Jangan Asal "Keminggris", Mencampur Bahasa Juga Ada Aturannya!

Jangan Asal
Berkomunikasi dengan orang lain. (Pixabay.com)

Mencampur bahasa atau code-switching juga memiliki aturan. Nggak bisa asal mengganti satu kata dengan kata berbahasa lain, bahasa Inggris misalnya, kamu juga harus mempertimbangkan beberapa hal. Apa saja?

Inibaru.id - Anak muda Jakarta Selatan (Jaksel) dibuli habis-habisan lantaran sering dianggap sok "keminggris" dengan mencampur-campur bahasa. Padahal, nggak semu, dan nggak hanya, "anak" Jaksel yang melakukan itu. Mencampur bahasa biasa kita lakukan, khususnya di wilayah urban yang menggunakan berbagai bahasa.

Mencampur bahasa atau dalam istilah linguistik disebut code-switching, memang merupakan sesuatu yang wajar. Nggak hanya mencampur kosa kata, dialek, atau pengucapan, terkadang kita juga mencampur gramatikanya. Maksud hati bicara dengan bahasa Inggris, tapi pakai gramatika bahasa Indonesia. Duh!

 

Kicauan di Twitter soal bahasa anak Jakel. (Twitter)

Yap, mencampur bahasa juga punya aturan, Millens. Yang pasti, tetap gunakan bahasa sesuai gramatikanya, jangan dibolak-balik! Terus, yang nggak kalah penting, pelafalan yang sesuai juga perlu kamu perhatikan. Bakal kelihatan nggak smart banget, kan, kalau kamu salah pengucapan? Ha-ha.

Namun, satu hal yang juga nggak kalah penting adalah tahu situasi dan kondisi. Jadi, lihat-lihat siapa yang kamu ajak bicara, ya! Jangan sampai kamu dianggap pamer bahasa karena menggunakan bahasa campur-campur, seperti yang dialami Levana Tiopei.

Kendati nggak pernah bermaksud pamer, respons negatif pernah dia alami. Saat melakukan code-switching, dia disangka memamerkan kemampuan berbahasa Inggris. Biasanya, ini dialaminya sama orang yang baru dikenal.

“Kadang disangka sombong atau sok," kata dia.

Dari pengalaman itu, mahasiswa asal Jakarta yang saat ini kuliah di Semarang itu paham, mencampur bahasa kita dengan bahasa Inggris nggak salah, tapi harus tahu waktu, tempat, dan kepentingannya.

"Jadi, ini biar nggak cuma buat gegayaan,” jelasnya.

Sepakat dengan Levana, Christopher Emmanuel, mahasiswa asal Jaksel yang berkuliah di Semarang, mengatakan sebenarnya mencampur bahasa hanya dilakukan orang untuk seru-seruan saja, nggak ada maksud lain. Namun begitu, pemuda yang juga kerap melakukan code-switching itu sepakat kalau penggunaannya harus melihat kondisi dan situasi.

"Bahasa ibu tetap harus dipertahankan. Jadi, mostly kami cuma pakai bahasa campur-campur buat ngobrol dan seru-seruan. Yeah, ikut perkembangan zaman boleh, tapi lupa sama budaya, jangan!” tegasnya.

Kicauan di Twitter soal bahasa anak Jakel. (Twitter)

Wah, setuju ya Millens sama apa kata mereka. Berbahasa asing itu sah-sah saja, asal kita nggak melupakan bahasa sendiri. Yap, bangga budaya, bangga berbahasa! (Verawati Meidiana/E03)