengan tim saya. Mereka adalah teman terbaik saya. Saya sangat senang ami membawa pulang medali yang lebih baik daripada perunggu,” ucap Quinn yang memutuskan hanya dikenal dengan satu nama saja ini.

Sebenarnya, Olimpiade Tokyo 2020 bukanlah kali pertama atlet transgender beraksi. Sebagai contoh, Quinn meraih perunggu bersama Kanada di Olimpiade Rio 2016. Tapi di tahun ini, sorotan kepada mereka memang jauh lebih besar. Khusus untuk Quinn, dia memang baru mengungkap identitasnya sebagai transgender menjelang Olimpiade Tokyo.

Quinn, atlet transgender yang memenangi medali emas sepak bola putri Olimpiade Tokyo 2020. (Twitter/AdamGMillington)
Quinn, atlet transgender yang memenangi medali emas sepak bola putri Olimpiade Tokyo 2020. (Twitter/AdamGMillington)

Tujuan Quinn mengungkapnya adalah agar semakin banyak orang menerima dan bersahabat dengan para transgender seperti dirinya. Dia juga ingin orang-orang LGBTQ lebih diterima. Omong-omong, setidaknya ada 180 atlet LGBTQ yang tampil di Olimpiade Tokyo 2020.

FYI, sebenarnya Komite Olimpiade Internasional (IOC) sudah membolehkan atlet transgender untuk berlaga sejak Olimpiade Athena 2004. Meski begitu, sebagaimana yang sering Quinn ungkap di media sosialnya, kehadiran mereka belum diterima oleh semua orang.

Selain itu, IOC sendiri masih memberlakukan batasan karena adanya perbedaan kadar hormon pada atlet transgender. Kalau atlet transgender adalah lelaki, batasannya sih nggak ada. Tapi, kalau atletnya perempuan, maka mereka harus memastikan kadar testosteron di dalam tubuhnya harus nggak mencapai 10 nanomol per liter darah dalam kurun waktu 12 bulan sebelum mereka mulai bertanding.

Bahasan tentang hormon testosteron ini memang masih cukup sengit. Apalagi hingga saat ini para pakar masih berdebat apakah hormon ini bisa membuat atlet tampil lebih baik atau nggak. Contohnya sih, hasil angkatan Hubbard masih jauh di bawah angkatan Nurul Akmal yang masuk lima besar.

Menariknya, sejumlah atlet transgender bahkan nggak lolos kualifikasi di tingkat negara. Intinya, ada yang jauh lebih baik dari mereka sehingga nggak dipilih mewakili negaranya. Contohlah, atlet lari putri dari AS Nikki Hilts dan CeCe Telfer nggak lolos. Tiffany Abreu, atlet putri Brasil juga nggak masuk daftar pemain yang mewakili tim voli Negeri Samba.

Hm, menarik juga ya bahasan atlet transgender di Olimpiade Tokyo 2020 ini, Millens. (Voa/iB09/E05)