Nia Ramadhani Ngaku Nyabu 5 Bulan, Kenapa Orang Sulit Lepas dari Sabu?

Nia Ramadhani Ngaku Nyabu 5 Bulan, Kenapa Orang Sulit Lepas dari Sabu?
Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie ditangkap polisi karena dugaan penyalahgunaan narkoba. (Instagram Nia Ramadhani via Okezone)

Penangkapan Nia Ramadhani dan suaminya, pengusaha Ardi Bakri karena dugaan penyalahgunaan narkoba cukup mengejutkan masyarakat. Menurut keterangan polisi, Nia telah menggunakan sabu selama 5 bulan. Tapi, ngomong-ngomong, kenapa ya orang sulit lepas dari sabu? 

Inibaru.id - Nia Ramadhani dan suaminya, Ardi Bakrie, harus berurusan dengan polisi karena dugaan penyalahgunaan narkoba jenis sabu-sabu. Agaknya, kabar ini cukup mengejutkan karena keduanya dinilai punya kehidupan yang makmur dan jauh dari penggunaan obat terlarang.

Dikenal dengan nama metamfetamin, kandungan stimulan dalam jenis narkoba ini menargetkan sistem pusat saraf manusia. Sebenarnya kandungan ini  dimanfaatkan untuk mengobati Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), tentunya dengan takaran dan pengawasan yang ketat oleh ahlinya.

Sayangnya, yang banyak beredar selama ini merupakan produk ilegal dan sangat berbahaya. Sabu-sabu seperti ini nggak mempunyai kegunaan medis dengan bentuk dan kandungan yang sangat bervariasi.

“Sabu-sabu selalu sintetis (bukan organik) dan diproduksi secara ilegal,” ujar Deni Carise, PhD, Kepala Sains di Pusat Pemulihan Amerika dan asisten profesor di Fakultas Kedokteran Perelman University of Pennsylvania.

Diproduksi di laboratorium jalanan secara ilegal, sabu-sabu seperti ini nggak punya standar. Bahan-bahan yang dipakai biasanya terdiri atas kombinasi yang diekstraksi dari obat bebas yang dicampur dengan zat yang lebih mudah tersedia seperti eter, aseton, kristal yodium, atau fosfor merah.

Orang yang menggunakannya akan merasa senang dan berenergi. Ada pula yang berdampak pada perubahan nafsu makan. Nggak heran jika banyak yang menggunakan sabu sebagai penurun berat badan.

Mengapa Orang Susah Lepas Sabu?

Ilustrasi sabu-sabu. (Grid.id via Tribunnews)
Ilustrasi sabu-sabu. (Grid.id via Tribunnews)

Mungkin, orang menggunakan sabu-sabu untuk kali pertama dengan alasan coba-coba. Mereka kepincut dengan sensasi “high” yang bisa cepat didapat. Namun sayang, mereka akhirnya kecanduan dan sulit melepaskan diri, Millens.

Kebanyakan orang mesti merasakan dampak buruknya terlebih dulu baru deh berniat berhenti nyabu. Metamfetamin ini berisiko menyebabkan kecanduan karena pelepasan dopamin.

Hal ini menyebabkan peningkatan bahan kimia ini di otak dan memberikan dampak yang nggak bisa disepelekan. Pasalnya, dopamin dikaitkan dengan fungsi motorik, motivasi, penghargaan, dan pusat kesenangan di dalam otak.

"Sabu-sabu menyebabkan peningkatan suasana hati yang intens atau euforia yang jauh lebih kuat daripada kokain," kata Carise.

Peningkatan dopamin yang nggak wajar ini kemudian yang membuat orang kepingin menggunakannya terus. Jadi, tubuh mengalami hasrat yang kuat untuk mempertahankan keadaan yang sangat gembira, yang sering kali menghasilkan perilaku berulang dan seperti pesta untuk mencapai tujuan itu.

Penggunaan sabu dalam waktu lama juga bisa mengubah pusat pengambilan keputusan di otak. Saat kali pertama merasakan sensasinya, keputusannya adalah pilihan sadar yang dibuat di korteks prefrontal otak. Setelah itu, keputusan berpindah ke otak belakang. Area ini bertanggung jawab untuk tindakan non-sukarela, seperti berkedip dan bernapas.

Eh tahu nggak, orang yang kecanduan sabu-sabu dapat dikenali dari sejumlah perilaku dan gejala yang ditunjukannya seperti:

-          Suasana euforia atau sangat bahagia yang berkelanjutan.

-          Perasaan nggak terkalahkan.

-          Berhari-hari insomnia atau terjaga terus-menerus.

-          Halusinasi atau perilaku delusi.

-          Gatal atau koreng terus-menerus.

-          Gigi membusuk.

Kalau kamu mendapati orang di sekitar mempunyai gejala tersebut, yuk ajak mereka untuk berkonsultasi. Selain dorongan dari diri sendiri, mereka juga butuh dukungan orang-orang tercinta. Jadi, jangan malah dijauhi ya, Millens. (Kom/IB21/E07)