Mural si Bisnis Manis Seni Lukis

Jika dulu mural hanya dikenal sebagai media yang digunakan seniman untuk mengkritik, kini mural menjelma sebagai pemanis sudut kota dan kafe. Seni tersebut bahkan amat populer di kalangan anak muda.

Mural si Bisnis Manis Seni Lukis
Seni mural kini semakin diminati masyarakat. (Zam-Zam)

Inibaru.id – Deretan mural pada tembok pinggir jalan di sejumlah kota besar menjadi pemandangan yang lumrah saat ini. Nggak hanya itu, beberapa kafe pun mulai menghias temboknya dengan seni lukis satu ini. Berbagai alasan mendasari kehadiran mural pada tembok-tembok itu. Salah satu alasan yang paling populer yakni agar terlihat Instagramabel.

Hal itu membawa berkah tersendiri bagi para seniman mural. Saat ini, menjadi seniman mural nggak sekadar hobi, tapi juga sarana untuk menggantung hidup. Salah satu seniman mural yang menikmati keuntungan itu yakni Puthut Aldoko Wilis. Lulusan Arsitektur Universitas Katolik Soegijapranata Semarang itu mengaku memilih fokus pada seni mural ketimbang bekerja sebagai arsitek untuk saat ini.

“Saya sempat mencoba ikut proyek arsitektur di konsultan selama dua bulan. Namun, saya justru lebih nyaman menjadi seniman. Ya sudah, saya berjalan sebagai seniman dulu,” jelas laki-laki yang kerap disapa Bobo itu.

Pemilik Lare Studio itu mengaku saat ini dirinya kebanjiran pesanan untuk membuat mural. Permintaan itu didominasi warung-warung kuliner. Bobo bahkan pernah menggarap mural untuk sebuah kafe di Samarinda pada 2015 lalu.

Baca juga: Menilik Mural di Dinding Kafe

“Alhamdulillah permintaan mural sampai saat ini tinggi. Biasanya permintaan mural selalu berlanjut. Misalnya proyek yang satu masih digarap, nah di tengah-tengah sudah ada lagi yang memesan. Kita bersyukur banget nggak pernah nunggu lama,” katanya.

Hal serupa juga dialami dua seniman mural lain, yaitu oleh Arief Hadinata dan Zam-Zam. Kedua seniman itu mengawali kariernya di bidang grafiti. Namun, saat ini mereka lebih banyak menekuni mural.

Arief mengungkapkan, melalui mural dirinya dapat memenuhi kebutuhan hidup hingga saat ini. Laki-laki asal Batang itu bisa mengantongi uang yang lumayan dari sepetak mural. Dia biasanya mematok harga sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu per meter persegi.

Masalah kualitas, Arief berani menjamin hasil karyanya. Dia memiliki cara tersendiri untuk meyakinkan para pemesan jasanya.

 “Saya terus berusaha untuk meningkatkan kualitas. Sebisa mungkin, setiap tahun membuat pameran atau buat proyek, jadi klien akan merasa tenang karena saya siap menjamin kualitas mural buatan saya,” terang Arief.

Berbeda dengan Arief, Zam-Zam, lulusan seni rupa, UPI Jawa Barat, justru mengaku nggak terlalu menggantungkan diri dengan seni mural. Kendati mendapat banyak tawaran, dia tetap menjalankan profesi lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Baca juga: Menengok Seni Mural, Antara Hobi dan Profesi

Wah, ternyata berprofesi sebagai seniman mural cukup menjanjikan ya, Millens. Selain bisa mempercantik suatu tempat, kamu juga bisa mengumpukan rupiah dari bisnis itu. Keren! Semoga para seniman mural bisa terus menyalurkan kreativitas di tembok-tembok kosong. (MEI/IF)