Namanya Sering Dicatut untuk Debat Politik, Gus Mus Lelah dan Hanya Bisa Memaafkan

Namanya Sering Dicatut untuk Debat Politik, Gus Mus Lelah dan Hanya Bisa Memaafkan
Nama Gus Mus sering disalahgunakan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Belakangan, beredar narasi dalam bentuk puisi atau video yang mencatut nama Gus Mus. Narasi-narasi ini dibuat untuk kepentingan politik atau kelompok tertentu yang menumbuhkan kebencian atau memojokkan pihak lain. Gus Mus sangat kecewa dengan hal ini.

Inibaru.id - Ulama yang dijadikan anutan banyak umat yakni KH. Mustofa Bisri atau yang lebih akrab dengan “Gus Mus” hanya bisa melapangkan dada ketika tahu namanya kerap dicabut di media sosial belakangan ini. Tulisan yang berbau politis dengan tendensi kebencian dan umpatan kerap disandingkan dengan nama Gus Mus. Padahal, Gus Mus sama sekali nggak terkait dengan narasi-narasi tersebut.

"Abah sudah capek, lelah sampai mengelus dada dengan banyaknya tulisan yang tersebar di media sosial dimana disebutkan tulisan itu adalah tulisan Abah," tegas Ienas Tsuroiya, salah satu putri Gus Mus, Senin (14/12/2020).

Ienas menuturkan kalau konten yang mencatut nama Gus Mus biasanya soal politik, ada unsur kebenciannya, menjelekkan dan memojokkan satu sama lain. Bahkan, ada yang sampai mengumpat. Kadang cuma tulisan seperti puisi, kadang ada juga video. Hal-hal seperti itu tentu sangat berbeda dengan yang Gus Mus lakukan selama ini.

Di mata Ienas, Gus Mus adalah sosok penyabar dan pemaaf. Gus Mus juga nggak akan mengeluh bila nggak ada aksi berlebihan.

Gus Mus hanya bisa memaafkan. (Medcom)<br>
Gus Mus hanya bisa memaafkan. (Medcom)

"Jangankan Abah yang langsung memegang sendiri akun medsosnya. Kita yang keluarga, putra-putrinya sampai menantunya juga diuber untuk dimintai konfirmasi atau klarifikasi. Malah tak jarang kalau kita justru yang kemudian ikut di-bully, ini gimana," tambah Ienas.

Kepada Ienas, Gus Mus, yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, inipun sempat curhat tentang kejengkelannya.

"Abah itu saking jengkelnya sampai menyebut bilang begini: Lebih baik tulisan atau puisiku dicatut dipakai nama orang lain daripada tulisan orang lain dicatut memakai namaku," terang Ienas mengulang kembali apa yang disampaikan Gus Mus.

FYI nih, Millens, nama Gus Mus belakangan dicantumkan dalam tulisan tentang FPI. Pada akhir tulisan itu tertulis nama "KH. Mustofa Bisri" dengan tempat dan tanggal "Sidoarjo, 19 November 2020".

Menanggapi kabar  tersebut, Gus Mus lalu pada 1 Desember 2020 memposting tulisan berjudul “Tabayyun” di akun Facebook, Instagram dan Twitter miliknya.

Ienas punya pemahaman kalau ayahnya punya ciri khas setiap kali menuliskan kalimat atau status, sehingga mereka yang mengenal dekat dengan Gus Mus pasti langsung tahu itu tulisan Gus Mus atau bukan.

Meski demikian, Ienas nggak mau menyebut ciri khas identitas tersebut karena akan dapat dicontoh kembali oleh mereka yang asal catut dan nggak bertanggung jawab.

"Ada satu yang khas dari setiap tulisan Abah. Yang kenal dekat dengan Abah pasti tahu. Tapi enggak akan saya ungkapin, karena nanti bisa dijiplak, dicatut juga", ujar Ienas.

Wah, menyematkan nama seseorang di perkataan atau tulisan yang bukan miliknya untuk kepentingan sendiri sama saja dengan memfitnah ya, Miilens. (Cnn/IB28/E07)