Nggak Seperti Kamu, Mereka Nggak Bisa di Rumah Aja

Nggak Seperti Kamu, Mereka Nggak Bisa di Rumah Aja
Ilustrasi berkerumun. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) di Semarang telah diberlakukan. Namun, nggak semua orang bisa di rumah aja, termasuk mereka yang saya temui di Kawasan Industri Candi.

Inibaru.id - Penghujung April 2020, siang hari, Kawasan Industri Candi di Jalan Untung Suropati, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, cukup lengang. Dalam suasana Ramadan plus pandemi corona, siapa juga yang mau panas-panasan di jalan selain karyawan non-WFH?

Namun, nggak demikian dengan belasan orang yang berkumpul di subuah gubuk di pinggir jalan. Seakan mengabaikan instruksi Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) dari Pemkot Semarang, mereka tetap berkerumun.

Penasaran, saya pun menyambangi mereka. “Mau ngasih bantuan, Mbak?” tanya salah seorang di antaranya, begitu melihat kedatangan saya. Saya menggeleng, yang serta-merta membuat mereka semua kecewa. 

Belasan orang yang mengaku telah sejak pagi ngetem di gubuk tersebut tengah menunggu pekerjaan dari pabrik di sekitar Jalan Untung Suropati. Yap, mereka adalah para kuli panggul yang bertugas memuat atau membongkar barang. Rata-rata, mereka berusia paruh baya.

Kendati virus corona tengah mewabah, mereka yang mengandalkan pekerjaan harian ini terpaksa mempertaruhkan nyawa di luar rumah. Risiko itu sungguh nggak sebanding dengan pendapatan yang menurun drastis. Sebagai gambaran, Ngatimin yang biasa dapat Rp 100 ribu per hari, kini hanya dapat Rp 20-25 ribu.

"Kalau sekarang, lebih pusing mikir kebutuhan,” keluh Ngatimin, Pimpinan Unit Kerja SPTI SPSI Untung Suropati. 

Takut tapi Tetap Harus Bekerja

Beberapa orang yang berkerumun sedang menunggu pekerjaan datang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Beberapa orang yang berkerumun sedang menunggu pekerjaan datang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Situasi sulit ini mau nggak mau harus mereka hadapi. Apalagi bantuan pemerintah nggak pernah mereka dapatkan hingga detik ini.

Selama ada Covid-19, Rivan mengaku pekerjaan berkurang drastis. Nggak ada keahlian lain yang mereka miliki selain menawarkan tenaga.  "Kalau nggak keluar kita mau makan apa,” katanya.

Sebetulnya, para kuli ini mengaku bahwa mereka takut dengan penyakit yang menyerang sistem pernapasan ini. Namun mereka menegaskan bahwa apa yang sedang mereka lakukan (bergerombol) merupakan upaya untuk mencari uang.

Hampir setengah hari saya ngobrol dengan mereka dan belum ada satupun pekerjaan yang menghampiri. Dengan nada memelas mereka seakan menitipkan amanah besar ke pendak saya agar jeritan mereka didengar pemerintah.

“Semoga Mbaknya bisa membantu ya. Kita belum pernah dapat bantuan,” suara Subagio yang sudah masuk ke usia lansia tertahan di balik masker.

Perayaan Hari Buruh Sedunia telah lewat sekali lagi tapi masih menyisakan realita pahit di mata saya. Semoga semua orang yang terpaksa keluar selalu diberi kesehatan ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)