Nasib Pilu Pekerja Indonesia di Malaysia dalam Badai Corona

Nasib Pilu Pekerja Indonesia di Malaysia dalam Badai Corona
Malaysia memberlakukan lockdown pada 31 Maret lalu untuk mencegah penyebaran Covid-19. (AP/Vincent Thian)

Pekerja Indonesia yang bekerja di Malaysia mengalami kesulitan hidup di masa pandemi virus corona. Ketidakjelasan gaji, pemenuhan kebutuhan sehari-hari, hingga sulitnya akses transportasi bagi mereka yang pengin pulang menjadi perkara yang nggak sepele.

Inibaru.id – Pemerintah Malaysia terhitung menerapkan lockdown lebih dari satu bulan yang lalu, terhitung sejak 31 Maret. Dalam kondisi lockdown itulah banyak pekerja yang mengalami ketidakjelasan nasib, khususnya para Warga Negara Indonesia yang bekerja di Malaysia.

Dua di antaranya dialami oleh Anjang dari Purwokerto dan Galang dari Rembang. Keduanya bekerja sebagai buruh sambung pipa, proyek pekerjaan dari Kerajaan Malaysia. Dihubungi secara daring, Rabu (29/4) lalu, Anjang tengah berada di sebuah tempat penampungan di Sarawak bersama para pekerja lain yang bernasib sama.

Dia menuturkan jika nasib pekerja dari Indonesia susah. Kerajaan Malaysia pernah menjanjikan akan menjamin gaji TKI, tapi belum terealisasi.

Anjang mempertanyakan solusi dari pemerintah Indonesia dan Malaysia yang belum memberikan bantuan, termasuk Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), Kuching, Sarawak. “Ya, kalau saya sih gimana lagi terpaksa bertahan di sini,” tutur pemuda yang sudah setahun bekerja di Malaysia tersebut.

Para pekerja ini baru dapat bantuan KJRI berupa sembako pada Minggu (3/5) lalu. (Dok. Anjang)
Para pekerja ini baru dapat bantuan KJRI berupa sembako pada Minggu (3/5) lalu. (Dok. Anjang)

Berbeda dengan Anjang, Galang lebih bernasib baik karena bisa kembali ke kampung halaman. Awalnya Galang mengira lockdown yang diberlakukan Malaysia nggak lama, tapi nyatanya diperpanjang sehingga memaksanya pulang.

“Saya dan teman-teman belum pernah mendapatkan bantuan dari KJRI," tutur laki-laki asal Rembang ini.

Lockdown benar-benar membuat para buruh migran ini nggak bisa berbuat banyak. Banyak yang berharap dapat kembali ke kampung halaman. Sebenarnya, Anjang dan kawan-kawan bisa mengikuti jejak Galang untuk pulang dengan bantuan KJRI. Tapi ketika sampai Pontianak dan keluar Pulau Kalimantan mereka harus menghadapi persoalan baru. Nggak ada jadwal penerbangan di bandara Tanah Air.

Setelah Anjang dan kawan-kawan terlantung-lantung cukup lama, KJRI akhirnya memberikan bantuan berupa sembako pada Minggu (3/5) lalu. Anjang mengaku, setiap orang mendapat bantuan berupa beras 5 Kg, gula 1 Kg, mi instan 3 bungkus, dan satu kaleng sarden.

“Iya, Alhamdulillah dapat bantuan dari KJRI. Sekarang masih bisa makan, besok sudah bingung lagi. Tunggu keputusan sampai tanggal 12 Mei, mau dilanjut atau sudah lockdown-nya (di Malaysia). Ya kebanyakan pekerja di sini yang pulang ke Indonesia itu bawa uang cuma pas-pasan,” tandasnya.

Semoga ada solusi dari pemerintah Indonesia dan Malaysia untuk para pahlawan devisa ini ya, Millens! (Isma Swastiningrum/E05)