Nggak Pakai Jilbab, Siswi SMAN 1 Gemolong Diancam dan Diteror Oknum Rohis Setempat

Nggak Pakai Jilbab, Siswi SMAN 1 Gemolong Diancam dan Diteror Oknum Rohis Setempat
Pertemuan Agung Purnomo dengan pihak sekolah, ketika melakukan klarifikasi teror yang diterima putrinya karena nggak memakai jilbab. (Joglosemarnews)

Sisiwi berinisial Z yang tengah duduk di kelas X SMAN 1 Gemolong mengalami teror via WA berisi pemaksaan memakai jilbab. Rohis di SMA tersebut dilaporkan oleh ayah korban sebagai pelaku tindak peneroran.

Inibaru.id - Wali murid SMAN 1 Gemolong Agung Purnomo (46) nggak terima saat putrinya diteror karena nggak memakai jilbab oleh oknum rohani islam (Rohis) setempat. Mengetahui hal tersebut, warga Doyong, Miri, Sragen itu langsung melabrak pihak sekolah.

Melansir Joglosemar, Kamis (9/1/20), kejadian bermulai saat putri Agung yang berinisial Z menerima pesan beruntun (spam) di WhatsApp yang berisi pemaksaan pemakaian jilbab oleh anggota Rohis.

"Awalnya saya anggap hal biasa. Tapi lama-lama kok menjurus keras, pemaksaan dan ada ancaman juga karena anak saya nggak pakai jilbab. Akhirnya kemarin saya berinisiatif tabayyun klarifikasi ke pihak sekolah, dinas dan Rohis sekolah,” kata Agung.

Tindakan yang dilakukan Agung adalah puncak kekesalannya karena makin hari pesan yang dikirim bernada keras. Bahkan di salah satu pesan Agung dihujat sebagai orangtua yang nggak paham aturan agama Islam.

Agung pernah bermaksud ngobrol pada pengirim pesan, namun sayangnya dia nggak mendapat balasan yang diharapkan.

"Dijawab gak mau ketemu, malah WA-nya 'nggo opo ketemu karo wong tuwo ora mudeng dalil agama tiwasan debat kusir'. Akhirnya saya minta anak saya screenshoot semua pesan itu dan saya bawa ke sekolah,” jelasnya.

Dalam pertemuan dengan pihak sekolah, Agung ditemui oleh Kepala Sekolah, pengurus Rohis, Kepala Disdikbud Sragen, dan Kepala Cabang Disdikbud Wilayah VI Jateng. Hasilnya, Suparno Kepala Sekolah mengaku kecolongan dan pihak Rohis mengakui telah mengirim pesan-pesan yang berbau pemaksaan tersebut pada Z.

Eris Yunianto Kepala Cabang Disdikbud Wilayah VI Jateng menegaskan, memakai jilbab atau nggak memakai jilbab merupakan hak asasi yang dilindungi. Nggak dibenarkan adanya pemaksaan seseorang (siswi) harus memakai jilbab.

"Siapapun punya hak yang sama. Setiap anak punya hak yang sama. Untuk satu hal itu (keyakinan) kan pilihan hidup masing-masing. Toleransi itu nomor satu yang harus dikedepankan,” ucap Eris.

Saat ini kasus tersebut masih ditangani pada tingkat internal sekolah. Eris telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan klarifikasi, pembinaan, dan pembenahan lebih lanjut. Di level nasional, kasus ini juga telah mendapat perhatian dari Komisi X DPR RI.

Semoga kejadian serupa nggak terjadi lagi ya, Millens! (MG26/E06)