Next Level Dunia Properti, Konstruksi Bangunan Mulai Pakai 3D Printing

Next Level Dunia Properti, Konstruksi Bangunan Mulai Pakai 3D Printing
Rumah pertama yang dibangun dengan teknologi 3D printing di Jerman. (HeidelbergCement AG/Aleksej Keksel via interestingengineering)

Nggak lagi konvensional, dunia konstruksi bakal segera memasuki era baru dengan menggunakan 3D printing. Ada segudang kelebihan yang dimiliki metode ini. Selain dapat menekan biaya pembangunan, metode ini juga diklaim ramah lingkungan.

Inibaru.id - Banyak aspek dalam kehidupan yang berubah. Tapi tampaknya nggak demikian dengan industri konstruksi. Perkembangannya bisa dibilang nggak berarti. Paling-paling muncul proyek mega konstruksi, gedung pencakar langit yang lebih tinggi hingga jembatan yang lebih kokoh. Meskipun demikian, satu hal yang sepertinya bakal segera merevolusi industri pembangunan properti adalah perkembangan 3D printing.

FYI nih, selama 20 tahun terakhir, teknologi pencetakan 3 dimensi cuma jadi ranah laboratorium untuk pengujian. Tapi saat ini, sudah banyak orang yang mencoba memanfaatkannya untuk sesuatu yang lebih besar. Nah, salah satu yang kini banyak menyita perhatian adalah bagaimana mengaplikasikannya untuk pembangunan gedung secara langsung.

Ngomong-ngomong soal perkembangan 3D printing, Dubai bisa dibilang sebagai negara pertama yang menggunakannya untuk konstruksi bangunan. Mereka bahkan berencana membangun seperempat dari seluruh bangunan barunya dengan 3D printing pada 2030 nanti.

Nah, salah seorang pengembang yang sedang vokal menyuarakan proyek perumahan dengan metode 3D printing adalah Emaar. Dia menamakan proyek ini sebagai Arabian Ranches II. Katanya sih, ini bakal jadi hunian pertama di Dubai yang dibangun dengan cetak 3 dimensi.

Cara Kerja Cetak 3D dalam Pekerjaan Konstruksi

Pembuatan hunian dengan 3D printing. (IT3D via 3dnatives)
Pembuatan hunian dengan 3D printing. (IT3D via 3dnatives)

Kamu penasaran nggak sih dengan cara kerja 3D printing ini? Seperti yang kita tahu, konstruksi merupakan proses yang kompleks. Apalagi untuk dibangun dengan menggunakan teknologi cetak 3 dimensi. Dnggak heran deh jika baru ada 20 bangunan komersial di seluruh dunia yang dibuat dengan  metode ini. Kamu bisa menemukan gedung pertama yang dibangun dengan 3D printing di Kopenhagen, Denmark oleh COBOD International. Gedung ini dibangun pada 2017 silam.

Membangun dengan metode ini jelas nggak mudah. Lapisan demi lapisan material gedung, beton diperas dari nosel yang terpasang pada lengan robot diprogram dengan komputer. Mesin dapat berada dalam posisi diam di tempat atau berjalan di sepanjang rel. Sembari mesin bergerak, lapis demi lapis struktur bangunan bakal dibentuk. Mulai dari bagian eksterior hingga interiornya.

Ngomongin soal Dubai, mereka sangat ambisius dengan proyek-proyeknya, lihat saja berbagai rekor wow dalam industri konstruksi Dubai. Salah satu proyek yang menjadi kebanggan negara kaya di Uni Emirat Arab ini adalah sebuah kantor laboratorium drone. Bangunan ini juga memanfaatkan mesin printer 3D dan menelan biaya $140.000.

