Nggak Hanya Awal Ramadan, Iduladha 2022 Juga Bakal Beda Tanggal?

Nggak Hanya Awal Ramadan, Iduladha 2022 Juga Bakal Beda Tanggal?
Ilustrasi: Ada potensi Iduladha 2022 bakal dirayakan di tanggal yang berbeda. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

BRIN dan Kementerian Agama mengungkap potensi Iduladha 2022 bakal dirayakan di tanggal yang berbeda. Untuk memastikannya, masyarakat diminta untuk menunggu hasil Sidang Isbat.

Inibaru.id – Meski awal puasa Ramadan 2022 berbeda, masyarakat Indonesia merayakan Idulfitri 2022 pada hari yang sama, yaitu 2 Mei 2022. Tapi, belakangan ini muncul isu kalau Iduladha 2022 bakal beda tanggal, Millens.

Potensi ini diungkap oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Soalnya, kalau menilik kalender 2022, sudah tertulis kalau Iduladha bakal dirayakan pada 9 Juli 2022. Tapi, ada kemungkinan Iduladha sebenarnya jatuh pada sehari setelahnya.

“Sebagaimana penentuan Idulfitri 1443 Hijriah, Iduladha 1443 H kali ini juga akan mengalami potensi perbedaan tanggal, yakni tanggal 9 Juli atau 10 Juli 2022,” jelas peneliti Andi Pangerang di Pusat Riset Antariksa BRIN, Sabtu (4/6/2022).

Direktur Jenderal Bina Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin pun meminta masyarakat untuk nggak terburu-buru menentukan Iduladha. Kita diminta untuk menunggu hasil sidang isbat untuk menentukan Iduladha 2022 yang baru digelar Kemenag pada 29 Juni 2022.

“Kita menunggu hasil sidang isbat yang InsyaAllah akan dilaksanakan tanggal 29 Zulkaidah atau bertepatan 29 Juni,” ungkap Kamaruddin, Senin (6/6).

BRIN mengungkap potensi Lebaran beda tanggal. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
BRIN mengungkap potensi Lebaran beda tanggal. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Kalau memang pada akhirnya benar perayaan Iduladha berbeda hari, Kamaruddin pun meminta masyarakat untuk saling memahami dan menghargai. Apalagi, kita sudah terbiasa dengan perbedaan ini saat menentukan awal puasa atau merayakan Idulfitri sebelumnya.

Hal ini disebabkan oleh penggunaan dua kriteria dalam menentukan hari-hari tertentu dalam penanggalan Islam di Indonesia, yaitu Wujudul Hilal dan MABIMS atau perkumpulan Menteri-Menteri Agama dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam.

Kalau Wujudul Hilal, dipakai oleh Muhammadiyah sesuai dengan kondisi bulan yang terbenam usai matahari terbenam berapapun ketinggiannya. Sementara itu, kriteria MABIMS dilandasi oleh batasan minimal untuk terlihatnya hilal.

“Terlihatnya hilal, yaitu parameter fisis hilal yang dinyatakan dengan parameter elongasi (jarak sudut bulan – matahari) minimum 6,4 derajat dan parameter fisis gangguan cahaya syafak/twilight (cahaya senja) yang dinyatakan dengan parameter ketinggian minimum 3 derajat,” terang Andi Pangerang.

Hm, kira-kira, nanti Iduladha bakal bisa barengan nggak ya, Millens? (Cnn/Kom/IB09/E05)