Mereka yang mendukung teknologi cetak 3 dimensi mengklaim bahwa teknologi ini bisa menekan biaya pembangunan properti. Selain lebih murah, teknologi ini juga lebih ramah lingkungan. Kelebihan lain yang dimiliki oleh teknologi ini antara lain: fleksibilitas desain, pengurangan biaya konstruksi, efisien dalam penggunaan bahan serta tingkat keberlanjutan yang lebih tinggi. Yang juga keren, limbah sisa konstruksi dapat dikurangi termasuk polusi suara yang dihasilkan. Kurang oke apalagi coba?

Nggak cuma itu, Millens. Teknologi cetak 3 dimensi juga menjanjikan berbagai keuntungan lain yakni:

-          Dapat menurunkan harga perumahan sehingga kaum miskin dapat membelinya.

-          Proyek dapat direncanakan dengan lebih baik. Dengan cetak 3 dimensi, perusahaan bisa dengan cepat dan murah dalam membuat model visual proyek serta menghindari masalah dalam proses pembangunan.

-          Lebih efisien dalam pemenuhan ekspektasi klien. Ide pembangunan bisa tergambar jelas sehingga para klien yang awam sekalipun dengan arsitektur juga bisa mengerti. Teknologi ini dapat menyingkirkan presentasi desain dengan pensil dan kertas yang sudah ketinggalan zaman.

Apa saja yang Bisa Dibangun dengan 3D Printing?

Hunian di Belanda yang dibangun dengan cetak 3D. (AP Photo/Peter Dejong via Detik)
Hunian di Belanda yang dibangun dengan cetak 3D. (AP Photo/Peter Dejong via Detik)

Sebenarnya, pembangunan properti dengan mesin cetak 3 dimensi telah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Mei 2014, sebuah proyek di Belanda berhasil menyelesaikan sebuah rumah yang dibuat dengan teknologi 3D printing secara penuh.

Bulan berikutnya, perusahaan asal Tiongkok, Qingdao Unique Products Develop Co meluncurkan printer 3D terbesar di dunia pada Konferensi dan Pameran Industri Teknologi Pencetakan 3D Dunia di Qingdao. Proyek pertama yang mereka bangun adalah sebuah kuil setinggi 7 meter.

Kemudian di Spanyol, jembatan penyeberangan pertama yang dibuat dengan teknologi 3D diresmikan pada 14 Desember 2016 silam. Jembatan ini dikembangkan oleh ACCIONA yang bertanggung jawab atas desain struktural, pengembangan bahan hingga pembuatan elemen cetakan 3D. Total panjang jembatan ini 12 meter dengan lebar 1,75 meter dan dicetak dengan beton bertulang mikro.

Printer 3D juga dimanfaatkan untuk mencetak sebuah jembatan yang diproduksi oleh D-Shape. Nah, jembatan ini berhasil mencerminkan kompleksitas yang mampu mengoptimalkan distribusi bahan serta memaksimalkan kinerja struktural. Kelebihannya, material bisa dihemat.

Jembatan lain yang dibangun dengan metode 3D printing adalah Alcobendas. Jembatan ini bahkan menjadi tonggak sejarah dalam sektor konstruksi dunia. Proyek ini menjadi teknologi cetak 3 dimensi terbesar pertama yang dilakukan di bidang teknik sipil dalam pembangunan ruang publik. Keren ya?

Sayangnya, di antara sekian banyak potensinya, perkembangan 3D printing mungkin nggak akan mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil dalam industri konstruksi atau menghilangkan human error dalam pembangunan. Meski begitu, bisa dipastikan bahwa teknologi ini menghadirkan peluang yang menjanjikan bagi para pekerja industri konstruksi. Lingkungan bisa dijaga, biaya bisa ditekan, dan tentunya keuntungan bisa berlipat.

Sampai sekarang, penelitian dan perkembangan 3D printing masih terus berkembang. Ada banyak hal yang perlu dinantikan untuk melihat bagaimana aplikasi teknologi ini akan memengaruhi industri pembangunan properti secara keseluruhan. Jadi, sudah nggak zaman kan membangun hunian dengan mengesampingkan lingkungan? (Fomustudio/IB21/E07)